
Malam yang sepi terasa begitu panjang bagi Thea dan Xavier.
Xavier membaringkan tubuhnya di atas sofa sambil menyaksikan pertandingan gulat. Biasanya ini menjadi tontonan yang menarik untuknya tapi entah kenapa kali ini pikirannya malah tidak berada di sini.
Dari tempatnya, Xavier memperhatikan Thea yang sudah menyembunyikan dirinya di balik selimut. Tubuhnya masih bergerak-gerak di bawah selimut, sepertinya Thea pun belum bisa tidur. Tentu saja, perubahan tiba-tiba pada dirinya membuat pikiran Thea melayang jauh entah kemana.
Dengan satu Gerakan, Xavier berpindah ke dekat tempat tidur Thea. Ia berdiri tegak sambil melipat tangannya di depan dada.
“Kamu tidak bisa tidur?” Tanya Xavier tiba-tiba.
“Astaga!” Thea langsung terhenyak di dalam selimut. Ia tidak menduga Xavier akan mendekat padanya.
Saat ia menurunkan selimutnya, wajah Xavier berada di atasnya, menatapnya penuh atensi. Selimut Thea masih menutupi setengah wajahnya, sebatas hidung saja.
“Mau berjalan-jalan?” Tawar Xavier. Ia bisa memahami kegundahan Thea saat ini.
“Hem,…” Thea mengangguk kecil, seperti anak kecil yang menggemaskan.
“Gantilah bajumu, aku akan menunggu di bawah.” Ucap Xavier. Ia mengambil jacket dan helmnya lalu turun lebih dulu ke tempat parkir.
Sepeninggal Xavier, Thea segera bangun. Ia sempatkan untuk mengintip ke bawah dan ternyata Xavier memang sudah berada di bawah.
Cepat-cepat Thea berganti baju. Memakai jacket kulit yang cukup tebal namun modis, mengikat rambutnya ekor kuda lalu turun sambil membawa helmnya.
“Kita mau kemana?” Thea bertanya saat sudah berada di atas boncengan Xavier. Sepeda motor itu melaju lambat seperti belum ada arah yang mau ia tuju.
“Aku belum ada ide. Apa yang kamu inginkan sekarang? Beli makanan, melihat pertandingan gulat atau hal lain? “ Xavier balik bertanya.
“Astaga, kamu mengajakku keluar tapi kamu sendiri tidak tahu mau kemana?” Thea tersenyum kecil melihat usaha Xavier.
“Aku tidak tahu apa yang biasanya dilakukan manusia yang berpacaran.”
“Berpacaran?” Thea mengutip kata yang diucapkan Xavier.
“Ya. Bukankah kita sedang berpacaran?” Xavier menatap Thea dari kaca spionnya.
“Astaga, kamu terlalu banyak menonton drama televisi, Xavier.” Thea menggeleng tidak percaya.
__ADS_1
Ia menyembunyikan wajahnya yang merah di balik kedua tangan yang menutupi wajahnya sendiri.
“Bukankah kita sudah sepakat kalau kita memang berpacaran? Kita bahkan sudah berciuman.” Xavier menegakkan tubuhnya sementara kedua tangannya masih memegang kendali stang motornya.
“Dan sekarang kamu membahasnya?” lagi Thea menggeleng tidak percaya.
Ia pikir saat itu Xavier mabuk berat dan tidak mengingat apa yang terjadi malam itu. Tapi rupanya laki-laki yang suka berbicara apa adanya ini malah mengingat semuanya.
“Iya. Karena aku pikir,”
“Cukup Xavier. Kita ke café itu saja.” Jeda Thea yang menunjuk sebuah café yang masih buka.
“Baiklah. Kita ke café saja. Sepertinya kamu malu kalau harus membicarakan soal pacarana.” Masih saja Xavier mengatakannya membuat Thea semakin ingin bersembunyi. Ternyata seperti ini berhubungan dengan laki-laki dewasa tapi pengalaman cinta seperti anak SD.
