
Karena panik, Ferdian pun segera pergi dari ruangan itu dan mengunci Shinta di dalamnya, dia pun segera mengambil penerbangan ke Jakarta saat itu juga karena teringat akan Nirina, dia ingin sekali secepat mungkin menemui keluarga yang sudah lama dia rindukan.
Tanpa merasa bersalah, tak lupa Ferdian membawa surat-surat dan barang berharga milik dirinya dan Shinta, karena dia tidak ingin rugi,
"Aku harus segera ke Jakarta hari ini juga".
Ujar nya dengan membawa barang-barang penting tersebut.
Ferdian pun menuju hotel dan segera memesan tiket pesawat menuju Jakarta, dia pun coba menghubungi Nirina namun tidak kunjung diangkatnya.
Nirina yang sangat marah dan kecewa pergi menyendiri di sebuah danau, dia meratapi kesedihannya yang terluka oleh penghianatan suaminya itu.
"Tega sekali kamu mas, jadi selama ini kamu tidak bisa dihubungi karena kamu sudah menikah lagi dengan perempuan lain? Apa salahku mas Ferdian"
"Ah"
Teriak Nirina coba meluapkan semua kekesalan dan rasa kecewanya.
Air matanya tumpah menangis tiada henti, dadanya pun terasa sesak setiap mendengar kata sayang terucap dari bibir suaminya untuk perempuan lain selain dirinya.
"Aku kecewa sekali sama kamu mas, aku kecewa"
Lanjut teriak Nirina di hadapan danau yang indah.
Satria pun akhirnya menemukan keberadaan Nirina yang sedang menyendiri.
Satria melihat Nirina sangat sedih dan terpukul atas kejadian yang menimpanya, penghianatan yang memang sudah beberapa kali Ferdian lakukan padanya, hanya saja dia tidak pernah tahu.
Dalam hati saat melihat Nirina terpuruk seperti itu, perasaan tidak tega Satria pun tumbuh hingga dia berpikir apakah harus dia jujur pada Nirina tentang siapa dirinya yang sebenarnya? Dan aa maksudnya dia datang di hidup Nirina?
Satria pun menghampiri Nirina yang sedang menangis histeris, Satria menahan tangan Nirina yang hendak melempar batu ke danau hanya untuk meluapkan semua kemarahannya.
"Satria?"
Ucap Nirina terkejut saat melihat kedatangan Satria di danau itu.
"Apa yang terjadi padamu?"
Tanya Satria berlaga tidak tahu dengan semua yang terjadi padanya.
Nirina pun terdiam dan langsung memeluk Satria, dia tidak kuasa menahan kesedihannya dan dengan hadirnya Satria Nirina merasa memiliki pundak untuk bersandar.
"Menangislah, jika memang semua itu membuatmu lebih tenang"
Ucap Satria memeluk Nirina coba untuk membuatnya tenang.
Dalam hati Satria merasa sangat sakit hati melihat kekasih gelapnya itu bersedih.
__ADS_1
"Apa mungkin aku memang sudah benar-benar mencintai dia? Tidak mungkin? Ini tidak boleh terjadi? Tapi mengapa rasanya aku ikut sakit melihat dia menangis?"
Ucap hati Satria akan dilemanya.
Nirina pun mencurahkan semua kesedihannya pada Satria.
"Apa kamu mau mengantarku pergi ke Pangadilan?"
Tanya Nirina pada Satria.
Nirina meminta Satria untuk mengantarnya ke pengadilan agama untuk mengurus perceraiannya dengan Ferdian, Nirina tidak bisa menerima penghianatan suaminya ini.
"Tapi untuk apa?"
Tanya Satria penasaran.
Sejenak Nirina pun menghela napasnya,
"Satria? Apa sikapku ini salah?"
"Maksud kamu?"
"Selama ini kita dekat dan semakin dekat setelah semua yang terjadi diantara kita, aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini tumbuh sama kamu? Tapi aku sendiri tidak menyangka dan merasa sakit saat aku mengetahui jika suamiku menghianati aku bahkan sudah menikah lagi dengan perempuan lain".
