
Dengan senyumnya yang dingin Mrs Shinta pun mengatakan jika Ferdian sama dengan ombak, dia nampak terlihat indah namun ternyata jahat dan menghanyutkan, ombak akan membinasakan siapapun yang datang dalam pelukannya.
Ferdian pun hanya tersenyum mendengar semua jawaban Mrs Shinta, ia tidak menganggap serius semua ucapannya,
"Ya ombak memang jahat tapi pada saat dia marah dan itu ada sebabnya bisa karena faktor cuaca atau pergeseran tanah, namun ombak pun juga kan tenang dan bersahabat dengan mereka yang mampu meluluhkan dan mengalahkannya."
Keduanya pun tersenyum dan diam dalam keheningan angin pantai.
"Sudahlah sekarang aku ingin bertanya? Kapan kita akan balik ke Batam? Sudah cukupkah liburan kita ini?"
Tanya Ferdian pada Shinta.
"Menurutmu? Apa kamu sudah puas dengan liburan kita?"
Shinta balik bertanya.
Ferdian pun mengatakan jika dirinya sudah cukup merasa puas dengan semua malam berdua mereka.
"Kamu masih ingatkan dengan kesepakatan kita?"
Tanya Ferdian kembali mengingatkan Shinta akan semua kesepakatan pekerjaannya.
Tentunya Shinta juga tidak melupakannya jika Ferdian setuju menikahinya hanya karena kesepakatan kerja, Shinta pun menyadari jika surat kesepakatan yang dia tandatangani dulu adalah sebuah surat kontrak nikah dirinya yang hanya berjalan selama 3 bulan,
Dan tanpa Ferdian sadari, Shinta tidak sebodoh yang dia kira, surat kontrak nikah yang ditandatangani dia rubah menjadi 6 tahun.
Dengan senyum penuh niat Mrs Shinta pun mengatakan jika semua sudah beres,
"Kamu hanya tinggal duduk manis, maka proyek kita akan berjalan sesuai rencana"
"Kalau begitu sekarang juga kita bersiap untuk kembali ke kantor, sudah seminggu kita tidak melihat keadaan kantor kita"
Shinta pun ikut dengan Ferdian, dan kembali pada rutinitas pekerjaan mereka masing-masing.
Didalam mobil, Shinta mengingatkan Ferdian untuk pulang ke rumahnya.
"Ingat ya, sepulang dari kantor, kamu harus pulang ke rumahku, aku punya hadiah istimewa untuk kamu"
Ucap Shinta pada Ferdian.
Ferdian hanya mengangguk tanpa menjawab.
Shinta bisa mengerti dengan sikap cuek Ferdian, itu sebabnya sebisa mungkin dia harus selalu berada di sampingnya agar Ferdian merasa terbiasa dengan dirinya.
Dan didalam hati Ferdian, kerinduan yang mendalam akan anak dan istrinya sudah tidak mampu lagi dia bendung.
Ferdian begitu rindu dengan Nirina, ingin sekali dia mendengar suaranya dan setiap perhatiannya.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang, aku berjanji, setelah 3 bulan ini akan aku akhiri semuanya"
Ucap hati Ferdian akan janji untuk secepatnya kembali pada Nirina dan ketiga anaknya.
Ferdian pun akhirnya tiba di kantornya, disana Wisnu nampak sibuk menggantikan tugasnya.
Ferdian pun merasa bersalah.
"Ingat ya, jangan lupa pulang ke rumah"
Mrs Shinta kembali mengingatkan.
"Baiklah nona"
Jawab Ferdian singkat pada Mrs Shinta Tan.
Wisnu melihat kedatangan Ferdian dari kejauhan, dia pun langsung menghampiri dan menanyakan keadaannya.
"Apa semua baik-baik saja pak?"
Tanya Wisnu pada Ferdian seolah mencemaskan keadaannya.
Ferdian pun mengatakan jika dirinya dalam keadaan baik, namun hatinya yang sedang tersiksa dengan keadaan ini.
"Wisnu, apa kamu bisa kembali ke Jakarta untuk 3 hari ini, aku ingin kamu melihat keadaan keluargaku disana apakah mereka baik baik saja?"
