Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Berhutang


__ADS_3

Di depan sebuah toko kini Xavier berada. Ia tidak diperbolehkan masuk oleh security toko yang bajunya tadi ia ambil. Ia hanya melihat dari balik jendela kaca lebar yang di tempeli sticker Sale up to 70%, saat Thea berbicara dengan seorang wanita yang sepertinya pemilik toko ini.


Security itu masih berjaga, waspada jangan sampai Xavier kembali masuk dan mengambil barang-barang jualan mereka yang lainnya.


“Apa yang anda lihat, saya tidak melakukan apapun.” Ujar Xavier saat merasa kalau laki-laki itu terus memperhatikannya. Ia selalu langsung siaga saat Xavier mengintip Thea dari pintu dan merentangkan tongkat di tangannya untuk menahan Xavier agar tidak masuk.


Mendapat protes, laki-laki bertubuh tambun itu menurunkan kembali tangannya.


“Apa gadis itu pacar anda?” Tanya petugas security.


“Pacar? Apa itu pacar?” Xavier balik bertanya.


Tapi laki-laki itu malah menatap kesal pada Xavier setelah mendengar pertanyaannya. Menurutnya, bagaimana bisa laki-laki ini memanfaatkan seorang gadis dengan begitu teganya tanpa ada ikatan yang jelas. Sementara Xavier, ia tidak paham apa yang dimaksud dengan kata pacar itu sendiri.


“Anda sangat keterlaluan. Gadis itu sampai harus mencicil setiap bulan, selama tiga bulan ke depan agar bisa melunasi baju yang anda ambil. Dia pasti sangat pekerja keras dan bertanggung jawab, tidak seperti seseorang di hadapan saya.” Ucap laki-laki itu dengan sarkas. Ia berempati pada Thea yang sedang bernegosiasi dengan manager tokonya.


Sementara Xavier seperti tidak ambil pusing. Ia hanya bersidekap menunggu Thea menyelesaikan urusannya, membuat security itu menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan sosok tampan dan gagah di hadapannya. Tidak punya tanggung jawab sekali pikirnya.


Dari tempatnya, Xavier melihat Thea mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam sakunya. Lalu mengambil sebuah benda runcing yang ia tuliskan pada kertas. Tidak lama, Thea menjabat tangan manager toko itu lalu mengangguk sopan.


“Bagaimana cara mendapatkan kertas-kertas bergambar itu?” Gumam Xavier yang masih di dengar oleh security.


"Maksud anda uang?" Security itu balas bertanya.


"Hem," Xavier merespon pendek.


“Astaga! Tentu saja dengan bekerja. Anda pikir uang itu turun dari langit?” Ketus sekali jawaban laki-laki itu.


Tapi Xavier tidak ambil pusing. Xavier lebih berpikir, apa Thea sedang menebus kesalahannya?

__ADS_1


Ia menengadahkan kepalanya lalu memandangi langit yang cerah di sore itu. Memang tidak mungkin kertas bbernama uang itu jatuh begitu saja dari langit. Kalau begitu, ia harus mencarinya bersama Thea.


“Terima kasih.” Suara Thea bagian itu terdengar jelas, tepatnya saat Thea pamit pada security yang berjaga di pintu.


“Ayo!” Ajak Thea, masih dengan wajah sumeringah yang ia tunjukkan pada Xavier. Uangnya memang tidak cukup untuk membayar baju Xavier yang diproduksi oleh brand terkenal ini. Tapi syukurlah, ia mendapat keringan untuk membayarnya melalui cicilan.


“Maaf sudah merepotkanmu.” Ucap Xavier yang ikut berjalan di samping Thea.


Thea tersenyum kecil. Baginya sangat wajar karena Xavier tidak tahu benar perbedaan kebiasaan di dunianya dan dunia Thea.


“Tidak masalah. Tapi lain kali, bertanyalah padaku apa sesuatu itu boleh kamu ambil atau tidak. Kebiasaan di Godland dengan di sini tidaklah sama dan kamu harus belajar memahami iitu." Terang Thea.


Xavier mengangguk patuh, ucapan Thea dapat ia mengerti.


