
Hari Hari yang Nirina lewati kini sangatlah sepi, semua perhatian yang selalu datang untuknya menghilang entah itu dari Ferdian ataupun Satria.
Nirina pun hanya bisa menangis menahan kesepiannya itu.
Dalam diam Nirina teringat akan semua kenikmatan yang dia lakukan dengan Satria beberapa waktu lalu,
Nirina coba memejamkan matanya mengingat semua sentuhan Satria yang dia rindukan kini.
"Satria.."
Panggil nya dengan lirih menyebut nama Satria.
Batin Nirina pun akhirnya berontak karena sudah tidak tahan lagi dengan semua kesepian yang dia rasakan.
Sebagai wanita biasa, tentunya Nirina mempunyai hasrat seksualitas layaknya perempuan lain.
Dan hasrat nya itu harus dia salurkan dengan baik.
Nirina pun berpikir untuk coba menghubungi Satria kembali dan mengatakan jika dirinya juga sudah mulai mencintai Satria.
Dan kini meski dihadapannya terpampang foto suami tercintanya itu, Nirina tidak banyak berpikir dan mulai mencari nomor Satria.
Nirina sekaan tidak perduli dengan semua kesalahannya pada Ferdian dengan menjalin hubungan dengan Satria, karena baginya kini hatinya sudah luluh pada pria yang dia kenal dari media sosialnya, pria yang selalu memberinya perhatian lebih meski dari ponsel.
Nirina coba menghubungi Satria, ponselnya pun berdering namun tidak ada jawaban.
"Kemana Satria? Kenapa dia tidak menjawab panggilan dariku?"
Nirina pun bertanya-tanya dalam hatinya, kemana Satria.
Dia coba mengirim pesan chat namun hanya ceklis dua.
__ADS_1
"Apa harus aku mencari Satria ke restorannya?"
Pikir Nirina hendak menemui Satria di restorannya.
Tanpa berpikir panjang, karena rumah sepi, Nirina pun segera pergi mencari Satria ke restorannya.
Nirina pun bersiap dengan dandanannya yang elegan dan manis, dia tersenyum di depan cermin, perasaannya melayang dan jantungnya berdegup kencang, entah apa yang sedang dia rasakan kini?
Ada apa denganku?
mengapa aku seperti ini?
Apa aku kasmaran?
"Oh tuhan sebenarnya apa yang terjadi denganku? Perasaan apa yang saat ini sedang aku rasakan?"
Tanya hati Nirina dengan semua perasaannya.
Nirina pun coba menanyakan keberadaanya pada staf karyawan yang lain di restoran itu,
"Maaf mbak, apa chef Satria ada?"
Tanya Nirina pada salah satu pelayan restorannya.
"Maaf Bu, sudah 4 hari ini pak satria tidak masuk kesini?"
Mendengar kabar tersebut, Nirina terkejut dan merasa tidak enak hati, dia terus berpikir kemana Satria pergi? dan kenapa dia tidak masuk berhari hari?
"Memangnya pak Satria kemana mbak? Apa saya bisa minta alamat rumahnya"
Nirina pun meminta alamat rumah Satria pada pelayan itu,
__ADS_1
Dengan senang hati pelayan itu pun memberi alamat rumah Satria pada Nirina.
"Terimakasih ya mbak"
Tanpa basa-basi, Nirina pun segera bergegas menuju alamat rumah Satria dengan terburu-buru.
Dia sangat takut jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Sepanjang jalan pikirannya tak henti memikirkan Satria, dia merasa bersalah karena telah memintanya untuk pergi darinya.
"Maafkan aku Satria, maafkan aku, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu pada kamu"
Penyesalan Nirina.
Nirina pun tiba di rumah Satria, keadaan rumah nampak sepi dari luar, namun mobil Satria ada di depan rumahnya,
"Apa Satria ada di dalam?"
Nirina ragu untuk masuk sendiri, dia coba menghubungi Satria memberitahu jika dirinya hendak ke rumahnya, namun masih tidak dia jawab.
Akhirnya Nirina pun memberanikan diri untuk masuk kedalam rumah yang pintu depan sudah sedikit terbuka.
"Satria
Satria "
Panggil Nirina membuka pintu rumah, dan alangkah terkejutnya dia saat pintu rumah benar-benar terbuka,
Mawar merah menghujani tubuh Nirina dengan sangat indah di depan pintu rumah Satria.
Mawar merah yang sudah Satria siapkan untuk menyambut kedatangan pujaan hati kerumahnya.
__ADS_1
Sontak Nirina pun terkejut dan merasa sangat senang dengan hujan mawar yang Satria buatkan untuknya.