Tergoda Cinta Dunia Maya

Tergoda Cinta Dunia Maya
Sepucuk surat


__ADS_3

Di lain tempat, Ferdian yang merasa kesal pada Nirina coba kembali menghubunginya, namun ternyata ponsel Nirina tidak aktif.


"Sial, ke apa kamu mematikan ponselmu? Padahal aku hanya sedang rindu?"


Kata Ferdian kesal karena kerinduan pada Nirina tidak tersalurkan.


Ferdian merespon semua dengan kemarahan lantaran ada sedikit problem dalam pekerjaannya sehingga membuat dia marah dan kesal, tidak ada niat untuk bertengkar dengan Nirina, namun keadaan yang membuatnya marah.


"Pasti istriku sedang sedih sekarang karena aku sudah marah marah tidak jelas padanya?"


Pikir Ferdian mencari Ara agar Nirina tidak lagi marah padanya.


***


Batin Nirina saat ini memang sedang menangis, dia sakit hati karena Ferdian memarahinya dengan semua nada tingginya di hadapan Devan, meski Nirina tahu jika sikap suaminya itu pasti ada pemicunya, namun setidaknya Ferdian bisa mengontrol emosinya dihadapan sang anak.


"Kamu tidak bisa berubah mas?"


Ujar Nirina teringat Ferdian,


Nirina yang saat itu sedang membereskan pakaian Devan untuk segera pulang dikejutkan dengan pesan masuk dari Satria.


"Tetap tersenyum ya, kamu terlihat jelek jika sedang bersedih"


Seketika batin Nirina bertanya-tanya mengapa Satria bisa mengirim pesan seperti ini? Apa maksudnya? Mengapa dia seolah tahu jika dirinya saat ini sedang bersedih.


Melihat isi pesan dari Satria, Nirina pun tersenyum sedikit melupakan kesedihannya akan Ferdian.

__ADS_1


Dokter pun datang untuk memeriksa Devan,


"Selamat siang Bu, kami akan memeriksa Devan sebentar ya"


"Baiklah dok"


Devan memang sudah bersiap untuk diperiksa, dengan cerita Devan memperlihatkan perkembangan kesehatannya pada dokter, Devan mengatakan jika dirinya saat ini sudah sembuh.


"Wah kelihatannya nak Devan memang sudah tidak sabar ingin pulang ya? Nak Devan pasti bahagia jika dokter bilang kalau siang ini juga nak Devan bisa pulang ke rumah"


Jawaban dokter membuat Devan semakin bahagia.


"Yeay akhirnya aku bisa pulang?"


Dokter dan Nirina pun tersenyum melihat tingkah Devan yang berlebihan, Nirina mengucapkan terimakasih pada sang dokter karena kini Devan sudah mulai membaik.


"Sama-sama Bu Nirina, tapi ingat, Devan jangan dulu melakukan aktifitas berat atau olahraga yang membuat fisiknya terkuras ya, karena ditakutkan nanti bisa sakit lagi, pola makannya juga harus teratur"


"Baik dok, terimakasih "


Jawab Nirina dengan senyumnya yang tulus.


...


Devan meminta Nirina untuk menghubungi ayahnya, dia ingin memberitahu sang ayah jika dirinya sudah bisa pulang.


"Bunda, Pasti papa bahagia jika tahu kabar ini ya?"

__ADS_1


Tanya Devan pada Nirina.


Nirina pun hanya tersenyum kecil.


Devan pun berpikir jika dia harus berbuat sesuatu, agar ibunya tidak terlarut dalam kesedihan,


Tapi apa?


Devan masih belum mempunyai ide untuk semuanya.


Saat Nirina masih sibuk dengan membereskan pakaian Devan, Seorang kurir mengetuk pintu dan meminta ijin masuk untuk mengantarkan pesanan atas nama Bu Nirina.


"Atas nama Bu Nirina?"


"Ya mas, saya, ada apa ya?"


Nirina pun bingung, mengapa ada kurir datang mencarinya dengan membawa sepucuk surat dan bunga mawar kesukaan Nirina.


"Bunga mawar dan sepucuk surat? Dari siapa? pasti mas Ferdian yang melakukan semua ini?"


Pikir Nirina sudah bisa menebak jika semua ini adalah ulah Ferdian di sebrang sana.


Bunga mawar pun Nirina hirup dan cium, wangi yang sangat lembut dan menggoda menurut Nirina.


Nirina pun tersenyum dan coba melupakan semua yang terjadi diantara mereka tadi.


Nirina pun membuka surat kecil yang terselip diantara bunga mawar tersebut.

__ADS_1


Tulisan pujian untuk Nirina membuat hatinya tersentuh, Nirina tersenyum sendiri membacanya, namu seketika senyumnya memudar kala melihat nama pengirim bunga tersebut.


Satria Adipati


__ADS_2