"Kamu sudah lapar?” Tawar Thea, seraya menoleh pada laki-laki yang berjalan di sampingnya.


Xavier menggeleng. Entahlah ia harus menjawab apa, sepertinya ia sudah banyak menyusahkan Thea.


“Kemarilah.” Thea menarik tangan Xavier untuk masuk ke sebuah resto cepat saji. Resto itu menjual berbagai macam burger dan hot dog dengan harga yang terjangkau.


“Duduklah di sini, aku akan segera kembali.” Thea mendudukan Xavier di salah satu kursi dan pergi ke meja pemesanan.


Ia memperhatikan seisi ruangan, orang-orang dengan lahap menikmati roti di tangannya membuat Xavier menelan salivanya kasar-kasar seraya mengusap perutnya.


“Makananmu.” Thea menaruh sepiring burger di hadapan Xavier dan dirinya. Mereka duduk berhadapan.


“Apa makanan ini sangat enak?” Xavier masih memperhatikan ekspresi orang-orang di sekitarnya. Mereka terlalu menikmati makanan mereka.


“Ya, cukup enak. Ini terdiri dari lapisan, roti, keju, sayuran dan daging bakar yang bisa kamu makan bersamaan. Cobalah.” Thea memberikan satu burger pada Xavier.

__ADS_1


Xavier jadi memperhatikan makanan yang ada di hadapannya. Ia membiarkan Thea makan lebih dulu dan ia mengikutinya.


Di mulai dari Thea membuka kertas pembungkusnya, Xavier mengikuti. Thea membubuhkan mayonnaise dan menjilat sisa mayonnaise, Xavier juga mengikuti. Hingga Thea membubuhkan saus pada burger-nya, Xavier pun mengikutinya.


Moment yang di tunggu tiba. Saat Thea menggigit burger itu dan Xavier pun mengikutinya. Matanya langsung membulat saat ia merasakan sensasi pedas di mulutnya. Rasa yang asing dan membuat mulutnya seperti terbakar namun enak.


“Hahahaha…” Thea tertawa kecil melihat ekspresi wajah Xavier yang kepedasan.


Ia memberikan segelas soda pada Xavier yang mengunyah makanannya dengan cepat dan laki-laki itu segera meneguknya.


“Aaahhhh…” Xavier menjulurkan lidahnya saat beberapa ekor semut seperti mengisi mulut dan tenggorokannya.


“Kamu tidak menyukainya? Mau makanan yang lain?” Tawa Thea terhenti dan berubah panik melihat Xavier yang tersiksa. Thea jadi tidak tega. Niatnya menjahili Xavier malah berujung rasa bersalah.


“Tidak perlu. Huuuhhh…” Sahut Xavier seraya mengerucutkan bibirnya, membuang sensasi pedas di mulutnya.


Ia tetap melanjutkan makannya walau harus bermandikan keringat dan wajah yang merah padam. Ia pikir, rasanya tidak akan beda jauh dari ikan bakar yang pernah dibuatkan Thea tapi ternyata rasanya sangat berbeda. Namun ia bersyukur ia masih bisa mengisi perutnya dan melihat Thea tertawa.


Keluar dari resto, perut Xavier sudah cukup kenyang.


“Sekarang kita akan pergi kemana?” Tanya Xavier dengan penasaran.


Baginya dunia Thea ternyata cukup menyenangkan, banyak hal yang bisa mereka lakukan. Tidak seperti di dunianya yang banyak serangan tiba-tiba dan membuatnya tidak bisa berjalan dengan tenang seperti saat ini.


“Aku harus pergi bekerja. Kamu mau ikut atau mau menungguku di tempat lain?” Tawar Thea.


“Aku akan ikut bekerja.” Sahutnya dengan cepat. Ia teringat ucapan security tadi bahwa untuk mendapatkan uang ia harus bekerja.


“Baiklah!” seru Thea seraya menonjok sedikit lengan Xavier untuk menyemangatinya.

__ADS_1


Xavier tersenyum kecil melihat tingkah Thea yang menggemaskan.


****


__ADS_2