Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Kepergian Dewi Air


__ADS_3

Hembusan angin yang kencang menjadi sahabat baik bagi hujan yang turun dengan deras. Sesekali petir menyambar membuat suasana malam itu terlalu mencekam.


Di sebuah gubuk di dalam hutan, seorang wanita sedang mengerang kesakitan, berjuang antara hidp dan mati untuk melahirkan seorang bayi yang menjadi buah cinta ia dengan suaminya.


“Bertahan yang mulia, sedikit lagi bayi anda akan terlahir.” Ucap Doroti muda, 25 tahun lalu.


Ia membiarkan Clara, sang Dewi air, berpegangan pada tangannya yang di genggam erat. Sementara Tristan tampak kebingungan melihat istrinya yang kesakitan namun tidak bisa membantunya. Ia mengambil banyak kain untuk melap darah yang menggenang di sekitar Clara.


“Bertahan sayang, bertahanlah.” Ucapnya. Beberapa kali ia mengganti kain alas Clara tapi lagi, kain itu basah dan penuh dengan darah.


Clara menghela nafas dalam di sela hembusan nafasnya yang semakin pendek dan lemah.


“Aaarrrkkkhhhhh!!!!” Ia berteriak sekerasnya untuk mendorong bayinya keluar hingga yang terdengar kemudian adalah suara tangis bayi yang sangat nyaring.


“Bayi anda seorang perempuan, yang mulia.” Ucap Doroti yang tersenyum lega.


Ia segera mengambil bayi itu dan membungkusnya dengan kain putih. Ia membersihkan tubuh bayi yang masih merah itu dengan perlahan. Bayi cantik bermata coklat milik sang ayah.


"Dia sangat cantik yang mulia." Doroti memberikan bayi itu pada Clara.


Clara menggendongnya dengan hati-hati lantas ia memandangi bayinya yang sedang menangis.


“Sssttt… Tenanglah nak. Ibu ada di sini.” Ucapnya lirih seraya mengecup dan menimang pelan sang bayi untuk menenangkannya.


“Dia sangat mirip denganmu.” Ucap Clara, yang menunjukkan bayinya pada Tristan.


Tristan segera mendekat dan menatap bayi itu dengan penuh haru. Ini kebahagiaan terbesarnya karena memiliki anak dari wanita yang sangat ia cintai.


Tidak lupa ia mengecup pucuk kepala Clara dengan penuh sayang, sebagai bentuk ucapan terima kasih.


“Bukankah kamu sudah menyiapkan nama untuknya?” Tanya Tristan dengan mata berkaca-kaca. Sesekali ia mendesis untuk menenangkan putrinya yang masih menangis.


“Thea. Aku menamainya Thea.” Ucap Clara dengan tatapannya yang hangat.


Seketika tangis Thea terhenti, ia tersenyum pada sang ibu seperti tahu kalau Clara menamainya dengan penuh cinta.


“Yang mulia, lihat apa yang tuan putri lakukan.” Tunjuk Doroti pada derai hujan di luar gubuk mereka.


Air hujan menggantung, urung menetes dan udara yang berhembus seolah terhenti. Darah yang menetes dari tempat tidur Clarapun ikut berhenti.


“Dia mewarisi kekuatanku.” Ucap Clara dengan cemas.


“Apa yang terjadi? Apa ada masalah kalau putri kita mewarisi kekuatanmu?” Melihat Ekspresi Clara yang berubah tiba-tiba, Tristan ikut panik.


“Karena dia seorang anak perempuan, dia hanya akan bertahan hidup hingga usia 10 tahun waktu di dunia ini. Dia juga akan di buru para menghuni Godland yang terkutuk, karena kekuatannya akan bisa menghancurkan mantra apapun. Dia akan menarik perhatian banyak manusia dengan auranya yang kuat dan tentu saja, dia akan menjadi musuh terbesar raja yang berkuasa dari empat klan yang ada.” Terang Claras dengan mata berkaca-kaca dan kemudian bulir itu menetes di pipi Thea.

__ADS_1


Sama seperti dirinya, takdir Thea akan selalu berlawanan dengan raja yang berkuasa.


