
Thea masih mematung di tempatnya. Pikirannya masih tertaut pada kisah sedih yang diceritakan Doroti 25 tahun lalu. Ia tidak pernah menyangka kalau saat ini ia bisa hidup berkat pengorbanan seorang ibu yang hanya beberapa saat saja berada di sisinya.
“Apa sekarang kamu bisa merasakan aura yang dikunci oleh ibuku?” Tanya Thea pada Doroti.
Wanita itu tidak lantas menjawab. Ia meraih tangan Thea dan menggenggamnya dengan erat. Perlahan matanya terpejam, merasakan energi yang mengalir di dalam tubuh Thea.
Helaan nafasnya terlihat begitu tenang, saat hawa dingin dari tubuh Thea mulai masuk dan mengalir ke dalam tubuhnya. Doroti begitu menikmati setiap aliran yang mengisi setiap cell di tubuhnya yang mulai menua. Seperti ada kehidupan baru yang ia lihat di masa depannya.
“Akh!” Tiba-tiba saja Thea menarik tangannya saat ia merasakan tangannya sakit. Seperti darahnya tersedot keluar dari tubuhnya.
Doroti membuka matanya yang semula terpejam, lantas tersenyum tipis.
“Aura anda sudah terbuka. Tapi aura anda belum sepenuhnya kembali.” Doroti berusaha menyembunyikan wajah kecewanya dengan senyuman tipis.
“Takdir yang diikat oleh Dewi kami sudah terlepas dan anda tidak terikat pada apapun saat ini. Setiap keturunan klan air, harus mengikat takdirnya dengan sesuatu hal agar kekuatan itu kembali sepenuhnya dan bisa ia kendalikan dengan baik.”
“Namun saat kekuatan itu kembali, aura itu akan semakin kuat dan menarik setiap mahluk terkutuk untuk mendekat pada anda. Merekan akan menghampiri anda dan meminta kekuatan anda agar bisa menghapus kutukannya.” Terang Doroti.
“Lalu kenapa tadi aku merasa kalau anda sedang menarik darahku? Apa Anda sedang menarik kekuatanku?” Tanya Thea yang penasaran. Ia mulai waspada pada Doroti.
Xavier yang duduk di samping Thea, ikut memperhatikan ujung jemari Doroti. Kulitnya yang semula kisut kini kembali terisi.
“Akh, rupanya aku menariknya terlalu kasar.” Ucapnya yang menyeringai sarkas.
“THEA, MENJAUH!!!” Seru Xavier yang ttiba-tiba menarik tubuh Thea menjauh bersamaan dengan Doroti yang hendak menarik tangan Thea.
Bekas cakaran kuku Doroti yang membekas terlihat di lengan Thea. Thea terhenyak kaget di bawah kungkungan Xavier yang berusaha melindunginya.
“SIAL!” Dengus Doroti yang mengeram kesal.
"Kau bukan memeriksa Thea, melainkan mengambil energinya!!" Bentak Xavier yang menatap tajam Doroti. Ia menyembunyikan Thea di belakang tubuhnya, berusaha melindungi gadis yang masih dipenuhi keterkejutan.
"Hah, anda terlalu banyak ikut campur pangeran api!" Sinis Doroti dengan mata tajam yang menyalak pada Xavier. Sepertinya ia tidak bisa berpura-pura lagi.
Ia menatap lekat sepasang mata biru dengan titik api di tengahnya. Dengan kekuatannya, ia berusaha mengendalikan aliran darah di tubuh Xavier agar berbalik menyerang pemiliknya.
"AKH!"
__ADS_1
Xavier mengerang kesakitan. Tubuhnya terhuyung hingga jatuh bertekuk lutut di hadapan Doroti. Dengan kekuatannya, ia berhasil mengendalikan aliran darah Xavier. Ia tersenyum penuh kemenangan karena bisa mengendalikan seorang pangeran api dengan kedua tangannya.
Tangannya mulai terangkat, membuat sebuah gerakan yang membuat tetesan air hujan berkumpul di genggaman tangannya. Awalnya hanya butiran air lalu berkumpul menjadi bola air yang besar dan kuat yang kemudian Ia hantamkan pada tubuh Xavier yang sudah terkunci.
“AKH!” Xavier terpental jauh dari Thea.
"Hahahahaha....." Doroti tertawa puas melihat Xavier jatuh tersungkur. Rupanya ini salah satu kekuatan terbesar dari seorang klan air, yaitu mampu mengendalikan aliran darah di tubuh mahluk lain.
Xavier meringis kesakitan. Tidak ada luka di permukaan tubuhnya namun di aliran darah di tubuhnya seperti terisi banyak jarum tajam yang melukai dirinya sendiri dari dalam. Wanita itu mengepalkan tangannya seperti sedang memeras darah Xavier dan membuat Xavier meronta-ronta melawan kekuatan Doroti.
"BUK!!" Thea melempar Doroti dengan kursi kayu di dekatnya.
Cengkramannya pada Xavier terlepas namun dalam sekejap, wanita tua itu melayang di udara dan mendekat pada Thea.
"Grap!" Ia mencekik leher Thea dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Thea melayang di udara dalam cengkraman tangan Doroti.
Thea tidak bisa melakukan perlawanan saat Doroti berusaha menarik energi dari dalam tubuhnya. Thea terus meronta memukul tangan Doroti berkali-kali, yang membuatnya sesak karena cekikannya yang kuat.
