Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Kecanggungan


__ADS_3

“Apa kita memang harus menaiki benda ini?” Tanya Xavier yang duduk di boncengan Thea. Ia berpegangan pada kedua sisi jok dengan gemetar.


“Tentu. Kita harus mengantar pesanan makanan ini ke alamat para pelanggan.” Di belakang Xavier ada sebuah box yang menyimpan beberapa pesanan makanan untuk Thea antar.


Ini kali pertama Xavier naik motor setelah tadi ia merasakan naik taksi yang membuatnya merasakan pusing, mual dan ingin muntah di waktu yang bersamaan. Apalagi pengemudinya terus mengajak Xavier berbicara walau ia sudah kewalahan dan ingin segera sampainya.


Dan kali ini, rasanya sangat mengerikan saat Thea berpapasan dengan kendaraan lain dari arah sebrang atau saat sebuah kendaraan yang lebih besar menyalip mereka. Motor yang dipakai Thea pun di pacu delam kecepatan tinggi karena harus mengantar pesanan tepat waktu. Akh, baru kali ini Xavier di buat tegang oleh Thea.


“Aku bisa mengantarmu dengan berjalan kaki Thea. Kamu tau, aku juga bisa berlari dengan sangat cepat.” Tawar Xavier yang kali ini memegangi helm nya yang kekecilan.


“Kamu tidak boleh menggunakan kekuatanmu di duniaku Xavier. Paling tidak, jangan terlihat kamu menggunakannya. Karena orang-orang akan kebingungan dan kamu akan menjadi pusat perhatian. Kamu juga akan di buru oleh para wartawan dan rasanya tidak nyaman.”


“Lagi pula, aku harus mengantarkan makanan ini ke alamat para pelanggan dalam kondisi selamat dan utuh. Kalau kamu mengantarku sambil berlari, mungkin makanannya akan rusak dan berantakan. Kamu juga tidak tahu arahnya kan?”


Terang Thea dengan panjang lebar. Thea melihat Xavier yang menyimaknya dari spion.


“Iya, aku mengerti.” Sahutnya yang duduk patuh di belakang Thea.


Sekali waktu, ia melihat seseorang mengendarai motor besar dengan gagah. Ia mengenakan style pakaian yang mirip dengan dirinya.

__ADS_1


“Apa dia juga mengendarai benda yang sama dengan kita?” Perhatian Xavier tertuju pada motor sport yang melaju dengan kencang lalu menghilang di ujung jalan sana.


“Iya. Sangat keren bukan?” Timpal Thea.


Xavier terangguk. “Apa aku bisa mendapatkan benda itu kalau aku juga bekerja?” Tanyanya lagi, seperti anak kecil yang sudah tidak tahan ingin membeli mainan.


“Tentu saja. Tapi kamu harus bekerja cukup lama untuk mendapatkan kendaraan itu karena harganya sangat mahal.”


“Baiklah, aku mengerti.”


Seharian itu Xavier mengikui Thea bekerja. Mengantar makanan ke banyak alamat, lalu membersihkan ruangan resto, ia juga membantu Thea membuang sampah. Semua kegiatan ini cukup menyenangkan baginya terlebih saat ia menerima bayaran atas pekerjaannya.


“Duduklah.” Ucap Thea, seraya menunjuk sofa dengan ujung matanya.


Xavier patuh duduk di sana.


“Sofa itu akan menjadi tempat tidurmu dan aku akan tidur di sini.” Thea menunjuk ranjangnya yang hanya muat untuk satu orang.


“Terima kasih.” Timpal Xavier. Ia menepuk-nepuk permukaan sofa, rasanya cukup nyaman.

__ADS_1


“Bagian ini, namanya dapur Xavier, tempat aku membuat makanan. Lalu ini, adalah kamar mandi, tempat kamu bisa membersihkan tubuhmu. Tutup pintunya saat kamu sedang menggunakannya.”


Xavier mengangguk paham saat Thea menunjukkan dua tempat berbeda itu.


“Benda di hadapanmu ini adalah televisi. Kamu bisa melihat berbagai macam siaran.” Thea menyalakan televisinya sambil duduk di samping Xavier.


“Lihat, ini remote-nya. Ini untuk menyalakan dan mematikan televisi. Saat kamu tidak menontonnya atau kamu akan bepergian, kamu harus mematikannya. Lalu tombol yang ini untuk mengganti saluran dan ini untuk memperkecil atau memperkeras volume suaranya. Cobalah.” Thea memberikan remote itu pada Xavier.


Walau ragu, akhirnya Xavier mengambilnya. Ia mulai mencoba menekan-nekan tombol seperti yang di ajarkan Thea. Bibirnya tersenyum kecil, layaknya anak-anak yang diberi mainan baru.


“Bagus, kamu belajar dengan cepat Xavier. Nikmatilah, aku mau membersihkan badanku dulu.” Ucap Thea seraya beranjak dari samping Xavier. Ia mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.


Di atas sofa itu Xavier masih terdiam. Ia memandangi tempat kosong yang tadi di duduki Thea. Ia berpikir, mungkin akan menyenangkan kalau ia bisa melihat berbagai tayangan di televisi bersama Thea. Namun saat ini, ia hanya bisa berharap.


Beberapa chanel tayangan di pilih bergantian oleh Xavier. Ia berulang mengganti siaran yang menurutnya menjemukan. Di mulai dari tayangan drama, berita malam, variety show hingga tayangan olahraga dan tayangan documenter kehidupan alam.


Xavier anteng sendiri menyaksikan tayangan di hadapannya. Saat seekor harimau berburu beberapa ekor rusa, jiwanya seperti ikut terbawa dalam petualangan itu. Ia sampai tidak sadar kalau Thea sudah selesai mandi.


*****

__ADS_1


__ADS_2