Thea kembali menangis dengan sangat keras, seperti ia bisa merasakan kegundahan hati ibunya. Di waktu yang bersamaan, hujanpun turun dengan deras, angin berhembus sangat kencang dan petir saling menyambar tiada henti.


Clara memeluk tubuh mungil putrinya dengan erat, seperti ia sangat takut kehilangan putri yang baru di lahirkannya.


“Sayang, lalu apa yang harus kita lakukan?” Tristan kebingungan melihat dua wanita ini menangis.


Clara menggeleng. “Tidak ada yang bisa kita lakukan selain mengikat auranya.” Ucap Clara dengan putus asa.


“Baiklah! Ayo kita lakukan!” Seperti mendapat kesempatan besar, Tristan langsung menyetujuinya.


“Apa maksud anda tuan? Anda ingin yang mulia mati sia-sia?” Doroti menyalak tidak terima.


“Apa maksudmu? Aku tidak meminta Clara mati dengan sia-sia.” Balas Tristan yang ikut menyalak.


“Tapi dengan mengikat aura tuan putri, itu berarti yang mulia harus memutus urat nadinya dan menyatukannya dengan urat nadi tuan putri. Dan itu berarti, yang mulai akan,…”


“Cukup Doroti, kamu berbicara terlalu banyak!” Bentak Clara dengan kesal. Ia menatap Doroti dengan tajam, menurutnya pelayannya ini terlalu lancang.


“Ampuni hamba yang mulia.” Doroti tertunduk patuh di hadapan Clara.


“Kalau begitu, jangan lakukan. Aku tidak bisa melihatmu pergi Clara.” Tristan segera mengubah keputusannya.


“Lalu maksudmu kita akan membiarkan putri kita di buru selama hidupnya?"


“Sial! Tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi Clara! Bagaimana hidupku dan putri kita kalau kamu pergi?”


“Lalu apa kamu tega membunuh anak kita sendiri?!” Thea balas menyalak. Perasaannya tidak kalah hancur di banding perasaan Tristan.


Tristan jatuh terduduk dengan wajah bingung saat mendengar pertanyaan Clara. Wajahnya berubah pucat seperti ia tengah melihat bakal kematian di hadapan kedua wanita yang ia cintai. Ia tidak mungkin memilih salah satunya karena ia tidak bisa kehilangan satu di antara dua nyawa berharga ini.


“Percayalah Tristan, walau aku harus pergi, tapi aku akan selalu ada di hati kalian. Di semangat hidup kalian, seperti air yang mengalir, kalian akan selalu menjadi muaraku.” Ucap Clara seraya terisak-isak.


Tiba-tiba saja, angin semakin bergemuruh. Ada banyak bayangan yang seperti mengelilingi gubuk mereka dan hendak masuk.


“Mereka mulai merasakan keberadaan putri kita. Kita tidak punya banyak waktu Tristan. Kita harus melakukannya sekarang.” Ucap Clara dengan tergesa-gesa. Dengan tubuhnya yang lemah, Clara berusaha bangkit dari tempat tidurnya.


“Apa maksudmu Clara. Kita belum memutuskan apapun.” Tristan segera menahan tangan Clara namun dengan cepat Clara mengibaskannya.


“Mereka semakin mendekat dan mungkin akan mengambil putri kita. Aku tidak bisa membiarkannya.” Clara yang panik segera membaringkan tubuh mungil Thea di atas sebuah meja sementara ia mengambil pisau yang ia arahkan ke urat nadi di lengan kirinya.


“Yang mulia, saya mohon jangan lakukan ini.” Doroti segera menahannya namun Clara mengibaskannya hingga wanita itu terpental jauh.


Dengan kekuatannya, Clara membentengi ia dan Thea dengan putaran air yang kuat. Tristan dan Doroti sama-sama berusaha mendekat namun tubuh mereka selalu terpental. Mereka hanya bisa melihat dari kejauhan apa yang kini di putuskan Clara. Melihat pengorbanan seorang ibu untuk anak yang begitu dicintainya.

__ADS_1


“Thea putriku, aku mengikat aura dan takdirmu dengan urat nadiku. Takdirmu akan terbuka saat kamu bertemu dengan takdirmu yang sesungguhnya. Percayalah, ibu menyayangimu.” Ucap Clara yang menggores urat nadinya dengan sebilah pisau tajam.


