
“Allen, apa maksudmu?” Thea segera menghampiri Allen.
"Bagaimana bisa kamu tahu mantra itu?" Ia menatap Allen penuh tanya.
Bukannya menjawab, laki-laki itu malah mengulurkan tangannya pada Thea. Dengan rasa penasaran, Thea membalas uluran tangan itu. Dan tiba-tiba saja Allen mengecup tangan Thea.
“Senang bertemu dengan anda Yang Mulis, Althea Grizelle.” Ucap Allen tanpa rasa ragu.
Thea tercengang. Ia segera menarik tangannya menjauh dari Allen.
“Bagaimana bisa kamu tahu namaku?” tanya Thea seraya menatap Allen dengan sungguh.
Ia tidak mengerti bagaimana bisa Allen mengetahui nama kecilnya yang tidak semua orang tahu. Nama itu diberikan sang ayah dan tidak ia gunakan di kampus. Tapi Allen malah mengetahuinya dengan benar.
Laki-laki itu tersenyum.
“Mohon maaf karena saya terlambat mengenali yang mulia. Saya, Mathew.” Laki-laki itu bertekuk lutut di hadapan Thea.
Thea pikir Allen pasti dengan bercanda, tapi mendengar nama yang di sebut laki-laki di hadapannya ini, ia jadi teringat tokoh pangeran di kerajaan air yang kerap di ceritakan sang ayah.
“Be-berdirilah. Jangan seperti ini.” Thea memukul-mukul lengan Allen agar laki-laki itu segera bangkit.
Allen hanya tersenyum melihat tangan Thea yang beberapa kali memukul lengannya.
“Cepat, bangunlah. Orang-orang akan melihat ini sebagai keanehan.” Pinta Thea dengan sungguh.
Dan benar saja, beberapa orang yang melihat sosok Allen yang bertekuk lutut di hadapan Thea, tampak tersenyum.
“Casanova kampus kita bertekuk lutut di hadapan gadis sampah itu.” Ucap salah seorang wanita yang tidak Thea tahu persis namanya. Yang jelas label gadis sampah itu memang melekat kuat pada dirinya.
“Di-dia sedang bercanda.” Ucap Thea dengan kikuk. Ia menarik tangan Allen yang diam saja. Ia tersenyum sambil mengangguk takzim pada orang-orang itu.
Setelah Allen berdiri, Thea segera menarik tangannya untuk pergi dari perpustakaan. Ia perlu mencari tempat yang aman untuk berbicara berdua saja dengan laki-laki ini.
****
__ADS_1
Di taman belakang kini mereka berdua berada. Ia duduk bersisian dengan laki-laki yang entah Allen atau Mathew.
“Kamu Allen atau Mathew?” Tanya Thea yang masih penasaran.
Tidak ada perbedaan pada tubuh Allen selain matanya yang berubah menjadi biru.
“Saya Mathew, pangeran dari kerajaan air.” Laki-laki itu kukuh menyebut namanya Mathew.
“Kamu tidak sedang becanda kan?” Thea jadi sangsi karena tadipun Allen mengerjainya.
“Tidak yang mulia.”
“Kalau begitu, beri aku satu bukti kalau kamu benar-benar bukan Allen.” Tantang Thea.
“Bukti apa yang yang mulia maksudkan?” Allen mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“Apa saja yang menunjukkan kalau kamu benar-benar pangeran dari kerajaan air.” Ucap Thea.
Allen tampak termenung. Ia melihat kesekelilingnya kemudian mengarahkan tangannya pada sebuah mesin penyiram air di taman. Mesin itu sedang tidak menyala, tapi begitu Allen menggerakan tangannya, semua mesin air menyala.
“Apa sekarang yang mulia sudah percaya dengan perkataan saya?” Tanya Allen sambil memandangi apa yang sudah ia lakukan.
“I-Iya. Aku percaya. Sekarang tolong matikan.”
