Tergoda Cinta Dunia Maya

Tergoda Cinta Dunia Maya
coba berdamai dengan ego


__ADS_3

Nirina pun hendak menyiapkan makanan untuk Marina sebelum dr Evelyn datang, namun Satria melarangnya,


"Biar aku saja yang membuatkan makanan untuk Marina, kamu temani saja dia"


Pinta Satria pada Nirina untuk duduk menemani Marina.


Melihat semua perhatian Satria pada bundanya, Marina pun merasa jika Satria memanglah pria yang sangat baik, karena biasanya Marina hanya selalu melihat jika apapun yang terjadi, se cemas apapun papanya akan keadaan anak-anak mereka, Ferdian selalu membiarkan Marina untuk kesana kemari yang menyiapkan dan mengurus semuanya, beda dengan Satria yang terlihat penyayang pada wanita.


"Tapi kamu, aku tidak mau merepotkan kamu, aku sudah biasa ko, tenang saja"


Jawab Nirina hendak pergi keluar kamar Marina, namun Satria memegang tangan Nirina dan menahannya.


Satria berdiri dan meminta Nirina untuk duduk istirahat menemani Marina, biarkan dia yang menyiapkan semuanya.


"Duduklah, aku tahu kamu bisa semuanya, tapi untuk kali ini, temani lah anakmu, dia sangat membutuhkan dirimu"


Jawab Satria dengan masih menggenggam tangan Nirina.


Nirina pun tidak mampu menjawab semua pinta Satria padanya,


"Mmm baiklah, maafkan aku karena merepotkan mu"


"ITS oke, tenang saja"


Satria pun berlalu keluar kamar Marina untuk menyiapkan segala kebutuhannya,

__ADS_1


Dan kebetulan saja, cake yang sudah mereka buat tadi sudah matang, Satria jadi tidak harus repot lagi,


"Tinggal aku beri sedikit hiasan untuk Marina, dan akan aku buat jus mangga yang sangat lezat untuknya"


Pikir Satria saat berada di dapur.


Entah perasaan apa yang menggerakkan hati Satria untuk melakukan semua itu demi anak si pembunuh adiknya, dia tidak menyadari jika dirinya sudah terbawa haru dengan semua yang Marina ucapkan padanya,


Satria mulai merasa jika langkahnya salah dengan melibatkan Nirina dan ketiga anaknya dalam pembalasannya ini, itu sebabnya dia coba berdamai dengan egonya untuk bisa berbuat baik pada Marina, meski dalam hatinya setiap dia mendengar nama Ferdian, bara api di dadanya selalu membara.


...


Didalam kamar, Marina langsung memeluk Nirina dengan semua air matanya,


"Kamu kenapa nak? Apa ada yang sakit? Coba bunda lihat? Mana yang sakit?"


Namun Marina tidak kunjung menjawab pertanyaan ibunya, dia hanya berkata


"Andai papa bisa membahagiakan kita seperti itu?"


Marina menangis dalam pelukan Nirina saat mengatakan hal itu padanya.


Nirina pun bingung, apa yang terjadi pada anaknya? Mengapa Marina terlihat sangat sedih ketika berkata semua itu.


"Apa kamu rindu dengan papa nak? "

__ADS_1


Tanya Nirina pada Marina mengenai Ferdian dan menebak jika Marina mungkin sedang rindu pada suaminya itu.


Mendengar nama papanya, Marina kembali memeluk bundanya semakin erat seolah dia ketakutan mendengar nama Ferdian, Nirina pun semakin dibuat bingung oleh tingkah anaknya itu, hingga dr Evelin pun datang untuk memeriksa keadaan Marina.


"Selamat siang Bu Nirina, siapa yang sakit?"


Tanya dr Evelin, Nirina pun mengatakan jika Marina sedang tidak sehat,


"Tolong periksa anak saya dok? Dia terlihat sangat gelisah, entah apa yang sedang dia pikirkan hingga dia bisa demam seperti itu"


Pinta Nirina pada dr Evelin.


"Baiklah Bu, saya akan periksa Marina dahulu ya, ibu Nirina bisa tunggu diluar"


"Baik dok"


Dr Evelin pun masuk kedalam kamar Marina dan mulai memeriksanya, tekanan darah Marina yang rendah membuat kepalanya terasa pusing, dengan semua pikiran tentang sang ayah juga yang membuat dirinya mengalami demam.


"Darah kamu rendah nak? Aa kamu sering tidur malam?"


Tanya dr Evelin pada Marina.


Marina pun mengatakan ia,


"Akhir-akhir ini saya selalu tidak bisa tidur di waktu awal dok, itu sebabnya saya selalu kemalaman kalau tidur"

__ADS_1


Jawab Marina mengakui pertanyaan dr Evelin,


Dr pun menyarankan pada Marina untuk tidak melakukan semua itu.


__ADS_2