Saat itu juga darah Clara menetes di atas tubuh Thea yang masih merah. Bayi itu tidak menangis sedikitpun seperti ia bersiap menjemput takdir yang di tentukan ibunya.


Clara tersenyum melihat bayi mungilnya yang cantik dan menggemaskan. Air matanya terus menetes sebagai bentuk salam perpisahan untuk putri kecil yang baru ia lahirkan.


Perlahan namun pasti, cahaya berkilauan menyinari gubuk itu saat Clara menarik urat nadinya sendiri. Walau kesakitan, ia tetap melanjutkan apa yang sudah ia mulai. Ia melingkarkan urat nadi itu di legan kiri Thea. Di antara simpul yang dibuatnya, ia menyelipkan sebuah batu berwarna biru yang menjadi tanda cinta Tristan kepadanya.


Urat nadi itu mengikat lengan kiri Thea bersamaan dengan batu berharga pemberian Tristan. Gelang melingkar di pergelangan tangan kiri Thea, kini mulai menyatu dengan tubuhnya.


Clara menatap bayi itu dengan perasaan yang entah. Ia meraih tubuh bayi mungil menangis di tempatnya lalu ia gendong dan dipeluknya dengan erat. Clara sesegukan dengan tangisnya yang dalam seraya mengecupi tangan mungil yang meggenggam telunjuknya.


Perlahan putaran air yang menutupi tubuh keduanya mulai samar. Clara mulai lemah dan tetesan darah dari pergelangan tangan kirinya mulai terhenti.


“BRUG!” Wanita itu jatuh terduduk di tempatnya sambil menggendong Thea.


“CLARA!!” Seru Tristan yang baru bisa mendekat.


Clara yang sudah lemah, hanya bisa tersenyum kecil. Wajahnya pucat dengan titik-titik keringat di wajahnya.


“Tolong jaga putri kita. Jangan biarkan siapapun menyakitinya.” Ucap Clara dengan gemetar. Ia memberikan Thea pada suaminya yang terduduk di sampingnya.


“Aku tidak bisa. Aku tidak bisa mengurus anak ini tanpamu Clara.” Tristan dengan air matanya yang berurai, menatap Thea dan Clara bergantian.


“Tidak. Kamu pasti bisa. Kamu akan menjadi ayah yang hebat untuk anak kita.” Tangan Clara yang gemetar menggenggam tangan Tristan yang berlumuran darah.


“Jangan ceritakan siapa aku. Cukup dia tau kalau aku sangat menyayanginya. Hem?” Pinta Clara dengan sungguh.


Ia mengusap kepala Thea, membuat rambut coklat itu diiputi darah ibunya. Di kecupnya kepala Thea cukup lama dan bayi itu hanya bisa menangis.


“Akh,…” Clara meringis lirih saat perlahan kekuatan di tubuhnya mulai hilang.


“Clara, bertahanlah!” Seru Tristan yang panik.


Satu tangannya menggendong Thea sementara tangan lainnya menggenggam tangan Clara yang mulai lemah.


“Aku sudah tidak bisa bertahan.” Clara tergolek lemah di pangkuan Tristan, matanya menatap Thea dengan penuh kasih.


Tristan hanya bisa menangis seraya mengeratkan pelukan di kedua tangannya.


Perlahan, air mata Clara seperti terhenti. Sedikit demi sedikit kekuatannya berangsur hilang dari ujung kaki menuju ujung kepalanya. Tubuhnya seperti mengering dan kini hanya sepasang mata yang menatap Tristan dengan penuh harap.


“Berjanjilah padaku untuk selalu menjaga putri kita dengan baik.” Kalimat Clara nyaris tidak terdengar.


“Tidak, tidak,TIDAAAKKKKKK!!!!!” teriak Tristan saat kemudian mata kebiruan itu menutup sempurna.

__ADS_1


Derai hujanpun terhenti dan yang tersisa sekarang hanya tubuh Clara yang kisut karena energi air di tubuhnya sudah sepenuhnya hilang.


*****


__ADS_2