
Pembicaraan keduanya berlangsung cukup lama, tanpa disadari Nirina pun merasa akrab dengan Satria karena menurut Nirina Satria sangat asik diajak bicara kesana kemari, tidak seperti Ferdian yang selalu serius dalam segala hal.
Dari kejauhan ketiga anaknya Melihat rona wajah sang bunda yang terlihat sangat bahagia saat sedang bicara di telpon, mereka semua mengira jika Nirina sedang bicara dengan papanya.
"Pasti bunda sedang bicara dengan papa? Ayo kita kesana?"
Ajak Devan yang ingin menyapa papanya.
"Papa papa"
Teriak Devan memanggil Ferdian pada Nirina, dan itu sangat membuat Nirina terkejut.
Seketika ponsel Nirina pun terjatuh dan membuat ponselnya mati.
"Bunda kenapa terkejut? Devan kan hanya ingin bicara dengan papa?"
Ucap Devan pada Nirina,
"Hah...papa
Ya papa sedang sibuk nak, nanti dia akan menelpon lagi, ponsel bunda jatuh loh, Devan sih ngagetin bunda"
Jawab Nirina berbohong pada Devan, ekspresi wajahnya pun nampak gugup dan sedikit berkeringat.
"Astaga ada apa denganku, sadar Nirina sadar kamu itu sudah mempunyai suami, tidak seharusnya kamu bicara dengan pria lain"
Kata hati Nirina mengingat dirinya dan Satria.
"Yah papa, yasudah deh biar nanti Devan tunggu papa telpon lagi"
Devan memang sangat dekat dengan Ferdian, jadi wajar saja jika setiap waktu dia selalu menanyakan keadaannya.
...
Spaghetti ala Citra dan Marina pun sudah siap, mereka menghidangkannya di meja makan,
"Pertama bunda dulu yang harus coba spaghetti buatan kita?"
Ujar Marina pada Nirina.
Dengan senyum dan antusias, Nirina pun coba menyicipi masakan mereka dengan senang hati, satu suapan berhasil masuk kedalam mulutnya dan
"MMM luar biasa ya, coba deh Devan, kamu makan dulu sedikit"
__ADS_1
Jawab Nirina saat mencoba menyicipi masakan kedua anaknya itu.
"Asin bunda"
Teriak Devan menahan satu sendok yang masuk di mulutnya, Nirina pun tertawa melihat tingkah Devan yang menggemaskan, sedangkan kedua makanya juga ikut tertawa geli melihat adiknya.
Mereka pun sangat bahagia meski dengan masakan yang keasinan.
***
Ferdian yang kala itu sedang dirundung kegundahan yang luar biasa dengan dua pilihan yang diberikan Mrs Shinta padanya coba membagi masalahnya dengan Wisnu, tangan kanan Ferdian yang sangat dia percayai.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang nu, aku sangat bingung sekali"
Ucap Ferdian pada Wisnu,
Wisnu sendiri tahu semua masalah yang sedang Ferdian hadapi, karena dia sudah bekerja padanya sejak sekian lama, bahkan sebelum Ferdian menjabat sebagai CEO di perusahaan ayahnya Nirina itu.
Karena saking larut dalam kegundahannya, Ferdian sampai lupa dengan kejutan yang akan dia berikan untuk Nirina sebagai permintaan maafnya karena telah berkata kasar tadi pagi.
"Saya tidak akan memberi kamu satu keputusan yang harus kamu ambil, tapi saya hanya ingin mengingatkan saja, pikirkanlah semua dengan baik dan hati yang tenang, apa yang lebih baik kamu putuskan, saya akan selalu mendukung setiap keputusan kamu"
Jawab Wisnu coba mendukung Ferdian untuk semua masalah yang sedang dia hadapi sekarang.
Diantara dua pilihan yang Mrs Shinta berikan padanya mempunyai resiko yang sama besarnya, dan itu yang membuat Ferdian kini dirundung kegelisahan.
Saran Wisnu pada Ferdian untuk bicara terus terang pada Nirina.
"Dia tidak akan pernah menyetujui semua itu nu, aku yakin, aku sendir saja tidak berani untuk bicara ini padanya, apalagi sampai dia mengijinkan aku untuk menikah dengan wanita lain, rasanya terasa aneh "
Jawab Ferdian.
...
Malam pun tiba, tidak ada satu pesan pun dari Ferdian walaupun hanya untuk sekedar menanyakan keadaan Devan, Nirina pun merasa aneh, apa mungkin terjadi sesuatu pada suaminya itu? Sehingga dia tidak bisa menghubungi dirinya?
Nirina pun coba melihat history dan status di media sosial Ferdian, semuanya memang tidak aktif, itu artinya Ferdian mungkin memang sedang sibuk saat ini.
"Baiklah, biar besok aku hubungi mas Ferdian"
Ujar Nirina sebelum terlelap.
Dan disaat dia memejamkan mata, satu pesan dari Satria kembali masuk ke akunnya.
__ADS_1
"Good night to Nirina semoga mimpi indah"
Pesan yang cukup membuat senyum di wajah Nirina terukir manis.
"Thank for u , mimpi indah juga buat kamu"
Balas Nirina pada Satria.
Kemudian Nirina pun mematikan ponselnya dan tertidur, karena itulah kebiasaan Nirina, dia tidak akan tidur sebelum mematikan ponselnya, karena jika dia terus menyalakan ponselnya, dia tidak akan pernah tidur nyenyak.
***
"Ayo sayang, kita masuk kedalam"
Ajak Satria pada Nirina yang menggunakan dress berwarna marun keemasan,
Satria mengajak Nirina untuk berdansa romantis dibawah langit malam yang penuh dengan bintang, dengan sinar cahaya rembulan menjadi penerang.
Keduanya sangat menikmati setiap alunan syahdu lagu yang menggema untuk setiap gerakannya.
"Kamu sangat cantik sekali Nirina"
Ucap Satria memuji kecantikan Nirina malam itu.
Nirina pun tersipu malu dan berterimakasih karena telah memujinya.
Alunan lagu malam semakin membawa keduanya larut dalam pelukan hangat yang menggairahkan,
Satu kecupan mendarat di bibir Nirina yang tipis,
Nirina pun menikmati kecupan yang diberikan Satria padanya, kecupan yang sekian lama tidak pernah dia rasakan dari Ferdian selama ini.
Nirina pun membalas setiap kecupan Satria dengan trus menggenggam tangannya mengikuti alunan musik yang mengiringi dansa romantis mereka.
Kecupan demi kecupan terus mereka nikmati bersama semilir angin yang berhembus meminta mereka berpelukan untuk saling menghangatkan satu sama lain.
Dalam pelukan mereka masih terus bercumbu tanpa henti, hingga akhirnya Ferdian datang dengan kemarahan yang sangat luar biasa.
"Nirina"
Teriak Ferdian berlari menuju Nirina dan melepaskan pelukan Satria pada istrinya itu.
"Kurang ajar ya kamu, beraninya kamu menyentuh istriku"
__ADS_1
Ferdian memukul Satria tanpa mengampuninya,
Satria pun babak belur dan terluka di setiap tubuh dan wajahnya karena pukulan Ferdian padanya.