Tergoda Cinta Dunia Maya

Tergoda Cinta Dunia Maya
Ular hijau


__ADS_3

Nirina pun tersadar dan langsung melepaskan pelukannya pada Satria, dia merasa gugup karena baru pertama kali memeluk pria lain selain Ferdian suaminya.


Jantungnya pun berdegup kencang, entah perasaan apa yang sedang dia rasakan saat ini, perasaan yang terasa asing baginya, perasaan yang sudah sekian lama tidak pernah dia rasakan setelah hidup bersama Ferdian.


Nirina pun menarik napasnya dalam, matanya terpejam, dia berpikir ini tidak benar, aku tidak boleh merasakan perasaan ini.


Satria pun menanyakan keadaan Nirina.


"Aku baik-baik saja, kamu tidak apakan? Jika kamu mau berhenti, berhenti saja, aku tidak apa-apa ko?"


Namun ternyata Satria tidak ingin berhenti, dia ingin melanjutkan perjalanannya mengantar Nirina pulang, diapun mengatakan jika dia juga tidak ingin berhenti, kemudian keduanya pun melanjutkan perjalanannya kembali, meski perasaan Nirina kini sedang berkecamuk dengan semua yang dia rasakan.


Selang beberapa menit, akhirnya merekapun tiba di depan rumah Nirina,


"Akhirnya kita sampai juga "


Ucap Satria terlihat lelah saat membuka helm dan memberhentikan motornya, Nirina pun tidak tega dan meminta Satria masuk ke rumah nya dahulu untuk sekedar minum air.


"Tidak usah Rin terimakasih"


Jawab Satria dengan senyumnya yang menawan coba menolak tawaran Nirina dengan halus.


Nirina pun mengerti, karena Satria memang sedang terburu-buru,


"Kalau begitu aku lanjut pergi ke restoran ya, jika mobilmu sudah selesai di perbaiki nanti aku kabari kamu"


Lanjut Satria pada Nirina.


"Ya, sekali lagi terimakasih ya?"


Jawab Nirina yang tidak enak hati karena telah merepotkan Satria berulang kali, meskipun hanya untuk urusan mobil mogoknya.

__ADS_1


Dalam hati Nirina menggerutu jika tidak seharunya Saria yang menyelesaikan masalahnya kini, seharusnya ini adalah urusan Ferdian suaminya, tapi kenapa justru pria lain yang membantunya?.


"Nirina, hei apa kamu baik-baik saja?"


Tanya Satria yang melihat Nirina melamun.


"Astaga, ya ada apa mas?".


Panggilan mas terucap pada Satria karena dia sedang memikirkan Ferdian.


"UPS sorry, maksudku ya saya baik-baik saja, baiklah jika kamu memang tidak mau masuk dulu tidak apa-apa, kalau begitu saya masuk ya?"


Dengan tersenyum, Satria memberikan jawaban pada Nirina untuk memintanya segera masuk kedalam rumah,


Namun saat Nirina hendak masuk kedalam rumah dan membuka gerbangnya, seekor ular hijau jatuh dari pagar gerbang nya dan hampir mengenai tubuh Nirina.


"Awas"


Keduanya pun kini saling menatap satu sama lain.


Nirina yang diam-diam mengagumi ketampanan Satria mulai luluh dengan semua perhatiannya, sedangkan Satria terus berusaha memberikan yang terbaik untuk Nirina dengan menjaganya dalam setiap keadaan.


"Ya ampun ular, "


"Kamu minggir dulu, biar aku tangani ini"


Nirina pun menjauh dan coba menghubungi pemadam kebakaran untuk mengatasi masalahnya itu, karena ditakutkan masih ada lagi ular hijau lain berkeliaran di sekitar rumahnya.


Halaman depan rumah Nirina memang rindang dengan pepohonan dan itu yang mungkin menjadi penyebab ular hijau suka pada halaman rumahnya.


Sedangkan Satria coba menghalau ular agar tidak masuk semakin dalam dan menjaga Nirina.

__ADS_1


Dengan sebatang ranting kecil, Satria coba mengalihkan perhatian ular agar tidak masuk kedalam, setidaknya sampai pemadam datang, dan untunglah jarak dari rumah Nirina pada pusat pemadam tidak terlalu jauh sehingga tidak memakan waktu lama mereka pun datang dan mengamankan hewan melata itu, meski ukuran ular tidak terlalu besar, namun bisa ular hijau cukup berbahaya, itu sebabnya jangan bermain-main dengan ular hijau.


"Terimakasih untuk semua bantuannya pak? Semua sudah aman kan pak? Saya khawatir jika ular itu sampai menyerang anak-anak saya?"


"Ibu tidak usah khawatir, tim kami sudah menyisir semua area rumah ibu, dan semua aman"


Jawab ketua pemadam yang datang.


Mereka pun pamit meninggalkan rumah Nirina, dan kini hanya tinggal Satria dan dirinya.


"Tapi aku ingin memastikan sendiri aman sudahlah rumah kamu dari hewan itu? Boleh kan aku masuk?"


Tanya Satria yang khawatir jika suatu bahaya menimpa Nirina lagi.


Nirina pun jadi merasa gugup, karena ini kali pertama dia membawa pria lain kedalam rumahnya, dan itupun sedang tidak ada siapapun di dalam rumah.


Namun Nirina tidak bisa menolak permintaan dan niat baik Satria, karena bagaimana pun dia adalah temannya.


"Sudah Nirina, berpikir positif saja, dia adalah teman kamu, teman yang kamu kenal dari media sosial kamu, dan dia adalah orang baik, pasti dia tidak akan macam macam."


Ucap hati Nirina saat memikirkan tentang Satria.


Keduanya pun masuk kedalam rumah, dan keadaan di dalam nampak sangat sepi, karena tidak ada seorangpun, bi Sumi masih belum bisa masuk karena anaknya masih harus di rawat, sedangkan pak Eman sang supir juga ambil cuti karena istrinya melahirkan.


Nirina pun menjelaskan semua itu pada Satria saat bertanya mengapa rumahnya nampak sepi.


"Tapi apakah kamu tidak kerepotan mengurus semua ini sendiri? Mau aku carikan ART sementara untuk membantumu?"


Satria coba menawarkan bantuannya pada Nirina.


"Terimakasih sebelumnya, tapi sepertinya aku masih bisa menghandle semua sendiri, karena aku juga sudah terbiasa melakukan semua ini bersama ketiga anakku, anggap saja, melatih anak belajar mandiri hihi"

__ADS_1


Jawab Nirina berterimakasih karena sudah menawarkan bantuan kepadanya.


__ADS_2