Wisnu pun justru bertanya mengapa bukan dirinya yang langsung menemui mereka, karena mereka pasti sangat merindukan Ferdian.
"Urusanku disini belum selesai, kamu tahu sendiri bagaimana liciknya Shinta, aku tidak ingin semua hancur gara gara satu kesalahanku menemui istri dan ketiga anakku"
Wisnu paham betul dengan semua kecemasan yang sedang melanda atasannya itu, karena dalam kesepakatan Ferdian memang tidak boleh bertemu dengan Nirina dan anak-anaknya.
"Baiklah pak, besok saya akan berangkat ke Jakarta"
Mereka pun akhirnya kembali bekerja seperti biasa, dengan perasaan gelisah Ferdian bingung harus mengabari Nirina bagaimana?
Apa yang akan dia tanyakan terlebih dahulu, keadaannya? Atau apalah Ferdian jadi bingung tidak menentu karena rasa bersalahnya.
...
Nirina yang kala itu masih terbaring diatas tempat tidur membuka ponsel dan membaca pesan singkat dari Satria yang memintanya untuk tetap tenang untuk semua yang sudah terjadi,
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu walau hanya jadi yang kedua"
Pesan Satria membuat air matanya menetes.
Nirina merasa bersalah karena telah tergoda dan menghianati pernikahannya bersama Ferdian.
__ADS_1
"Aku tahu, suamiku memang tidak bisa memperhatikan aku dan memberi aku kasih sayang yang seutuhnya, tapi tidak seharusnya juga aku menghianati nya"
Tangis air mata Nirina menyesali semua yang sudah terjadi padanya dan Satria.
"Aku harus berbuat sesuatu, aku tidak bisa terus begini, aku harus hentikan semua meskipun sudah terlambat"
Pikir Nirina dalam tangisnya tidak ingin melanjutkan penghianatannya dengan Satria yang salah.
***
Keesokan paginya, seperti biasa pesan masuk dari Satria bermunculan hanya untuk sekedar menanyakan keadaan Nirina dan anak-anaknya.
Namun pagi itu, Nirina yang sudah berniat tidak ingin melanjutkan hubungannya dengan Satria tidak membalas satupun pesan darinya.
"Stop, aku harus bisa melupakan kisah ini"
Tekad Nirina.
Di lain tempat, Satria pun merasa heran mengapa Nirina tidak membalas pesan dan mengangkat telponnya.
"Tidak biasanya Nirina seperti ini? Ada apa dengannya?"
Pikir Satria akan Nirina.
Satria pun memutuskan untuk menemuinya seperti biasa setelah Nirina mengantar sekolah ketiga anaknya.
Devan yang melihat bundanya kembali vit mulai tersenyum dan bertanya apakah keadaan ibunya sudah membaik?
"Bunda sudah baik sayang, bunda sehat ko, bunda tidak apa-apa, lihat saja senyum bunda? Om fine lovely"
Senyum Nirina membuat semangat ketiga anaknya kembali tumbuh.
"Bunda tidak usah antar kita, aku ka Marina dan Devan biar naik ojek online aja Bun"
Ujar Citra pada Nirina.
"Loh kenapa kalian tidak mau bunda hantar, bunda masih kuat ko, justru jika kalian menolak bunda hantar, bunda akan sedih dan sakit lagi"
Ketiga anak pun memeluk Nirina dan mengucapkan terimakasih padanya seraya mencium pipi Nirina.
"Ayo kita berangkat"
Ajak Nirina.
Mereka semua menuju mobil hendak berangkat sekolah, dari kejauhan Wisnu yang saat itu sudah stay di Jakarta melihat semua pemandangan indah kebahagiaan Nirina dan ketiga anaknya pun langsung mendokumentasikannya untuk di kirim pada Ferdian.
Batin Wisnu pun terus berkata jika dirinya merasa bersalah untuk setiap penghianatan yang dilakukan Ferdian pada sahabat kecilnya itu, Nirina.
__ADS_1
Tapi apa daya dia tidak kuasa untuk mengatakan semuanya.