Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Yang tertinggal


__ADS_3

Suara gemericik air yang terciprat terdengar jelas dari sebuah sungai yang mengalirkan air yang jernih. Seekor serigala tengah sibuk menangkap ikan yang berenang di sungai. Ia menunggu ikan itu berenang ke tepian dan saat sudah mendekat ia segera menangkapnya.


Xavier sudah menyeringai senang saat air yang berada di bawah cengkraman kakinya berubah keruh. Ia sudah sangat yakin kalau ia berhasil menangkap seekor ikan. Tapi kenapa rasanya licin?


Xavier mencoba membuka cengkraman kakinya. Ia mengintip pelan-pelan sampai kepalanya tertunduk dan masuk ke dalam air yang keruh. Samar-samar ia melihat sesuatu di bawah kakinya. Tidak bergerak sama sekali. Ia pikir ikannya mati tapi saat airnya berubah jernih, ternyata yang ia cengkram adalah sebuah batu hitam.


“Akh, sial!” Dengus xavier saat usahanya malah gagal.


Tidak kehabisan akal, kali ini mencoba cara Thea berikutnya. Ia ingat persis, Thea memakai rerumputan untuk menjebak ikan-ikan agar datang menghampirinya.


Ia beranjak sesaat dari sungai. Pergi ke pinggiran sungai yang berumput lalu dengan cakar dan mulutnya ia mengambil rerumputan. Setelah cukup banyak, ia membawanya ke tepi sungai. Ia menatanya seperti cara yang pernah ia lihat dari Thea.


Lalu ia berdiam diri di tepi sungai, menunggu satu per satu ikan menghampiri jebakannya.


Benar saja, beberapa ekor ikan masuk ke jebakannya. Xavier tidak berani bergerak sedikitpun karena takut ikan-ikan itu terusik lalu kabur.


Seekor ikan berukuran cukup besar masuk ke jebakannya. Ia mengibas-ibaskan ekornya tapi sepertinya tetap tidak bisa keluar dari jebakannya. Hati xavier sudah senang bukan kepalang, trick nya berhasil.


Ia segera berlari ke dalam kubangan jebakannya. Menginjak ikan itu kuat-kuat sampai menggelepar di bawah kakinya dan tidak lama ikan itu tidak lagi bergerak.


“Hah, apa aku berhasil?” Tanya Xavier pada dirinya sendiri.


Matanya sudah membola dan pelan-pelan mengangkat pijakan kakinya. Benar saja ikan itu terapung di air. Xavier segera mengambil ikan itu dengan mulutnya dan membawanya ke daratan.


Setelah di daratan ia menjatuhkannya kembali ikannya, di pandangi lekat-lekat dan sekarang ia bingung bagaimana cara memasaknya.


Ia teringat pada ucapan Thea, “Di duniaku orang-orang memakannya dalam keadaan mentah. Dan harganya jauh lebih mahal.” Ucapan gadis itu masih terngiang jelas di telinga Xavier.

__ADS_1


Dengan menghembuskan nafas kasar Xavier mendekati kembali ikannya. Menjilatnya pelan-pelan, rasanya sangat amis. Tidak enak seperti buatan Thea.


Tapi tidak ada pilihan, Xavier mulai menggigit ikan itu sambil menahan nafasnya. Matanya juga ikut terpejam. Satu gigitan kuat membuat darah ikan mengalir di mulutnya.


“Huwweekk..”


Xavier sudah hampir muntah tapi ia berusaha menahannya karena perutnya sangat lapar. Dengan berlinang air mata Xavier berusaha mengunyah ikan itu utuh. Pelan-pelan dan semakin lama ikan di mulutnya semakin *****. Ia mulai merasakan manis dari daging ikan itu dan setelah ***** seluruhnya ia menelan ikan itu.


“Hah, hah, hah...” Xavier menjulurkan lidahnya karena jijik sendiri namun ia tidak bisa memuntahkannya karena perutnya memang sangat lapar. Satu ikan ini cukup untuk kudapan saja.