“Maafkan saya tuan putri, tapi saya harus mengambil kekuatan anda agar bisa kembali ke kerajaan air.” Ucap Doroti dengan suara yang bergema dan mata biru yang menyala-nyala.
Perlahan wajahnya yang kisut dan hitam itu mulai terlihat berisi sementara Thea semakin lemah. Doroti menyeringai puas melihat tuan putrinya meronta-ronta dengan tenaga yang semakin melemah.
“BUG!!” Xavier melemparkan bola api ke arah Doroti dan tepat mengenai punggungnya.
“AKH!” Doroti mengaduh kesakitan.
"BRENGSEK!!!!" seru Doroti yang tidak terima.
Dengan tubuhnya yang sakit, ia tetap berusaha untuk bangkit dan menghampiri Xavier. Ia mengulurkan tangannya pada Xavier, hendak mengendalikan tubuh Xavier dari kejauhan.
"Ada apa ini?" Doroti kaget sendiri saat ternyata buliran air itu enggan berkumpul di tangannya. Xavier tetap berdiri tegak di hadapannya, sementara tubuhnya merasa kesakitan.
Doroti segera berbalik saat melihat nyala kebiruan di belakang tubuhnya.
Adalah Thea, yang tanpa di duga mengarahkan tangannya pada Doroti dan berusaha mengendalikan wanita itu.
"Ibu, tolong aku." Batin Thea seraya memusatkan pikirannya.
__ADS_1
Tidak lama, gelang yang berada di dalam saku Thea menyala. Ia melayang di udara, tepat di hadapan Thea. Satu tangan Thea menggenggam gelang itu. Dan saat itu, tenaga Thea seperti bertambah beberapa kali lipat. Ia mulai merasakan bagaimana rasanya menyentuh pembuluh darah di tubuh Doroti lalu meremasnya secara tak kasat mata.
"AARRGGHH AAARRGGHH!!!" Doroti mengerang kesakitan.
Tubuhnya yang semula terisi energi dari tubuh Thea, perlahan mulai kehilangan semua auranya. Energi itu berpindah ke tubuh Thea.
"Kau pelayan tidak tau diri. Jangan pernah berani menyentuh putriku." Suara Thea tiba-tiba bergema dengan matanya yang menyala kebiruan.
"ARRGHHH Dewi Clara. Ampuni hamba,... Jangan ambil auraku." Doroti bertekuk lutut di hadapan Thea tanpa bisa menggerakan tubuhnya.
Ternyata yang ada di hadapannya kini, bukan hanya seorang Thea, melainkan ada Dewi air Clara yang mengisi tubuh Thea.
"Pikirmu aku akan memaafkanmu?" Thea meneringai sarkas. Ia tidak berhenti menarik energi Doroti hingga wanita itu semakin lemah dan lemah lagi. Tubuhnya pun mulai mengering, seperti Thea sudah mengambil seluruh air di dalam tubuhnya.
"BRUG!" Tubuh Doroti rubuh dalam keadaan keras seperti batu. Bentuknya kisut, tidak terlihat kalau ia berwajah layaknya manusia.
"Akh!" Thea pun ikut terhuyung dan terjatuh sambil memegangi dadanya yang sakit. Air yang semula dalam genggamannya, kini menyiram seisi gubuk kecil itu.
Thea terengah di temmpatnya dan Xavier segera menghampirinya.
"Kamu tidak apa-apa?" Xavier segera memeluk Thea yang kaget dan ketakutan melihat apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
"Apa yang terjadi padaku Xavier?" Thea memandangi telapak tangannya yang pucat pasi.
"Kamu menarik energi wanita itu Thea. Kamu mengalahkannya." Ucap Xavier yang kini ikut memandangi tangan Thea.
Thea tidak berreaksi. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya beberapa saat lalu. Ya, saat sebuah energi besar seperti masuk ke dalam tubuhnya.
Thea memungut gelang yang tergeletak di hadapannya.
"Sepertinya, gelang itu yang menyelamatkanmu. Walau ibumu sudah tiada, tapi kekuatannya tersimpan di sana untuk melindungimu." Ucap Xavier seraya memandangi gelang yang mulai menyala redup dan hampir mati.
Thea tidak mampu berkata-kata. Ia menggenggam gelang itu dengan erat lantas terisak di tempatnya. Xavier benar, ia bisa merasakan kehadiran ibunya beberapa saat lalu. Kekuatan besar itu telah menyelamatkannya namun sayangnya ia tidak bisa memeluk sang ibu dan mengatakan kalau ia sangat merindukan wanita yang telah mengakhiri hidupnya demi dirinya.
Bulir air mata menetes di pipi Thea. Ia terisak. Hatinya sungguh terisis perih saat sadar ternyata wanita yang telah pergi itu tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Clara selalu ada di dekatnya dan menjaganya setiap waktu. Sekarang ia sadar, mengapa saat mengenakan gelang ini orang-orang seperti tidak memperdulikan Thea. Mungkin Clara sedang menjaga Thea dari tatapan manusia yang bisa mencelakainya.
Tapi sekarang, gelang ini sudah terlepas dan hanya bisa ia genggam. Lantas, apakah sang Dewi masih berada di dekatnya?
__ADS_1
*****