Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Kericuhan


__ADS_3

Pagi itu Thea kembali memulai aktivitas panjangnya dengan bekerja di Coffee shop. Ia datang bersama Xavier yang tidak pernah jauh dari dirinya. Ingrid sampai heran karena laki-laki itu terus mengekori Thea kemana pun Thea melangkah. Dia baru berhenti saat Thea memberinya sarapan di atas meja. Satu piring penuh makanan yang di buat Ingrid.


“Sebenarnya, darimana kamu bisa mengenal laki-laki seperti itu?” Bisik Ingrid yang memperhatikan Xavier dari kejauhan.


Cara Xavier makan dengan begitu tergesa-gesa hingga mulutnya penuh dengan makanan, sangat aneh untuk laki-laki yang berpostur dan berwajah layaknya model majalah itu. Seperti lelaki itu tidak makan berhari-hari. Dan seumur-umur, baru sekarang ia melihat Thea memperkenalkan seorang teman, terlebih dia laki-laki.


“Dari dunia yang berbeda.” Ucap Thea apa adanya, ia meneruskan pekerjaannya membuat kopi pesanan para pelanggan.


Ia hanya sedikit melirik Xavier yang masih asik dengan makanannya. Mulutnya sampai belepotan oleh mayonnaise.


“Tentu, dia pasti dari dunia yang berbeda. Mana mungkin laki-laki berwajah tampan seperti itu makan seperti seekor serigala lapar?” Ingrid menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.


“Dia memang seekor serigala. Serigala tampan. Rawwrrr….” Thea menggoda rekannya dan membuat Ingrid terkejut dengan tingkah Thea.


"Hahahha... Kamu jahil Thea!" Ia menepuk bokong Thea dengan kesal. Namun Thea hanya terkekeh dan melanjutkan pekerjaannya.


“Apa dia juga seperti seekor serigala saat berada di atas ranjang?” Ingrid berbisik sensual di telinga Thea, membuat gadis itu bergidik.


“Apa maksudmu?” Thea menatap Ingrid dengan tidak mengerti.


“Oohhh ayolah Thea, jangan bercanda denganku. Bagaimana mungkin dua orang yang tinggal Bersama dalam satu apartemen sempit tidak melakukan apa-apa?” Ingrid menatap Thea dengan tidak percaya.


“Tidak mungkin kan kalau kalian tidak tergoda satu sama lain?” Ingrid membungkukkan tubuhnya di samping Thea, kedua tangannya bertumpu di atas meja.


“Lihat saja matanya yang biru seperti air yang menghanyutkan, hidungnya yang mancung, bibirnya yang pasti enak saat di *****, rahangnya yang kokoh dan tubuhnya yang atletis pasti sangat mempesona saat di atas ranjang.” Deskripsi Ingrid dengan isi kepala yang entah sudaH ber-traveling kemana saja.


“Ayolaahh Ingrid, itu terdengar sangat menjijikan. Pikirmu semua orang bisa melakukan hubungan seperti itu hanya karena penampilan fisik saja?” Thea mengambil baki di dekatnya lalu ia tempatkan beberapa gelas minuman di atasnya.


"Akh kamu terlalu idealis karena belum merasakannya. Lihat saja kalau kamu sudah merasa terbakar, idealis itu akan hilang." Decik Ingris.


“Kalau begitu, katakan padaku, apa yang kalian lakukan semalam? Apa tidak berciuman sekalipun?” Ingrid masih dengan rasa penasarannya.


“Apa lagi? Aku tidur dan dia nonton acara gulat di tv.” Jawab Thea apa adanya.


“Oh ya? Menonton gulat atau menyimak tutorial menjatuhkan lawan di atas ranjang?” Ingrid masih dengan keinginannya menggoda Thea.


“Kamu gila!” Timpal Thea. Ia pun segera pergi mengantar pesanan. Mendengarkan Ingrid tidak akan ada habisnya.


Ingrid hanya terkekeh kecil. Thea memang terlalu polos untuk di ajak berbicara hal semacam itu.

__ADS_1


“Silakan kopi anda tuan.” Ujar Thea saat tiba di sebuah meja.


“Terima kasih Thea. Warna tosca ini sangat cocok untuk kulitmu yang putih.” Puji seorang pelanggan sambil menunjuk baju yang dikenakan Thea.


“Terima kasih tuan.” Sambut Thea. Ia memberikan kopi ke pelanggan lainnya dan tiba-tiba saja seseorang menepuk bokongnya.


“Apa yang anda lakukan tuan?” Thea segera berbalik pada laki-laki di belakangnya.


“Tidurlah denganku malam ini Thea. Maka aku akan memberikan semua hasil judiku padamu. 150.000 dollar. Bagaimana?” Tawar laki-laki itu dengan tatapan merendahkan Thea.


Semua tatapan langsung tertuju pada Thea dan laki-laki itu, termasuk Xavier. Baru kali ini ada yang merendahkan Thea dengan cara seperti ini.


“Anda keterlaluan tuan. Silakan simpan uang itu untuk diri anda sendiri, saya tidak membutuhkannya.” Ucap Thea dengan kesal. Beruntung ia masih bisa mengendalikan diri dan tidak menyiramkan kopi di bakinya pada laki-laki itu.


“Kamu terlalu jual mahal, jal*ng!!” decik laki-laki itu seraya menyeringai.


Tiba-tiba “Brug!” Xavier membenturkan kepala laki-laki itu ke atas meja. Laki-laki itu sampai kelimpungan merasakan serangan Xavier yang tiba-tiba. Tangan Xavier masih mengunci ketat lehar laki-laki tua itu.


