
Bak tersambar petir di siang hari,
Hati kecil Marina remuk dan patah saat mendengar semua yang Wisnu bicarakan dengan sang ayah.
Dunianya pun seakan hancur dan runtuh, dia tidak menyangka jika sosok panutan dalam hidupnya tega dan berani menghianati keluarganya sendiri demi wanita lain.
"Papa... Tidak mungkin pasti ini hanya mimpi"
Marina coba menampar pipinya sendiri hingga diapun tersadar jika tamparannya berada sakit.
"Tidak mungkin, ini pasti tidak mungkin papa, papa menghianati bunda?"
Air mata nya tak mampu lagi Marina bendung, hingga tumpah lah semua kesedihan dan kekecewaannya menjadi sebuah air mata yang membasahi pipi indahnya.
Marina coba menutup mulut, menahan suara tangis yang menyesakkan dadanya itu tidak bersuara agar Wisnu tidak menyadarinya.
Marina bertahan dengan semua sesak yang dia rasakan dengan kenyataan yang dia ketahui mengenai Ferdian.
"Bunda. Bunda"
Panggil lirih Marina menyebut nama bunda.
Marina pun segera pergi dari depan pintu ruangan papanya itu untuk kembali keluar.
__ADS_1
Marina berlari sekencang mungkin agar segera bisa keluar dari kantor papanya itu, dia tidak melihat halang rintang yang ada di depan matanya, hingga siapapun yang menghalangi jalannya terpaksa dia tabrak.
Para karyawan yang melihat Marina terlihat sangat sedih pun bertanya tanya, kenapa Marina? Kenapa dia menangis? Kenapa dia terburu-buru?
Tak ada satu orangpun yang mampu menjawab semua pertanyaannya itu, untunglah taksi datang di waktu yang tepat, sehingga Marina tidak perlu menunggu lama untuk mendapat kendaraan.
"Nona mau kemana?"
Tanya supir taksi.
"Jalan saja pak, nanti saya beritahu"
Jawab Marina singkat dengan raut wajah yang sangat kecewa.
Semua tangisnya katakan selalu terngiang di pikirannya hingga dia pun semakin sedih.
Marina yang tidak menyangka jika papanya bisa Setega itu Kun berpikir, apakah harus dia beritahu kabar buruk ini pada bundanya?
"Beri aku petunjuk mu tuhan, "
Pinta Marina pada sang pencipta untuk memberinya jalan atas semua masalah yang sedang dia hadapi kini.
Marina pun meminta supir untuk membawanya ke sebuah taman di tepi danau.
__ADS_1
Taman tempat dirinya dan keluarganya menghabiskan waktu bersama jika ada waktu luang.
Saat Marina turun dari mobil, langkahnya pun mulai menginjak rumput hijau yang indah, dan seketika bayangan keluarga bahagianya muncul di hadapan matanya.
Marina melihat dengan jelas senyum sang bunda yang bahagia hidup bersama papanya, senyum ceria dirinya dengan kedua adiknya yang menikmati keharmonisan keluarga mereka, sungguh pemandangan yang sangat indah bagi setiap mata.
Kemudian, bayangan itu pun seketika pupus bersamaan dengan air matanya yang menetes, Marina merasa sangat terpukul dengan kenyataan ini, dia masih tidak percaya jika papanya tega menduakan bundanya.
Bunda yang selama ini selalu dia cintai dan dia banggakan.
Marina masih bisa mengerti dengan semua kesibukan
Hy papanya, tapi dia tidak bisa terima dengan semua penghianatannya.
Marina pun duduk di kursi meratapi semua yang terjadi, dengan semua pikiran yang membebaninya dunia seakan sedang tidak berlaku adil padanya.
"Apa salah ku tuhan? Kenapa kau lakukan semua ini padaku?"
Teriak Marina coba melupakan semua beban pikirannya.
Seseorang dari belakang datang memberikan selembar saputangan pada Marina.
"Menangislah jika semua itu bisa membuatmu jauh merasa lebih tenang"
__ADS_1
Ucap seseorang dari belakang pada Marina.