Tergoda Cinta Dunia Maya

Tergoda Cinta Dunia Maya
Mimpi buruk Nirina


__ADS_3

"Hentikan mas, hentikan sudah"


Nirina terus berteriak melerai perkelahian antara Ferdian dan Satria.


"Sudah mas hentikan"


"Hentikan mas hentikan"


"Hentikan "


Teriak Nirina membuat Devan dan kedua gadisnya datang untuk membangunkan ibunya dari mimpi buruk yang membuatnya terus berteriak


"Hentikan"


"Bunda bangun bunda, bangun"


Devan coba membangunkan sang bunda dengan panggilannya.


Nirina pun terbangun dengan keringat yang bercucuran.


Napasnya pun terasa terengah kala teringat semua mimpi buruknya itu.


"Astaga ada apa denganku? Mengapa aku bermimpi seperti itu?"


Tanya hati Nirina teringat akan Satria xx


Citra pun membawakan segelas air untuk bundanya dan meminta Nirina untuk tenang.


"Bunda yang tenang ya? Sebenarnya bunda mimpi apa? Sepertinya bunda sangat ketakutan?"


Tanya Marina si sulung.


Nirina pun terdiam kala mereka bertanya akan keadaannya.


Nirina menarik napasnya dalam.


"Sayang, kalian sayang bunda kan nak?"


Tanya Nirina pada ketiga anaknya itu.


Mereka pun mengatakan ia, jika mereka sangat menyayangi bundanya.


Nirina pun meminta pada ketiga buah hatinya untuk tidak memberitahu ayahnya tentang kejadian ini.


"Bunda hanya tidak ingin papa kalian cemas jika dia tahu bunda mimpi buruk, kalian mengerti kan?"


Penjelasan Nirina pada mereka.


Sebagai anak paling tua, Marina pun mengerti apa yang bundanya maksudkan.

__ADS_1


"Bunda tenang saja, kita tidak akan memberitahu papa ko, sekarang lebih baik bunda tidur lagi, apa mau kita temani?"


"Kalian tidur saja di kamar kalian masingmasing, bunda tidak apa-apa ko, ayo segera tidur, besok sekolah nanti kesiangan lagi".


Perintah Nirina pada ketiga anaknya untuk kembali ke kamarnya masing-masing.


Mereka bertiga pun segera kembali ke kamar untuk melanjutkan mimpi mereka.


Sementara Nirina masih teringat akan mimpi nya itu.


"Kenapa aku memimpikan semua itu? Ada apa denganku?".


Nirina pun membuka ponsel banyak sekali pesan yang masuk dari Satria, dan panggilan tak terjawab dari Ferdian.


Ferdian hendak memberitahu Nirina jika masa kerja disana di perpanjang mungkin dalam 6 bulan atau lebih.


Mendengar kabar itu, Nirina pun sangat terkejut tidak seperti biasanya?


"Kenapa mas Ferdian memperpanjang masa kerjanya disana? Ada masalah apa memangnya?"


Tidak biasanya Nirina cemas seperti ini saat mendengar kabar dari suaminya itu.


Karena biasanya Nirina merasa baik-baik saja meski Ferdian tidak pulang lebih dari enam bulan, tapi untuk kabar sekarang, rasanya perasaan Nirina merasa cemas dan takut.


Mungkin karena dia takut kesepian terlalu lama ditinggal pergi Ferdian.


Nirina pun coba menghubungi balik Ferdian, namun tidak ada jawaban.


Kemudian Nirina pun membuka pesan dari Satria, seperti biasa Satria memberi perhatian pada Nirina untuk setiap waktunya, Satria selalu mengingatkan nya untuk tidur tepat waktu dan menjaga pola makannya agar tetap sehat.


Nirina pun tersenyum saat membaca pesan tersebut.


Kemudian dia kembali tidur dengan bayangan mimpinya yang sedang bercumbu dengan Satria.


"Ish kenapa sih aku ini, sadar sadar Rin, kamu itu sudah punya suami"


Tegas hati Nirina mengingatkan akan statusnya.


Nirina pun akhirnya mematikan ponselnya dan kembali terlelap.