Alih-alih menangkap ikan lainnya, Xavier memilih untuk pergi. Mencari permukiman terdekat untuk meminta makanan matang yang di panggang. Ia berkeliaran lagi di hutan. Mengendap-endap di antara rimbunnya pepohonan dan semak belukar.


Setelah cukup jaun berjalan, ia menemukan sebuah permukiman Klan tanah. Di antara rumah-rumah yang terbuat dari dedaunan itu xavier melihat asap yang mengepul. Wangi makanan tercium jelas menusuk hidungnya.


Ia mendekat. Mengendap-endap di belakang rumah. Orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang mengurus anak-anak, ada yang sibuk memotong kayu ada juga yang menjemur biji-bijian hasil panen. Mereka semua terlihat normal.


“SERIGALA!!! Ada Serigala!!!” teriak anak itu yang berlari menghampiri orang-orang dewasa. Dengan ketakutan, ia bercerita kalau ia baru saja melihat serigala. Anak itu bahkan menunjuk ke arah Xavier.


Xavier segera bersembunyi. Orang-orang sudah membawa senjata di tangannya yang siap mereka hunuskan kapan saja.


“Sebelah sana!” Seru seseorang yang melihat Xavier.


Xavier segera berlari dari permukiman itu dan masuk ke hutan. Tapi orang-orang terlanjur mengejarnya dan meleparkan tombah ke arahnya. Beruntung pergerakannya sangat lincah hingga ia bisa menghindar dari serangan tombak-tombak itu.


Xavier berlari tak tentu arah. Hingga tanpa sadar ia kembali masuk ke perbatasan Klan air. Ia berenang semampunya. Beruntung postur tubuhnya yang besar dan berat hingga ia tidak terbawa arus.


Tiba di tepi sungai, Xavier sampai terengah-engah. Perlahan ia sadar, tempat ini seperti tidak asing baginya.

__ADS_1


Ia berjalan perlahan menyusuri jejak-jejak kaki yang belum menghilang. Ia mengukurkan jejak kaki itu dengan kakinya lantas ia tersenyum. Ia mengenal benar jejak kaki itu sebagai jejak kaki Thea.


Akh, kenapa begitu mudah hutan ini mengingatkannya pada Thea?


Xavier berubah mutung. Ia terus berjalan sampai akhirnya tiba di tempat Thea menghilang. Ia mencium jejak-jejak Thea yang masih terasa di penciumannya. Suatu ketika, ia mencium wangi yang sangat kuat. Wangi milik Thea yang sangat ia yakini.


Ia berjalan menuju semak belukar. Tanpa sengaja, ia menemukan sebuah gelang dengan batu biru di tengahnya. Gelang itu bercahaya redup.


Xavier yang penasaran lalu mengambilnya. Di tepian sungai ia memandangi gelang itu. Dari baunya benar-benar bau Thea yang ia kenali.


“Thea, apa kamu sengaja meninggalkan ini untukku?” Batin Xavier.


Ia terduduk di tepi sungai, memeluk gelang itu erat-erat dengan kedua tangannya. Dan perlahan, ia merasakan energi yang tidak biasa dari gelang itu.


“Apa yang terjadi denganku?” Tanya Xavier saat tiba-tiba tubuhnya begitu ringan hingga terangkat.


“Tu-tunggu. Aku tidak bisa memijakkan kakiku.” Xavier terus menggerakkan kakinya tapi ia malah terangkat semakin tinggi.


Sebuah cahaya kebiruan muncul dan yang terjadi berikutnya, cahaya itu mengelilingi tubuh Xavier.


“Akh!!!” Xavier merasakan sakit yang luar biasa pada luka di lengannya. Luka kutukan yang dibuat oleh para tetua Klan api.


“AAARRGGGHHH....” Xavier mengerang.


“AAAUUUUUUUUUUU.....” Dan kemudian ia melolong tanpa bisa ia tahan. Tubuh Xavier melayang di udara begitu saja.


Apa yang sedang terjadi pada laki-laki ini?

__ADS_1


****


__ADS_2