
Setelah merasa tenang Nirina pun kembali pulang ke rumah, berharap Satria tidak akan menemuinya lagi setelah semua panggilan dan pesannya tidak dia balas.
Melihat isi rumah yang masih berantakan, Nirina pun menghela napas dan mengumpulkan energi nya untuk kembali tersenyum dan semangat menata hidupnya agar lebih baik lagi.
"Sudah Nirina sudah, sejenak lupakan dulu masalah mu dengan Satria"
Langkah awal Nirina membersihkan semua ruangan yang berantakan menyapu dan mengepelnya.
Setelah semua sudah dirasa bersih, ia pun pergi ke dapur hendak memasak pesanan Devan, walaupun dia tidak yakin jika dia bisa memasak seenak Satria.
Semua bahan sudah dia siapkan dan berhasil membuat dimsum, namun saat dia mencoba rasanya.
"Ih keasinan yang ada Devan pasti tidak suka"
Nirina mengerutkan kening karena rasa masakan yang dia buat keasinan.
"Hah... "
Sejenak Nirina pun duduk di sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Dan tiba-tiba saja saat dia mulai memejamkan mata, bayang-bayang Satria kembali datang dal pikirannya.
Nirina begitu jelas mendengar suara Satria yang memanggilnya.
"Kamu pasti lelah sayang, biar aku yang bantu menyelesaikan pekerjaanmu, istirahatlah"
Ucap Satria dalam pikirannya.
Suaranya begitu jelas hingga saat dia membuka mata, betapa terkejut Nirina melihat Satria sudah ada di dapurnya membantu dia memasak dimsum yang Devan minta.
"Hah, Satria jadi semua itu bukan bayanganku? "
__ADS_1
Nirina pun terbangun dan meminta Satria untuk tidak membantunya.
"Sudah Satria, biar aku saja, aku tidak ingin ketergantungan denganmu pergilah, aku ingin sendiri"
"Kamu kenapa Rin, kenapa kamu berubah, apa kamu membenciku? Apa salahku?"
Tanya Satria yang bingung dengan perubahan sikap Nirina padanya.
Nirina pun tidak menyangkal jika Satria tidak bersalah padanya, justru dialah yang salah karena tidak bisa mengendalikan perasaannya.
"Kamu tidak salah apa-apa, tapi aku ingin kamu pergi, pergilah aku sedang ingin sendiri"
Ucap Nirina menarik tangan Satria untuk pergi dari rumahnya.
Satria coba tenang menghadapi sikap Nirina yang sedang tidak stabil.
Dia pun melepaskan genggaman tangan Nirina dan coba memeluknya.
Bisik Satria memeluk Nirina.
Air mata Nirina apun tak mampu lagi dia bendung, hingga pecahlah tangisannya dalam pelukan Satria.
"Kamu jahat, aku jahat, aku sudah menghianati suamiku, lepaskan aku"
Ucap Nirina dalam pelukannya dengan semua air matanya yang kian membasahi pipi.
Satria pun mengusap air mata Nirina dengan lembut, seraya berkata.
"Kamu tidak jahat sayang, hatimu sendiri yang telah menumbuhkan perasaan cinta ini, kamu tidak salah, disini aku yang salah karena sudah masuk di kehidupanmu, jika kamu ingin aku pergi, lebih baik kamu akhiri hidupku saat ini juga, agar kamu tenang jika aku tiada, aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kamu sedih. Lebih baik aku mati daripada aku harus melihatmu terus menangis, bunuh saja aku bunuh"
Dengan tegas Satria meminta Nirina untuk mengakhiri hidupnya jika memang dia tidak ingin melihatnya lagi.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Jangan lakukan itu"
Nirina coba menghalau Satria yang menarik pisau dari atas meja dan coba melukai tangannya sendiri.
Saat pisau berhasil Nirina rebut dari tangan nya, Nirina pun terjatuh dan menarik lengan Satria hingga keduanya jatuh.
Tubuh tubuh satria pun jatuh tepat di di tubuh Nirina, namun untunglah pisau yang Nirina tarik tidak mengenai tubuhnya, hanya saja lengan Nirina sedikit tergores.
Keduanya kini saling berhadapan, Nirina menatap wajah Satria dengan dalam.
Begitupun dengan Satria, dalam hati kecilnya, melihat wajah Nirina yang bersih dan polos, Satria merasa apakah langkahnya salah dengan melibatkan Nirina dalam membalaskan dendamnya pada Ferdian.
Dan disaat itu pula, Wisnu datang dan melihat keduanya terbaring di lantai karena insiden di dapur.
"Nirina"
Ucap Wisnu terkejut melihat semua yang terjadi di depan matanya.
Nirina dan Satria pun ikut terkejut dengan kedatangan Wisnu, keduanya pun bangun dan coba menjelaskan.
"Kamu jangan salah paham Wisnu, semua yang kamu lihat itu tidaklah benar"
Dengan gugup Nirina coba menjelaskan padanya jika semua yang dia lihat tidak seperti yang dia pikirkan.
"Dia adalah Satria dia..."
"Saya adalah koki baru di rumahnya Bu Nirina"
Lanjut Satria memotong jawaban Nirina dan mengaku jika dia adalah juru masak baru di rumahnya.
"Ya saya Satria, chef baru di rumahnya Bu Nirina"
__ADS_1
Satria memperkenalkan dirinya pada Wisnu yang masih belum percaya dengan semua yang dia lihat.