Tergoda Cinta Dunia Maya

Tergoda Cinta Dunia Maya
Om baik


__ADS_3

"terkadang seseorang bisa merasa lebih baik jika sedang menangis, tapi ingat jangan larut dalam kesedihan, karena tuhan tidak menyukai itu, hapuslah air matamu"


Lanjut pria itu dengan memberikan sapu tangannya, Marina pun dibuat terkejut dan merasa tenang dengan semua yang dia ucapkan padanya.


"Om.. om yang waktu itu jemput aku dan adikku di sekolah kan?"


Tanya Marina melihat sosok pria dewasa yang sedang berdiri di sampingnya.


Sosok pria yang memberikan dia sapu tangan itu tak lain adalah Satria.


Satria pun tersenyum ke arah Marina dan meminta ijin duduk disampingnya.


"Apa boleh om duduk disini?"


Tanya Satria meminta ijin pada Marina.


Marina pun tidak keberatan, dia mempersilahkan Satria untuk duduk disampingnya.


Melihat Marina terdiam, Satria pun coba bertanya mengapa dia sedih dan menangis?


Marina pun seolah berpikir dengan semua masalahnya.


Marina bingung haruskah dia ceritakan semua masalahnya kepada Satria?


"Tidak om, Marina tidak apa-apa, hanya ada sedikit problem kecil, aman ko?"


Ucap Marina coba menyembunyikan masalahnya.


"Oh jadi nama kamu Marina? Nama yang bagus ya, pasti bunda kamu yang memberi nama indah itu?"


Senyum Satria bertanya pada Marina.


Mendengar pertanyaan Satria Marina pun tersenyum dan berterimakasih karena telah memuji namanya, nama indah yang Nirina berikan padanya.


Keduanya pun saling berbincang kesana kemari hingga Marina sendiri lupa dengan semua kesedihan dan masalah ayahnya itu.


Marina merasa asyik bicara dengan Satria, dia merasa ada sosok yang melindungi dan mengerti keadaannya sekarang.


Semua nasihat Satria dan ceritanya membuat Marina merasa jika Satria adalah orang yang baik.


"Oh ya om? Apa om teman bunda?"


Pertanyaan Marina membuatnya sedikit terdiam.


Akhirnya Satria pun mengatakan "iya".


"Lebih tepatnya lagi teman dalam selimut"

__ADS_1


Lanjut hati jahat Satria dengan senyumnya yang licik.


Marina yang polos pun percaya dengan semua kelicikan Satria.


Melihat hari sudah semakin sore, Satria pun meminta Marina untuk segera pulang.


"Hari sudah semakin sore, apa bunda kamu tidak akan mencemaskan kamu?"


Tanya Satria,


Marina pun terdiam dan bayangan semua pembicaraan Wisnu pun kembali terngiang dalam pikirannya kala mendengar nama bundanya.


Namun gadis kuat itu coba tegar dan berusaha terlihat kuat agar bundanya tidak curiga jika dia sedang tidak baik-baik saja.


"Kalau begitu apa boleh om antar kamu pulang, arah jalan kita sama, sekalian om antar kamu"


Satria menawarkan untuk mengantarkan Marina.


Meski sedikit ragu dan takut karena mereka baru saling mengenal, Marina coba membuang rasa takut itu setelah melihat senyum tulus Satria padanya.


"Tenang saja aku tidak akan menculik mu ko, hihi"


Keduanya pun tersenyum, akhirnya Marina pun masuk kedalam mobil untuk di antar pulang oleh Satria.


***


"Tolong kamu pastikan kebutuhan mereka tercukupi, dan jaga mereka, 6 bulan ini aku tidak bisa menghubunginya, Shinta terus mengawasi ku dengan semua anak buahnya, aku mohon jaga mereka semua"


Pinta Ferdian pada Wisnu untuk menjaga dan menjamin semua kebutuhan keluarga Ferdian.


"Baik pak"


Telpon pun berkahir dengan suara ketukan pintu dari salah seorang karyawan yang hendak meminta tanda tangan Wisnu.


Tok


Tok tok


"Boleh masuk pak?"


Tanya Astrid salah satu staf kantor Ferdian di Jakarta.


"Masuklah, ada apa?"


Astrid pun memberikan beberapa dokumen penting yang hrus Wisnu tanda tangani sebagai perwakilan dari Ferdian.


Saat Wisnu sedang menandatangi dokumen tersebut, Astrid bertanya.

__ADS_1


"Nona Marina habis apa datang kesini pak?"


Uhuk


"Marina, maksud kamu Marina anaknya pak Ferdian?"


Tanya Wisnu yang terkejut dengan pertanyaan Astrid padanya mengenai Marina.


Astrid pun mengatakan jika tadi ada Marina datang kesini, dia hendak masuk ke ruangan papanya,


"Katanya ada barang dia yang tertinggal di ruangan pak Ferdian, loh memangnya pak Wisnu tidak bertemu dengan Marina?"


Jawab Astrid menjelaskan semuanya.


Wisnu pun terkejut dengan penjelasan Astrid, pikirannya pun bertanya-tanya Marina datang kesini? Ada apa? Tidak mungkin Marina datang dan pergi begitu saja, dia anak sopan jika dia datang maka pasti dia akan pamit jika pulang.


"Apa jangan jangan? Astaga"


Wisnu pun segera melihat rekaman cctv di ruangan pak Ferdian yang sedang dia tempati sekarang.


Dan benar saja, Wisnu terkejut melihat Marina ada di balik pintu ruangan papanya mendengar semua percakapan dirinya dan Ferdian.


"Astaga Marina.. jadi dia datang kesini?"


Wisnu pun berhasil menebak jika Marina sedari tadi berdiri di depan pintu ruangannya, berarti dia tahu semua rahasia ayahnya yang dia bicarakan tadi.


Wisnu pun mulai tegang dia coba menghubungi Nirina untuk menanyakan keadaan Marina.


"Halo Rin? Ini aku Wisnu dari kantor, "


Saat Wisnu menghubungi Nirina, dia sangat senang sekali melihat nama perusahaannya menelpon, itu artinya mas Ferdian yang menelpon, tapi ternyata bukan, Wisnu lah yang coba menghubunginya menggunakan telpon kantornya.


"Halo Rin, halo "


Dengan gugup Wisnu coba menanyakan keberadaan Marina.


"Rin apa Marina ada di rumah?"


Tanya Wisnu, Nirina pun mengatakan jika Marina masih di sekolah, karena ada kelas tambahan,


"Memangnya kenapa nu? Ada apa dengan Marina? Tadi dia baik-baik saja ko, dia ada di sekolah"


Jelas Nirina menyampaikan semua pesan dari bundanya Marina.


Perasaan Wisnu pun semakin yakin jika Marina sudah tahu semua kebenaran tentang ayahnya,


"ini tidak boleh terjadi, aku harus bertemu dengan Marina "

__ADS_1


Tukas hati Wisnu yang merasa tidak tenang dengan semua yang Astrid katakan padanya.


__ADS_2