
Satu-satunya rumah yang menjadi tempat bersejarah bagi Thea akhirnya harus di tinggalkan. Bangunan tua yang selama 20 tahun ini ia tinggalkan, sekarang benar-benar hanya akan menjadi cerita.
Rencana Thea untuk bermalam di rumah ini urung dilanjutkan setelah adanya serangan tidak terduga dari pelayan klan air, Doroti.
Wanita itu telah membuka kotak pandora asal muasal keberadaan Thea tapi kemudian membuat gadis itu semakin penasaran dengan semua kisah dirinya terutama kisah sang ibu.
Dengan menunggangi kuda besi, Xavier membawa Thea pulang malam itu juga. Ia tidak bisa mengambil resiko dengan kemungkinan adanya serangan lain dari mahluk yang menginginkan kekuatan Thea.
Terlebih kekuatan Thea mulai pulih dan tidak terarah. Kekuatannya seperti air yang deras dam belum tertampung dalam tempat yang tepat. Harus Xavier akui kalau ia mulai merasakan kekuatan Thea. Terutama saat jarak mereka serapat ini.
Di jalanan beraspal yang sepi dan dingin, motor Xavier melaju dengan kecepatan tinggi. Thea berpegangan erat pada laki-laki di hadapannya seraya menyandarkan kepalanya di bahu lebar Xavier. Sesekali Xavier memperhatikan wajah Thea yang tampak melamun dan kebingungan, terpantul dari spion. Otaknya seperti masih belum bisa mencerna semua kejadian hari ini dengan seluruhnya.
Tengah malam, mereka baru sampai di apartemen. Thea langsung masuk sampai ia lupa kalau ia masih memakai helm.
“Thea, helm nya.” Panggil Xavier.
Gadis itu berhenti sejenak lalu menoleh pada Xavier.
“Boleh aku lepas di dalam kan?” Tanyanya dingin.
“Ah, iyaa… Tentu saja boleh.” Sahut Xavier yang salah tingkah dengan sikap dingin Thea. Ia menggaruk kepalanya walau tidak gatal. Ia putuskan untuk segera menuyul Thea ke dalam.
__ADS_1
Tiba di dalam apartemenn, Thea segera melepas helmnya. Menaruhnya di atas meja. Setelah itu ia memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ralat, untuk menenangkan dirinya.
“Thea, kamu tidak membawa handuk.” Ucap Xavier dari luar kamar mandi. Padahal Thea sendiri yang selalu mengingatkan agar tidak lupa membawa handuk dan sekarang entah apa alasannya.
“Astaga!” seru Xavier saat tiba-tiba Thea muncul di balik pintu kamar mandi. Tubuhnya mulai basah dan masih berbalut pakaian. Sepertinya gadis ini memang tengah kebingungan hingga semuanya serba salah.
“Bisa tolong ambilkan?” pintanya.
“Oh, ya tentu!” Xavier segera beranjak. Pertama ia pergi ke dapur, tapi kemudian kembali ke dekat tempat tidur Thea saat sadar kalau handuk Thea tergantung di dekat sana.
Ia pun jadi ikut linglung sekarang.
“Terima kasih!” tanpa berbasa basi, gadis itu langsung menutup pintu dan membuat Xavier terperanjat.
“Astaga Thea, kamu pendiam begini membuatku ketar-ketir sendiri.” Ucap Xavier.
Sambil menunggu Thea mandi, Xavier memutuskan untuk menonton televisi.
Di dalam kamar mandi sana, Thea tengah membersihkan dirinya. Ia menanggalkan satu per satu pakaian yang melekat basah di tubuhnya hingga tubuhnya polos tanpa satu helai benangpun.
Buliran air kini mulai membasahi tubuhnya secara utuh. Di antara usaha Thea menikmati mandinya, tiba-tiba saja ia terisak. Ia mengingat kembali cerita sang pelayan tentang kepergian ibunya. Di benaknya, muncul dengan jelas reka adegan di malam kelahirannya. Malam yang menjadi pertemuan pertama dan terakhir Thea dengan wanita yang sudah melahirkannya.
__ADS_1
Rasanya saat menyakitkan saat mengingat kepergian Clara karena usaha sang ibu untuk melindungi dirinya.
Dongeng yang biasa di ceritakan oleh Tristanpun mendadak menjadi sebuah kenyataan. Dewi air yang katanya cantik dan baik hati itu nyatanya adalah ibunya sendiri.
Tunggu, ada cerita Tristan yang memang sesuai dengan kenyataan.
“Dewi air jatuh cinta pada seorang manusia yang tersesat di dunianya. Ia ikut ke dunia manusia tersebut dan ternyata ia tidak bisa kembali.”
Ya, kalimat itu sepertinya benar adanya. Itulah yang dialami Clara setelah ia jatuh cinta pada Tristan.
Di akhir cerita Tristan selalu mengatakan kalau Dewi air itu hidup bahagia bersama kekasihnya. Mereka tinggal di sebuah gubuk sederhana dengan hamparan rumput yang luas di sekitarnya. Mereka memiliki banyak ternak yang biasa menemani mereka menghabiskan waktu seharian. Mereka juga memiliki 3 orang anak yang sangat mereka sayangi.
Sayangnya, akhir cerita itu sepertinya hanya karangan Tristan yang ingin memberitahu Thea, bahwa setiap cerita harus berakhir bahagia dan indah. Tapi rupanya ini berkebalikan dengan cerita yang sebenarnya. Cerita keluarganya tidak seindah itu. Pada akhir Thea hanya sendirian tanpa kedua orang tuanya. Akhir cerita yang indah itu hanya milik dongeng yang biasa ia dengar, bukan milik hidupnya sendiri.
Tubuh Thea sudah mulai kedinginan. Ia iseng mengangkat tangannya dan memfokuskan pikirannya pada air yang mengalir dari shower. Sedikit menjauh dari buliran air dan ia berusaha mengendalikan air itu.
Awalnya air yang berjatuhan itu turun melambat. Thea memutar tangannya dan mengepalkan tangannya. Ajaibnya, air itu berhenti mengalir. Walau tak kasat mata, Thea seperti menggerakkan air ke arah manapun yang ia mau. Lalu saat membuka kembali genggaman tangan, air itu berjatuhan.
“Apakah aku benar-benar bisa mengendalikan air?” gumam Thea seraya memandangi telapak tangannya.
****
__ADS_1