
Ferdian merasa bersalah karena telah mengkhianati Nirina untuk yang kedua kalinya,
"Sekali lagi maafkan aku sayang, untuk yang kedua kalinya aku akan mengkhianatimu, aku mohon semoga kamu mengerti dengan semua yang aku lakukan ini, semua aku lakukan demi perusahaan kita, agar tetap maju "
Ucap hati Ferdian yang menyesalkan semua ini terjadi padanya.
Wisnu pun datang untuk menemui Ferdian.
"Kamu yakin fer, kamu akan melakukan semua ini? Ingat loh kamu sudah mempunyai 3 anak dari istrimu?"
"Aku sendiri tidak tahu nu, yang aku pikirkan hanya kesejahteraan ribuan karyawanku, listrik yang setiap bulan harus kita bayar dan kemajuan perusahaan kita, hanya itu nu, selebihnya tidak ada lagi yang aku pikirkan selain mereka."
Tegas Ferdian membela dirinya jika dia melakukan semua itu untuk kemajuan perusahaannya
Wisnu pun tidak mampu berbicara, karena jika Ferdian sudah teguh dengan pendiriannya, maka semua harus terjadi apapun itu.
Kini tugasnya hanyalah membuat semua rencana pernikahannya dengan Shinta berjalan dengan lancar tanpa ada kendala dan tidak ada seorang pun yang tahu tentang semua ini.
Wisnu pun berusaha keras menyembunyikan semua rahasia ini dari siapapun termasuk Nirina sendiri, teman sejak kecilnya.
__ADS_1
"Maafkan aku Rin, aku tidak bermaksud untuk menghianati pertemanan kita, aku terpaksa melakukan semua ini"
Dalam hati Wisnu meminta maaf pada Nirina karena dia ikut terlibat dengan pernikahan gelap suaminya itu.
...
Citra dan Marina sudah sampai di sekolah 20 menit sebelum bel berbunyi, dan mereka menjadi murid yang paling pertama datang ke sekolah, sehingga pak Usman selalu satpam di SMP tempat mereka sekolah tersenyum bangga melihat Citra dan Marina kali ini datang lebih awal dari biasanya.
Karena biasanya mereka selalu terlambat 5 menit datang ke sekolah.
"Bunda langsung balik arah antar Devan ya nak, kalian sekolah yang pintar, nanti jika sudah pulang sekolah kalian langsung telpon bunda, biar bunda segera menjemput kalian"
"Ya bunda, hati-hati"
"Apaan sih pak Usman, senyum senyum seperti itu? Aneh ya lihat kita datang terlalu pagi?"
Dengan jutek Marina bertanya pada pak Usman dan berlalu tanpa menunggu jawabannya, karena tidak penting juga menurut mereka.
Keduanya pun kini masuk kelas masing-masing.
__ADS_1
Sementara itu, Nirina lanjut mengantarkan Devan yang sekolahnya lumayan jauh dari Citra dan Marina, Nirina memeluknya banyak waktu untuk menempuh semua itu.
"Bunda baik-baik saja kan?".
Tanya Devan pada Nirina yang terlihat panik.
"Entahlah nak, rasanya ko dada bunda terasa sesak ya? Perasaan ibu juga gelisah? Apa mungkin ibu masuk angin?"
Tanya Nirina mengenai dirinya sendiri.
Nirina pun coba berpikir positif agar jiwa dan raganya tetap ikut positif dan sehat.
Nirina coba menghilangkan kegelisahannya dengan mendengarkan musik di mobil, musik yang membuatnya sedikit merasa rileks kembali.
Mereka pun akhirnya tiba di sekolah Devan, rasanya sangat lega karena akhirnya Nirina sampai juga di sekolah Devan.
Nirina bertanya pada Devan apakah bundanya harus menunggunya disini atau suruh pulang?
"Bunda pulang saja, sebab Devan pasti pulangnya agak terlambat hari ini, sebab ada ekstra kulikuler pemuka hari ini"
__ADS_1
"Oh oke baiklah bos kecilnya bunda, kalau begitu yang pintar ya, bunda pamit pulang dulu oke"
Devan pun tersenyum pada sang bunda yangi melambaikan tangan kepadanya.