
Nirina tidak menyangka jika Satria bisa mengirimkan bunga mawar kesukaannya? Darimana dia tahu jika mawar adalah bunga kesukaannya? Dan mengapa Satria bisa tahu dengan semua kesedihannya sekarang?
Semua pertanyaan itu kini mengelilingi pikirannya.
Namun meskipun begitu, Nirina merasa bahagia dan kembali tersenyum dengan melihat bunga mawar merah pemberian Satria.
Sedikit kesedihannya perlahan memudar.
"Itu pasti dari ayah?"
Tanya Devan dengan riang mengira jika bunga itu adalah pengiriman dari sang ayah.
"Syukurlah ternyata papa berusaha untuk meminta maaf pada bunda"
Pikir Devan kala itu.
Mendengar pertanyaan Devan, Nirina bingung harus menjawab apa? Tidak mungkin dia katakan jika bunga tersebut pemberian dari laki-laki lain? Apa yang akan Devan pikirkan tentangnya nanti?
Nirina pun terpaksa membohongi Devan dengan menjawab
"Ya"
Tanpa banyak lagi ucapan kata yang terungkap dari bibirnya.
Nirina pun kembali menghirup dan mencium aroma mawar tersebut.
Nirina sangat bahagia, senyumnya pun kembali merekah di bibir mungilnya.
Devan pun ikut bahagia melihat ibunya kembali tersenyum.
Perasaan Nirina pun kini mulai tidak karuan dengan semua perhatian yang Satria berikan padanya.
"Astaga tidak boleh, aku sudah bersuami, aku tidak boleh merasa bahagia mendapat hadiah dari pria lain?"
Ucap hati Nirina coba menolak semua yang Satria berikan padanya.
"Jika mas Ferdian tahu, pasti dia akan sangat marah sekali, aku harus membuang bunga ini, jangan sampai suamiku tahu"
__ADS_1
Nirina hendak membuang bunga tersebut, tapi tidak di depan Devan.
Nirina pun bertanya apakah Devan sudah siap untuk pulang?
"Devan sudah siap bunda"
Keduanya akhirnya keluar dari rumah sakit menuju mobil yang sudah Nirina parkir.
"Ayo masuk nak?"
Nirina membuka kan pintu mobil untuk Devan, mereka pun akhirnya pulang dari rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Nirina terus berpikir tentang Satria, dia merasa sudah terlalu berlebihan, Nirina berencana untuk menghindari Satria.
Karena Nirina tidak ingin ada hal buruk yang terjadi padanya.
"Aku harus jaga jarak dengannya, atau kalau perlu, aku akan blok akunnya? Tapi bagaimana jika nanti dia bertanya mengapa aku tiba-tiba menghindarinya? Padahal kita kan hanya berteman, itupun hanya di media sosial"
Pikir Nirina kembali tentang Satria.
"Bun..
Bunda..
Bunda"
Teriak Devan pada Nirina.
"Ya ada apa Satria?"
Jawab Nirina tidak sadar mengucap nama Satria pada Devan.
"Satria? Satria baja hitam? Bunda kenapa sih, dari tadi Devan minta ibu berhenti di toko donat itu, Devan mau donat"
Devan merengek marah pada Nirina karena tidak berhenti untuk membeli donat.
Namun dia tidak curiga kepada ibunya akan nama Satria yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Astaga apaan aku ini, untunglah Devan tidak mencurigai ku?"
Hampir saja Nirina ketahuan oleh Devan, tapi untunglah Devan tidak menyadarinya,
Nirina pun meminta maaf dan memutar balikan mobilnya menuju toko donat kesukaan Devan.
"Maafkan bunda ya nak? Bunda tadi sedang fokus"
"Fokus sama Satria?"
Jawab Devan singkat.
Dug
Jantung Nirina seketika berdetak kencang kala mendengar Devan menyebut nama Satria.
"Satria baja hitam, hehe"
Lanjut Devan dengan tawanya yang puas membuat bundanya terkejut.
"Devan..."
Teriak Nirina dengan membalas tawanya, sambil menggelitik Devan.
Keduanya pun kini tertawa bahagia.
***
Saat ini Ferdian sedang melakukan meeting penting dengan klien nya, sehingga rencananya untuk memberi kejutan untuk Nirina terpaksa harus dia tunda dahulu.
"Biar nanti aku coba minta bantuan anak-anak untuk membuat kejutan untuk Nirina, saat ini aku harus meeting penting dengan Mr Joe"
Ferdian pun segera bergegas menuju kantor.
Ferdian sudah terbiasa mandiri, karena dia sering keluar bekerja sendiri, sehingga dia sudah terbiasa merapikan dan menyiapkan pakaian kantornya tanpa bantuan sang istri.
Tapi meskipun begitu, sempat terbesit dihati Ferdian ketika dia sedang merasa lelah, Ferdian pernah ingin memiliki istri simpanan untuk sekedar melayani dirinya saat bepergian keluar kota, namun niat itu kembali dia urungkan karena cintanya pada Nirina terlalu besar.
__ADS_1