“Aaakkk…” Orang-orang kompak terhenyak kaget. Entah sejak kapan Xavier ada di samping Thea dengan begitu cepatnya.


“Astaga Xavier,” Thea segera meraih tangan Xavier yang mencengkram kerah leher pria tersebut. Laki-laki itu sampai terengah karena tercekik.


“Lepaskan Xavier.” Pinta Thea sambil menarik tangan Xavier.


“Iya, aku tau. Tapi jangan lakukan hal semacam ini di sini.” Thea menatap Xavier dengan tajam agar melepaskan laki-laki itu.


“Aku sudah bilang, jangan tunjukkan kekuatanmu di sini Xavier.” Bisik Thea dengan penuh penekanan di telinga Xavier.


Walau masih kesal, akhirnya Xavier melepaskan cengkraman tangannya. Nyala merah di matanya pun mulai meredup.


Akh, menakutkan saja.


*****


Tidak bisa membiarkan Xavier lebih lama menarik perhatian, akhirnya Thea membawa laki-laki itu pergi lebih cepat dari Coffee shop. Ia masih kesal dengan Xavier yang tidak bisa mengendalikan dirinya, padahal Thea sudah mengingatkannya beberapa kali.


“Xavier, bisakah kamu lebih mengendalikan diri? Aku sudah bilang, jangan memperlihatkan kekuatanmu di depan banyak orang.” Protes Thea saat sudah berada di luar Coffee shop.


Bukannya merasa bangga tapi Thea malah merasa takut kalau orang-orang tahu siapa sebenarnya Xavier.

__ADS_1


Xavier hanya bisa tertunduk, mengikuti langkah Thea di sampingnya. Ia menyesal tapi apa yang dilakukannya tadi refleks tubuhnya yang sulit dikendalikan. Kemarahannya tiba-tiba saja muncul saat melihat tangan laki-laki itu menyentuh bokong Thea.


“Beberapa pelanggan memang suka iseng, tapi kemudian mereka akan meminta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi. Tenanglah, aku sudah terbiasa menghadapi kondisi semacam itu.” Lanjut Thea seraya mengguyar rambutnya kasar. Walau ia akui, ia kerap merasa sedih mendapat perlakuan semacam itu.


“Tapi aku tidak menyukainya. Lebih baik dia menghajarku daripada merendahkanmu.” Baru kali ini Xavier menimpali. Ia menghentikan langkahnya di belakang Thea.


Thea tertegun mendengar ucapan Xavier.


“Kamu tidak layak untuk di rendahkan Thea. Lawanlah mereka, agar mereka tidak semena-mena terhadapmu.” Lanjutnya lagi dengan tatapan penuh kekhawatiran pada Thea.


Thea tidak lantas menimpali ataupun berbalik pada Xavier. Ia masih terdiam, berusaha mengenali debaran jantungnya yang mendadak cepat saat mendengar ucapan Xavier. Baru kali ini ada seseorang yang memikirkan martabatnya.


“Apa kamu sedang bercanda? Menurutmu bagaimana caraku melawan mereka? Aku tidak punya kekuatan sepertimu Xavier. Aku hanya bisa berbicara baik-baik dengan mereka dan membuat mereka berpikir kalau yang mereka itu lakukan salah lalu mereka meminta maaf. Itu saja.” Akhirnya Thea menjawab.


Ia berbalik pada Xavier yang mematung di tempatnya.


“Itu yang bisa aku lakukan sebagai seorang manusia dan seorang wanita.” Tegas Thea.


“Kalau begitu, biarkan aku melakukannya.” Sahut Xavier dengan cepat.


“Apa? Apa yang mau kamu lakukan? Menghajar mereka dengan kekuatanmu, lalu sebagian orang akan meneriakimu jahat dan lainnya memujamu. Waahh dia laki-laki hebat. Begitu?” Tanya Thea yang tersenyum sarkas pada Xavier sambil bertepuk tangan.


Xavier menggeleng, ia menyesali perbuatannya tadi karena sudah membuat Thea marah dan kesal. Ingrid bahkan menyuruh Thea pergi dan membawa Xavier keluar dari coffee shopnya. Bukan karena ia tidak suka pada Thea, tapi ia ingin Thea menenangkan Xavier dan tidak membuat rusuh di tempatnya.


“Jadilah kekasihku, maka aku akan melindungimu.” Ucap Xavier dengan yakin.


“Apa?” Thea sampai terperangah tidak percaya dengan yang di dengarnya.


“Kamu dengar dari mana kalimat seperti itu?” Thea menghampiri Xavier dan berdiri tepat di hadapannya.


Laki-laki itu hanya mematung, menatap Thea dengan sungguh.


“Aku tidak pernah meminta perlindungamu Xavier. Dan lagi pula kamu lucu, kamu menawarkan sebuah jaminan dan syarat di waktu yang bersamaan. Aku harus jadi kekasihmu dengan alasan kamu bisa melindungiku. Hahaha, kamu yakin cara kerjanya seperti itu?” Thea tersenyum geli mendengar tawaran Xavier.


Xavier hanya terdiam melihat respon Thea. Apa mungkin ucapan pria heroik di acara drama yang di tontonnya itu salah? Kenapa Thea malah tertawa?


“Sudahlah Xavier, aku harus pergi ke kampus. Terserah kamu mau pergi kemana, tapi jangan terus-menerus mengikutiku.” Ucap Thea yang akhirnya berlalu pergi dari hadapan Xavier sambil menggelengkan kepalanya.


Dalam pikirnya, ada-ada saja tingkah Xavier ini.

__ADS_1


Sementara itu, Xavier masih mematung di tempatnya. Ia memikirkan benar apa yang salah dari ucapan yang ia sampaikan pada Thea tadi.


****


__ADS_2