
Langit seakan runtuh, petir serasa menyambar hati Nirina kala mendengar semua yang Marina ceritakan pada Satria mengenai suami tercintanya.
Air mata Nirina pun mulai menetes mengingat semua itu, dia tidak menyangka jika semua memang benar terjadi,
"Apa yang kamu lakukan mas, tega sekali kamu menghianati aku, apa salah aku mas Ferdian?"
Tanya hati Nirina menangis mengingat Ferdian yang mengkhianatinya.
"Tidak, ini tidak mungkin, pasti Marina salah, tidak mungkin mas Ferdian menghianati aku, di sangat mencintai aku dan anak anak, dia tidak akan pernah menduakan aku, bahkan melihat aku terluka pun dia tidak tega"
Ucap hati Nirina kembali membela suaminya itu.
Nirina terus menangis, dia tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini, yang dia pikirkan hanyalah Wisnu,
"Ya, dia pasti tahu semua kebenarannya, aku harus menemui Wisnu sekarang juga"
Ucap Nirina memutuskan untuk pergi tanpa memberitahu Marina dan Satria yang masih berada di dalam kamar.
Nirina pun segera pergi dengan menggunakan taksi yang lewat di depan rumahnya, dengan menahan sakit hati dan air mata nya Nirina berusaha tegar.
"Kenapa kamu juga tidak bisa aku hubungi selama 3 bulan ini mas, kemana kamu sebenarnya? Apa memang benar jika kamu sudah menikah lagi?"
Sepanjang jalan Nirina terus menangis dan berpikir negatif akan suaminya itu.
Satu pesan pun masuk dari Satria menanyakan keberadaannya.
__ADS_1
"Kamu pergi kemana?"
Pesan Satria.
"Aku pergi keluar sebentar mas, aku titip Marina dulu ya, tidak lama ko"
Satria seolah tahu jika saat ini Nirina sedang dalam keadaan yang tidak baik, karena tidak biasanya dia pergi tanpa memberitahu dirinya meski ada di dalam rumah, dia pun coba menghubunginya namun tidak ada jawaban.
Satria pun coba melacak keberadaan Nirina dari GPS di ponselnya, Satria melihat Nirina menuju ka arah kantor Ferdian.
"Mau kemana Nirina sebenarnya? Kenapa disini arahnya menuju ke kantor Ferdian? Mau apa dia kesana?"
Tanya hati Satria saat melihat keberadaan Nirina.
"Oh ya, kamu sudah minum obatnya, sebentar om ambilkan dulu airnya ya, bunda kamu pergi keluar sebentar, katanya ada yang harus dia beli, jadi tidak sempat pamit sama kamu"
Ucap Satria coba menutupi kepergian Nirina yang tiba-tiba ada Marina.
"Ia om terimakasih"
Jawab Marina yang masih lemah, Satria pun datang dengan segelas air putih untuk Marina meminum obat setelah makan, Marina sangat malas sekali jika sudah berhadapan dengan obat, dia juga bicara pada Satria jika dirinya tidak mau meminum obat.
"Marina istirahat aja om, Marina tidak mau minum obat, GK enak pahit".
"Jika kamu tidak makan obatnya lalu bagaimana kamu mau melindungi bunda kamu jika sesuatu terjadi padanya nanti? Kamu harus sembuh dan kembali kuat untuk bunda kamu agar dia tidak pernah sedih sedikitpun "
__ADS_1
Pesan Satria terasa mengena dihati Marina mengingat saat ini dia memang harus menjaga hati bundanya jangan sampai bundanya tahu jika papanya sudah menghianati dirinya dan keluarganya, Marina pun terdiam dan
"Baiklah om, Marina mau minum obatnya"
Satria pun tersenyum melihat Marina yang tadinya tidak mau minum obat, sekarang dia sendiri yang meminta air untuk minum obatnya.
"Kamu dan bunda kamu sangat percis sekali dengan adik om, perhatian, kadang nyebelin, jahil, periang dan baik hati, dia sangat baik pada setiap orang sama seperti bunda kamu, dia sangat cantik dan polos".
Ucap Satria yang mulai teringat kembali akan sosok Asri.
"Lalu adik om kemana sekarang? Om rindu ya sama adik om?"
Tanya Marina.
Satria pun sedikit merenung dan terdiam sejenak saat Marina bertanya tentang keberadaan Asri.
"Adik om sudah pergi jauh, dia sudah terbang jauh bersama takdirnya meninggalkan om sendirian"
Jawab Satria dengan nada melow, Marina pun menyadari maksud dari jawaban Satria, hingga dia pun meminta maaf karena membuatnya sedih dengan kerinduannya pada sang adik yang sudah tiada.
"Maafkan Marina om, bukan maksud Marina membuat om sedih?"
Ucap Marina meminta maaf, Satria pun segera menepis jika semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Keduanya pun kini kembali bertukar cerita satu sama lain hingga akhirnya Marina pun mulai mengantuk karena efek obat dari dokter.
__ADS_1