Dan keesokan paginya, seperti biasa Nirina menyiapkan sarapan untuk ketiga buah hatinya,


"Oh ya nak, hari ini ibu yang antar kalian pergi ke sekolah ya, soalnya mang Asep tadi ijin, katanya istrinya mau melahirkan, jadi dia ambil cuti untuk satu bulan ini"


"Waduh ko lama banget sih Bun? Nanti bunda kerepotan dong harus antar jemput kita?"


Tanya Devan.


"Tidak apa nak, ibu kan kuat"

__ADS_1


Ketiga anaknya pun tersenyum dan nampak bahagia, kemudian Ferdian pun video call dengan Citra, dia menanyakan mengapa ponsel bundanya tidak diangkat.


Dari belakang Nirina yang mendengar pertanyaan sang suami langsung menjawab jika ponselnya disimpan di kamar, jadi dia tidak tahu jika Ferdian menelponnya.


"Maaf mas, ponselku di kamar, jadi aku tidak tahu kamu menelpon ku"


Jawab Nirina pada Ferdian di ponselnya Citra.


Ferdian pun langsung membicarakan perihal semalam pada Nirina.


"Tidak apa-apa kan sayang, jika masa kerjaku di perpanjang, sebab disini ada banyak sekali problem yang harus aku selesaikan"


Ucap Ferdian meminta ijin pada Nirina dengan halus.


"Tidak apa-apa mas, lagipula jika aku tidak mengijinkan, mas juga pasti tidak akan menuruti aku kan? Hihi yasudah mas, tapi mas jaga diri baik-baik disana, jaga kesehatannya oke"


Jawab Nirina dengan senyumnya yang manis mengingatkan Ferdian untuk tetap menjaga kondisinya.


Nirina pun mengatakan jika mang Asep mengambil cuti untuk waktu yang cukup lama, jadi anak-anak dia yang mengantarkan.


"Tapi apa kamu tidak akan kecapean sayang? Biar aku suruh staf kantor untuk mencarikan supir untuk kamu?"


"Tidak usah mas, aku sanggup ko?"


Nirina menolak dicarikan pengganti Asep, karena kasihan juga nanti jika mang Asep hendak masuk kembali, karena dia sudah cukup lama mengabdi pada keluarganya, jadi Nirina harus rela menggantikan posisinya sekarang untuk sementara waktu.


"Kalau begitu mas kembali kerja ya sayang, jaga diri kamu baik-baik, i love u"


"I love u to"


Nirina mengakhiri pembicaraannya dengan suara kecupan yang manis untuk Ferdian di ponsel.


Dan itu sudah terdengar biasa bagi ketiga anaknya.


...


"Jadi papa akan lama pulang ya Bun?"


Si bungsu Devan mengeluhkan kesibukan sang ayah yang terlalu mementingkan pekerjaannya daripada keluarganya.


"Sekarang kamu belum paham mengapa papamu seperti ini, tapi jika kamu nanti sudah besar, maka kamu akan mengerti semua ini, mengapa papa mu sampai rela keluar lama-lama bekerja di luar kota,"


Petuah Nirina pada Devan agar dia bisa mengerti dengan kesibukan ayahnya itu.


Devan sendiri tidak memungkiri jika dirinya hanya kesepian, dia juga sama dengan anak yang lain, Devan menginginkan sosok ayah yang selalu melindungi, mengajari dirinya untuk setiap waktu, dan itu tidak dia temukan pada ayahnya.


"Sudah ya, jangan mengeluh, ayo semuanya siap ya, bunda tunggu di mobil, jangan lupa piring kotornya simpan di wastafel"


Pesan Nirina pada ketiga anak nya, kemudian berlalu menuju mobil.

__ADS_1


***


Sementara di kota Batam, ternyata Ferdian dan Mrs Shinta Tan sedang merencanakan pernikahan sederhananya demi kelangsungan kemajuan perusahaannya, dalam hati Ferdian tidak ingin melakukan semua ini, tapi apa boleh buat, keadaan yang memaksanya harus melakukan semua ini.


__ADS_2