Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Pilihan


__ADS_3

Bola mata berwarna biru akhirnya itu terbuka setelah cukup lama terpejam tidak sadarkan diri. Xavier langsung bangkit terduduk saat melihat sorot cahaya lampu yang menyilaukan matanya. Melihat ke sekelilingnya dan semuanya sudah senyap.


Tidak ada lagi suara sorak riuh penonton yang tadi di dengarnya namun kemudian berubah menjadi dengungan saat pukulan terlampau keras menghantam kepalanya. Tidak hanya itu, lehernya masih terasa berat karena pukulan lengan kokoh rivalnya. Xavier mengusapnya karena rasa sakitnya masih tersisa.


“Kamu baik-baik saja?” Tanya Thea yang sedari tadi terduduk di samping Xavier dan menemaninya hingga sadarkan diri.


Laki-laki itupun menoleh Thea. “Iya. Apa terjadi sesuatu saat aku tidak sadarkan diri?” Tanya Xavier.


“Hem,... Pertandingannya di bubarkan.” Sahut Thea.


Ia beranjak dari tempatnya, mengambil sebotol air mineral dan memberikannya pada Xavier.


“Minumlah.” Tawarnya.


Xavier mengambil air di tangan Thea dan memandanginya. Ia juga memperhatikan telapak tangannya yang terluka.


Ia masih ingat, saat tadi ia akan menyerang balik lawan tandingnya, tiba-tiba saja tenaganya seperti hilang. Tubuhnya ringan tidak bertenaga seperti kapas hingga membuat Xavier kesulitan mengangkat tangannya sendiri.


“Tadi kamu berhadapan dengan pemburu dari klan udara, Xavier.” Thea seperti tahu kebingungan Xavier.


“Ya, aku mengingatnya. Aku ingat saat Asher berteriak tapi kemudian pukulannya yang mengenai kepalaku membuatku terjatuh.” Xavier mencengkram kepalanya dengan kedua tangan.


Ia berusaha mengingat apa yang terjadi kemudian tapi yang dia ingat hanya bayangan gelap sebelum tubuhnya ambruk.


“Apa dia berhasil membunuh seseorang?” Xavier kembali menoleh Thea.

__ADS_1


“Tidak. Dia mati tertusuk pedang.” Ucap Thea dengan berat. Ia meneguk minuman di tangannya untuk menenangkan dirinya sendiri. Bayangan wajah pemburu klan udara itu masih terus membayang di benaknya.


“Kamu yang melakukannya?” Xavier menatap Thea penuh tanya.


“Entahlah, aku tidak yakin.” Sahut Thea dengan sebenarnya.


Jujur, saat ia menyerang laki-laki itu, kekuatannya seperti tidak terkendali. Ia tidak pernah merasakan kekuatan sedahsyat itu sebelumnya. Matanya dengan jelas melihat aliran darah laki-laki itu seolah tubuhnya transparan. Dengan kekuatannya, ia mengendalikan aliran darah itu. Membuat satu per satu cell darah di dalam tubuh laki-laki itu pecah. Terlebih saat tiba-tiba butiran air seperti terpanggil untuk berkumpul menghampirinya. Sejurus dengan yang ada di benaknya, butiran air itu menyatu dan membentuk sebuah pedang yang dengan sekuat tenaga ia dorong dan menghujam tepat di dada kirim pemburu klan udara.


“Akh sial!” Dengus Thea seraya mengusap muka.


Ia memalingkan wajahnya dari Xavier sambil menenangkan dirinya sendiri. Semakin jelas saja bayangan wajah pria yang mengerang kesakitan.


Tanpa Thea sadari, Xavier menarik tangan Thea lantas memperhatikan telapak tangannya yang pucat. Thea menoleh, melihat apa yang dilakukan Xavier.


“Aku tidak melakukan apapun.” Timpal Thea. Ia beranjak dari tempatnya.


“Hey!”


Namun Xavier menahan tangannya agar tidak pergi.


Laki-laki itupun berdiri untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Thea. Lantas di peluknya tubuh gadis itu dengan tiba-tiba.


“Apa sangat menakutkan?” Tanya Xavier.


Ia bisa menebak bagaimana perasaan gelisah itu Thea bergejolak di dada Thea. Ini pertama kali dalam hidupnya ia membunuh seseorang dengan kedua tangannya sendiri dan pasti sangat menakutkan.

__ADS_1


Thea tidak lantas menjawab. Ia memandangi telapak tangan kanannya dengan pembuluh darah berwarna kehijauan yang terlihat jelas.


“Aku merasa sangat bersalah.” Aku Thea pada akhirnya.


“Aku tau. Tapi bukankah kita tidak pernah punya pilihan lain?”


Xavier melerai pelukannya dengan Thea. Ia menangkup kedua sisi wajah Thea. Di tatapnya wajah Thea yang dipenuhi kekhawatiran.


“Hem,...”


“Tapi kemudian aku berpikir, bagaimana dengan nasib orang-orang yang terbunuh di Godland. Apa perasaan takutnya sama dengan laki-laki tadi?” Thea berpikir dalam.


“Kamu ingin pergi ke sana?” Xavier mencoba memahami pikiran Thea.


“Jika bisa membantu mereka, kenapa kita harus tinggal di sini?” Thea balik bertanya.


“Tapi mungkin akan banyak yang memburu kita Thea. Terlebih gelang itu sudah terlepas dan auramu akan sangat menarik bagi mereka yang memiliki kerakusan akan kekuatan. Di buru itu menakutkan Thea, aku pernah merasakannya.”


“Tapi aku tidak bisa membiarkan banyak nyawa melayang sementara seharusnya aku menyelamatkan mereka.” Thea dengan tekadnya yang besar.


“Baik, kamu putuskan. Dan aku akan mengikutinya.” Tegas Xavier. Karena dimana pun Thea berada maka ia akan ada di samping Thea.


Thea tampak tercenung. Ia perlu sedikit waktu untuk memantapkan hatinya.


****

__ADS_1


__ADS_2