“Sssttt… Diamlah. Cepat bawa aku ke sana, aku lapar.” Thea kembali mencondongkan tubuhnya ada Xavier sementara satu tangannya menutup mulut Xavier.
“Awh!” Ia tarik kembali tangannya saat tiba-tiba Xavier menggigitnya gemas.
“Kamu jahil Xavier.” Kesal Thea.
Apa iya tangannya manis? Hah, ternyata tidak.
Xavier tersenyum kecil melihat tingkah Thea dari kaca spion, ternyata Thea percaya.
Tiba di café, hanya sekitar empat orang pengunjung yang ada di sana. Ada yang sedang makan, dua orang sedang minum bersama dan satu orang lainnya sedang bertelepon entah dengan siapa.
Thea dan Xavier duduk di salah satu sudut. Tidak lama seorang pelayan laki-laki berjenggot tebal menghampiri mereka.
“Mau makan, minum atau perlu kamar?” Tanya pria itu dengan santai.
Rupanya selain café, tempat ini juga menyediakan penginapan.
“Makan,…”
“Minum,…”
Jawab Thea dan Xavier tidak kompak.
__ADS_1
“Rupanya kalian belum lama bersama.” Laki-laki itu tersenyum miring mendengar jawaban Thea dan Xavier. Membuat dua orang itu saling melirik. Ya, mereka memang tidak kompak.
“Di sini hanya tersisa pasta. Kalian mau?” lanjutnya.
“Ya, dua pasta.” Sahut Thea.
“Alkohol atau soda?”
“Soda.” Lagi Thea yang menjawab. Ia tidak mau Xavier memilih alcohol yang berujung laki-laki itu mabuk.
“Baik, tunggu sebentar. Kalian bisa sambil menonton televisi. Sedang ada pertandingan bola seru akhir musim semi ini.” Laki-laki itu menyalakan televisi di depan meja Thea sebelum pergi.
“Terima kasih.” Sahut Thea.
Sambil menunggu, kedua orang itu benar-benar menonton pertandingan bola. Tidak mereka pahami sebenarnya bagaimana detail permainan ini dimainkan. Tapi mendengar serunya sang komentator berbicara, membuat mereka benar-benar menyimak pertandingan.
“Aku bisa dengan cepat memasukkan bola itu tanpa mereka tahu.” Ucap Xavier yang gemas karena beberapa orang itu memperebutkan bola yang sama.
“Kalau hanya satu orang yang mendominasi, permainannya tidak akan seru. Yang di perlukan permainan ini adalah kekompakan dalam satu tim.” Terang Thea, sepengetahuannya.
“Oh jadi mereka ada yang berteman?”
“Tentu saja. Yang bajunya sama itu mereka satu tim. Masing-masing pemain memiliki tugasnya sendiri yang di pimpin oleh seorang kapten. Tujuan mereka adalah untuk menyerang gawang lawan dan mencetak skor lebih banyak di banding lawan mereka. Yang skornya paling banyak, itu yang akan menjadi pemenangnya.” Terang Thea, sepengetahuannya.
Asyiknya pembicaraan tentang bola membuat mereka tidak sadar kalau sang pelayan sudah berdiri di samping mereka. Di tangannya ia sudah membawa makanan pesanan Thea. Ia menatap Xavier dengan tidak percaya, ada seorang laki-laki dewasa yang tidak mengerti tentang permainan bola.
“Anda datang dari dunia mana sampai tidak tahu permainan speak bola?” Tanya laki-laki tersebut sambil menaruh beberapa pesanan di meja itu.
“Godland,…” Jawab Thea dan Xavier kompak.
“Oh, kalian sudah mulai kompak. Aku tambahkan kentang goreng dan sosis untuk menemani kalian menonton bola. Ini gratis.” Ucap laki-laki itu.
“Terima kasih.” Ucap keduanya bersamaan.
Laki-laki itu hanya menggeleng, aneh dengan dua orang tersebut.
*****
__ADS_1