Ucap Nirina dengan penuh air mata.
Lanjut Nirina.
Satria pun menjawab dengan tegas jika perasaan Nirina padanya memang tidak bisa dikendalikan dan itu terjadi memang kerena Ferdian tidak bisa membahagiakannya, Ferdian mengacuhkannya dan tidak pernah memberikan semua perhatian yang dia butuhkan, jadi tidak salah jika Nien mencari kebutuhan yang tidak bisa Ferdian berikan pada pria lain.
"Dan asal kamu tahu Rin, suami kamu itu bukanlah pria yang baik"
Lanjut Satria.
"Maksud kamu apa? Kenapa kamu bisa berkata seperti itu? Apa kau mengenal suamiku?"
Tanya Nirina
Satria pun berpikir mungkin ini saatnya dia memberitahu Nirina siapa dirinya yang sebenarnya, tapi saat Satria hendak mengatakan semua itu, Wisnu datang menyusul Nirina ke danau untuk dia jemput dan menyelesaikan masalahnya.
"Nirina"
Panggil Wisnu,
Wisnu pun sekarang ingat dengan sosok pria yang sedang bersama Nirina.
"Jangan dekati Nirina"
__ADS_1
Lanjut Wisnu melarang Satria untuk mendekati sahabat kecilnya itu.
Nirina dan Satria pun sangat terkejut dengan kedatangan Wisnu yang tiba-tiba melarang Satria untuk dekat dengannya
"Wisnu? "
Nirina yang terkejut bertanya mengapa dia menarik tangannya dan menjauhkan dia dari Satria.
"Aku tahu betul siapa dia Rin, dia bukan orang yang baik, dia berniat jahat sama kamu?"
Ujar Wisnu membuat Satria mulai waspada jika identitasnya diketahui.
Nirina pun bertanya apa yang dimaksudkan Wisnu tentang Satria.
Wisnu Kun mengakan jika Satria adalah kakak dari Asri.
"Asri?"
Ucap Nirina yang bingung.
Satria pun mulai berbicara, hendak mengatakan yang sebenarnya pada Nirina.
"Ya kamu memang benar, aku adalah Kaka dari Asri? Tapi Nirina sendiri tidak tahu siapa Asri?"
Jawab Satria pada Wisnu.
Nirina pun mengingat jika Asri adalah sekretaris Ferdian 4 tahun yang lalu.
"Asri? Lalu kenapa jika dia adalah kakaknya Asri?"
Tanya Nirina pada Wisnu.
Wisnu pun terdiam tidak mampu menjawab, karena jika dia bicara, itu sama saja dengan membuka kartu lama Ferdian akan kisah cinta bosnya itu dengan Asri.
"Kenapa kamu diam? Jawablah pertanyaannya? Apa kamu takut jika aib bos mu terbuka sekarang? Jika kamu tidak bisa mengatakan semuanya pada Nirina maka aku sendiri yang akan mengatakannya"
Jawab Satria membuat Wisnu semakin khawatir akan hubungan Nirina dan Ferdian akan semakin memburuk.
Namun dia tidak mempunyai pilihan selain diam, hingga akhirnya Satria pun mengatakan yang sebenarnya.
"Asal kamu tahu Nirina, sejak awal niatku memang buruk padamu, aku ingin menghancurkan semua kebahagiaan yang Ferdian miliki termasuk kamu, karena aku ingin dia merasakan bagaimana kehilangan orang yang dia cintai, aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan dulu"
"Maksud kamu apa Satria? Aku semakin tidak mengerti?"
Tanya Nirina yang terkejut mendengar semua pengakuan Satria kepadanya jika dia memang berpura-pura baik kepadanya.
"Ya, suamimu telah membunuh adikku yang sedang hamil anaknya"
__ADS_1
Ucap Satria membuat Nirina tidak bisa mempercayai itu semua, Nirina menutup mulutnya berharap semua yang dikatakan Satria adalah kebohongan.