Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Kegilaan Ingrid


__ADS_3

“Sore nanti, aku akan bertanding gulat. Kamu mau ikut?” Tawar Xavier di sela sarapan pagi mereka.


“Jam berapa?” Thea menaruh sepiring telur omelete di atas meja.


“Entahlah. Mungkin sekitar jam pulang kuliahmu.”


“Aku usahakan.” Thea membawa beberapa piring makanan yang sudah selesai ia buat ke atas meja makan.


“Kenapa?” Tanya Thea, saat ia sadar kalau Xavier sedang memandanginya.


“Apa kamu baik-baik saja?” Rupanya laki-laki ini mencemaskan Thea.


“Ya, aku baik-baik saja. Hanya saja aku sering merasa aneh. Apalagi saat aku sedang berada di dekat air. Kalau aku mengangkat tanganku, aliran air tiba-tiba berhenti. Dan sering kali aku tidak bisa mengontrol kekuatanku. Aku takut itu akan membahayakan orang-orang di sekitarku.” Ungkap Thea sambil memandangi telapak tangannya. Pagi tadi ia tidak sengaja memecahkan satu kaca jendela kamar mandi saat tiba-tiba tangannya membulat bola air dan menghantam kaca jendela.


“Cobalah untuk berlatih di danau atau sungai. Mungkin itu bisa membantumu belajar mengendalikan kekuatanmu.”


“Baiklah, aku akan mencobanya.” Thea menyanggupi.


Sarapan itu berlanjut sampai jam keberangkatan kerja.


*****


Seperti biasa, sebelum ke kampus Thea pergi ke coffee shop terlebih dahulu untuk bekerja. Ingrid terlihat sibuk dengan banyak pelanggan yang memesan. Thea segera mengambil celemeknya dan berdiri menggantikan posisi Ingrid di meja pemesanan.


“Apa tidurmu terlalu nyenyak? Tidak biasanya kamu terlambat.” Tanya Ingrid yang mulai sibuk dengan membuat makanan. Sementara Thea membuatkan kopi sesuai pesanan yang di tulis Ingrid.


“Aku tidak bisa tidur dan baru tidur dini hari. Jadi aku terlambat.” Sahut Thea. Tangannya sibuk membuat latte yang ia hias dengan foam di atasnya.


“Apa terjadi sesuatu?” Ingrid mengambil baki dan menaruh makanan di atasnya.

__ADS_1


“Tidak. Hanya saja belakangan ini aku sering mimpi buruk.” Thea hentikan sejenak obrolannya dengan mengantarkan makanan ke meja pemesan.


“Pesanan anda tuan. Selamat menikmati.” Ujar Thea.


“Terima kasih Thea.” Sahut laki-laki tersebut.


Kembali ke meja pemesanan dan ia mendapati Ingrid sedang memandanginya.


“Apa?” Thea bisa melihat kalau Ingrid memiliki banyak hal yang ingin dia tanyakan.


“Kemarin ada seorang laki-laki yang mencarimu dan mencari teman laki-lakimu ke sini. Kalau kamu ingat, laki-laki itu adalah laki-laki bertubuh tegap yang memesan makanan dengan bingung, tempo hari.” Terang Ingrid.


“Oh, Asher. Ada apa dia mencariku?”


“Kamu mengenalnya?” Ingrid semakin penasaran. Respon Thea terlalu santai menurutnya.


“Dia memberitahuku namanya. Hanya itu saja.”


“Aku mau memesan menu sarapan satu paket untuk ku bawa pulang.” jawab Wanita dengan penampilan berantakan itu.


Dari mulutnya tercium bau alcohol yang menyengat. Ingrid yang ikut melirik, hanya tersenyum melihat penampilan wanita itu. Sepertinya ia baru pulang dari club. Ia yakin wanita ini pun dengan laki-laki yang buas karena banyak tanda kepemilikan di lehernya yang putih.


Sebuah kartu debet ia gunakan sebagai alat pembayaran.


“Silakan anda menunggu di meja yang kosong. Kalau perlu ke toilet, toilet kami ada di sebelah sana.” Ucap Thea dengan ramah.


Wanita itu tidak menimpali. Setelah mengambil struk pembayaran dan kartu debitnya, ia pergi ke arah yang di tunjuk Thea, toilet.


“Bentuk bibirnya beda-beda. Pasti dia melakukannya dengan banyak pria.” Komentar Ingrid setelah wanita itu pergi.

__ADS_1


“Kamu terlalu observative.” Ledek Thea.


“Hahahaha… Aku selalu bergairah setiap kali melihat penampilan seseorang yang berantakan sehabis bercinta. Sayangnya, baru minggu lalu aku memutuskan pacarku. Sudah 6 malam aku tidur sendirian. Padahal menjelang masa menstruasiku, libidoku sedang sangat tinggi. Apa harus aku tarik satu pelanggan ke kamarku?” Ucapan Ingrid jadi tidak karuan.


“Jangan bodoh. Rotimu gosong, Ingrid.” Thea mengingatkan.


“Dia belum berbunyi Thea. Jangan mengganggu kesenanganku untuk berkhayal.” Timpal wanita itu dengan kesal.


“Jangan hanya menghayal, carilah laki-laki lain yang lebih baik dan nikmati hubungan yang sehat.”


“Apa hubunganmu dengan laki-laki itu pun sehat?” Mata Ingrid tertuju pada Xavier yang duduk di kursi depan coffee shop. Laki-laki itu memang sengaja tidak masuk. Ia lebih asyik menonton tayangan melalui ponselnya.


“Apa kamu sudah tidur dengannya?” Ingrid tersenyum nakal pada Thea.


“Selesaikan pesanan paket satu, pemiliknya sudah kembali dari toilet.” Timpal Thea, tidak ingin menjawab pertanyaan Ingrid yang membuat bulu kuduknya meremang.


“Biar ku tebak," Ingrid menatap Thea lekat seperti memperhatikan benar ekspresi wajah Thea.


"Kalian belum melakukan apapun. Akh, kamu selalu lambat Thea.” Ingrid menaruh menu pesanan di atas baki.


“Pikirkan hal lain yang lebih masuk akal Ingrid.” Sahut Thea yang memilih mengantarkan makanan ke meja wanita tersebut di banding meladeni ucapan Ingrid yang absurd.


“Dia terlalu naif.” Decik Ingrid yang menggelengkan kepalanya.


“Padahal laki-laki itu sangat seksi.” Lanjutnya sambil memperhatikan Xavier yang ada di luar. Saat laki-laki itu terdiam saja, pesonanya sangat kuat.


Tidak heran kalau beberapa orang yang melewati toko menoleh sosok Xavier yang seperti tidak terganggu sedikitpun.


“Aku harap Thea adalah wanita yang normal.” Gumamnya menyayangkan.

__ADS_1


*****


__ADS_2