
Melihat dapur yang masih berantakan, Satria pun masuk dan coba merapikan semua piring kotor yang masih berserakan diatas meja, Nirina sangat terkejut dan langsung meminta Satria untuk duduk saja.
"Tidak usah Satria biar aku saja, tadi saya memang tidak sempat membersihkan semuanya karena terburu mengantarkan anak-anakku"
"Tidak apa-apa saya sudah terbiasa ko, keseharian ku kan di dapur jadi melihat semua ini rasanya tanganku tidak bisa berhenti ingin merapikannya"
Jawab Satria dengan senyumnya yang menggoda Nirina.
Dengan perasaan malu, Nirina pun membalas senyum Satria, dia tidak bisa memaksa Satria untuk berhenti membantunya memberikan dapur, hingga akhirnya Nirina pun ikut membantunya mencuci piring, keduanya terlihat sangat kompak satu sama lain.
...
Nirina pun merasa asyik dengan semua ini, kesepian yang selalu dia rasakan kala sendiri di rumah perlahan memudar menjadi kebahagiaan jika ada Satria.
Dan perlahan hubungannya semakin hari semakin dekat, setiap waktu Satria selalu menghubunginya hanya untuk menanyakan kabar Nirina atau coba menawarkan makanan untuk dirinya dan ketiga anaknya.
Bahkan untuk tiga hari ini sepulang Nirina mengantar ketiga anaknya, Satria selalu datang ke rumah Nirina untuk sekedar bertemu melepas rindu dan memasak makanan untuknya.
Keahlian Satria bermain di dapur membuat Nirina kagum setiap melihatnya.
Karena jarang sekali dia melihat langsung seorang chef pria memasak.
Nirina merasa di perlakukan seperti ratu oleh Satria.
"Makanannya sudah siap nona manis"
Ujar Satria pada Nirina dengan membawakan sepiring makanan lezat ala Korea buatan Satria.
"Terimakasih "
Jawab Nirina dengan senyum manisnya, tak lupa Satria juga selalu memasak untuk ketiga anaknya Nirina, hingga akhir akhir ini Devan, citra, dan Marina merasa masakan bundanya itu beda dari biasanya, karena mereka merasa masakan bundanya akhir-akhir ini lebih lezat dari biasanya.
Saat Nirina menceritakan semua itu pada Satria dia hanya tersenyum menatap Nirina dalam.
__ADS_1
"Bunda bunda, ini benar bunda yang masak ya, ko rasanya kaya masakan di restauran? Lucu loh jika kamu melihat ekspresi Devan saat bertanya seperti itu, dia sangat lahap sekali setiap makan masakan kamu"
Cerita Nirina pada Satria dengan sangat bahagia dan penuh dengan tawa yang lepas.
"Kamu bahagia?"
Tanya Satria serius.
"Tentu saja aku bahagia, semenjak kamu hadir di hidupku, entah kenapa hari hariku terasa indah, terimakasih ya Satria, kamu sudah mau menjadi sahabatku"
Jawab Nirina yang ternyata menganggap Satria sebagai sahabatnya.
Rasa kecewa sangat Satria rasakan kala mendengar Nirina menyebutnya sahabat, padahal dihatinya Nirina kini menjadi wanita yang paling istimewa.
Dan sebenarnya, Nirina juga merasa aneh saat dia mengatakan jika Satria adalah sahabatnya.
Karena sebenarnya Nirina pun memang sudah mulai mencintai Satria, namun dia sadar jika dia adalah istri dari pria lain, tidak seharusnya dia memiliki perasaan cinta selain pada suaminya.
Melihat raut wajah Satria yang nampak kecewa, Nirina pun memegang tangan Satria dan bertanya ada apa dengannya? Mengapa dia nampak sedih.
Satria pun membalas pegangan tangan Nirina dengan menggenggam kedua tangan Nirina dan menatap wajahnya.
Seketika jantung Nirina pun kembali berdegup kencang kala Satria menatapnya dalam.
"Jantungku, hah, mengapa jantungku berdegup sangat kencang saat Satria menatapku? Satria"
Ucap hati Nirina membalas tatapan Satria padanya dengan detak jantung yang tidak beraturan.
"Kamu mungkin menganggap aku sahabat, tapi asal kamu tahu, kamu adalah wanita yang paling istimewa di hidupku kini"
Ucap Satria mencurahkan segala isi hatinya pada Nirina yang tidak pernah dia duga.
Nirina sangat terkejut dengan semua yang Satria katakan padanya, seketika air matanya menetes melihat kesungguhan Dimata Satria padanya, kesungguhan cinta Satria dimatanya terlihat sangat dalam, dan Nirina bisa merasakan semua itu.
__ADS_1
"Tapi, ini tidak benar Satria,"
Nirina coba melepaskan genggaman tangan Satria padanya, namun Satria enggan melepaskannya.
Hingga akhirnya Nirina pun berdiri dan meminta Satria untuk melepaskan tangannya.
Nirina mengatakan jika dirinya seorang istri, tidak mungkin dia bisa mencintai pria lain meskipun hatinya memang mengakui jika dia juga sudah jatuh hati padanya.
"Lepaskan aku Satria aku mohon, aku bukan wanita yang pantas untuk kamu istimewa kan, karena aku adalah wanita dari pria lain, aku sudah bersuami, dan kamu sendiri tahu itu. Harus aku akui hatiku memang mulai jatuh hati padamu, tapi aku sadar itu perasaan yang salah, mohon mengerti aku lepaskan tanganku".
Jawab Nirina pada Satria terus memintanya untuk melepaskan tangannya.
Namun saat keduanya berdiri, Satria justru menarik lengan Nirina dan memeluknya erat,
"Aku sangat mencintaimu, aku sangat mengagumimu, tolong jangan kecewakan aku, aku mohon"
Bisik Satria saat memeluk Nirina membuatnya kembali meneteskan air mata.
Nirina sangat menikmati pelukan Satria yang begitu sangat mencintai dan mengaguminya.
Nirina tidak bisa menahan dirinya jika dia juga mencintai Satria hingga Nirina pun membalas pelukannya dengan erat.
Keduanya menangis dalam satu pelukan atas nama cinta yang mungkin tidak bisa digapai.
"Jangan menangis sayang, aku minta maaf, aku tidak ingin membuatmu sedih".
Ucap Satria mengusap air mata Nirina yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalas cinta Satria padanya.
Nirina pun semakin merasakan jika cinta Satria tulus padanya, karena melihat dia menangis, Satria begitu sangat terluka.
Nirina pun coba sedikit tersenyum agar Satria tidak mencemaskannya.
"Aku rela menjadi yang kedua asal kamu bahagia bersamaku"
__ADS_1