Dengan satu gerakan tangan, Allen kembali mematikan air yang memancar dari semua mesin penyiram.
“Bagaimana kamu bisa mengenaliku? Dan kenapa kamu ada di tubuh Allen?” Tanya Thea beruntun.
“Saya mengikuti aura anda yang mulia. Dan laki-laki ini, berada tepat di hadapan anda saat anda melafalkan mantra dewi air. Sehingga saya masuk ke dalam tubuhnya.” Aku Mathew.
“Jadi, mantra itu benar-benar bekerja?” Thea melotot tidak percaya.
“Tentu yang mulia. Hanya saja mantra itu dapat bekerja apabila dilafalkan oleh keluarga kerajaan air.”
“Tapi bagaimana kamu bisa merasakan auraku? Dan kenapa kamu tidak muncul dengan tubuhmu sendiri? Kenapa harus merasuki tubuh Allen?” Thea masih dengan rasa penasarannya.
__ADS_1
“Para penghuni di kerajaan air merasakan energi yang hebat beberapa hari lalu. Tetua meminta saya mengikuti jejak anda. Namun saya tidak bisa pergi begitu saja karena kemungkinan saya tidak bisa kembali ke kerajaan air jika saya seutuhnya pergi dari sana. Sehingga, hanya aura saya saja yang bisa datang ke dunia ini dan merasuki tubuh orang di sekitar anda.” Terang Mathew apa adanya.
Thea terangguk paham. Keterangan Mathew sama dengan yang disampaikan Doroti. Wanita itu pun tidak bisa kembali ke kerajaan air dan menua di dunia ini. Ia memaksa mengambil kekuatan Thea agar bisa kembali ke kerajaan air.
“Tunggu, apa kamu merasakan auraku saat aku melawan Doroti?” Tanya Thea.
“Anda bertemu Doroti?” Mathew balik bertanya.
“Ya, aku bertemu dengannya saat aku mengunjungi ibuku. Dia menceritakan siapa aku dan bagaimana ibu bisa datang ke dunia ini. Dia juga yang menyerangku dan berniat mengambil auraku. Karena terdesak, aku terpaksa membunuhnya.” Terang Thea penuh sesal.
“Terkutuk. Berani-beraninya pelayan itu menyentuh anda, yang mulia.” Mata Allen membulat dengan kesal.
“Sudahlah, tidak perlu mengutuknya. Dia sudah mati dan aku terpaksa membunuhnya. Padahal dia satu-satunya orang kepercayaan ibuku.” Wajah Thea terlihat penuh sesal.
“Mathew, untuk apa kamu datang di dunia ini?”
“Untuk anda kembali yang mulia."
"Apa? Maksudmu aku harus pergi ke kerajaan air?" Thea sampai berbalik menghadap Mathew.
"Benar, Yang mulia."
"Kerajaan air sedang membutuhkan anda. Rakyat klan air di Godland banyak yang meninggal karena pemberontakan klan api. Mereka berusaha mengambil kekuatan klan lain untuk bisa bertahan hidup. Dan salah satu klan yang mereka serang adalah klan air.” Terang Mathew.
“Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku bahkan tidak mengerti apa-apa?” Thea menatap tidak percaya pada Mathew.
“Yang Mulia bisa melindungi rakyat kita dengan kekuatan anda. Anda harus menghidupkan kembali tabir kerajaan air agar tidak semakin banyak yang menderita.”
“Tapi kenapa harus aku? Kamu pangeran di sana, kenapa kamu tidak melakukannya sendiri?”
“Karena hanya keturunan ratu kami yang bisa menghidupkan kembali tabir dan melindungi seluruh rakyat di kerajaan ataupun di klan air.”
Thea terdiam mendengar ucapan Mathew. Semuanya terlalu mengejutkan dan terlalu tiba-tiba. Entahlah apa ia bisa melakukan apa yang dikatakan Mathew atau tidak.
****
__ADS_1