
Dalam perjalanan pulang, Thea masih memikirkan buku itu. Buku yang akhirnya ia pinjam untuk satu bulan ke depan. Ia masih berpikir, bagaimana mungkin kertas ini terselip di sela buku itu? Tepat di bab pembahasan tentang Devil.
“Bruuummm Bruummm Bruummm…” Suara knalpot motor begitu bising mengusik Thea.
Thea menoleh dan tidak lama sebuah motor sport berhenti tepat di depan Thea yang sedang berjalan di sekitaran jalanan kampus. Seorang laki-laki turun dari motor itu dan berjalan menghampirinya. Thea menghentikan langkahnya sejenak dan menatap penasaran pada sosok yang kini membuka helmnya perlahan.
“Xavier?” Tanya Thea tidak percaya.
“Hay! Kelasmu sudah selesai?” Laki-laki itu menghampiri Thea dengan senyumnya yang lebar.
“Kamu mengendarai motor?” Thea masih tergagap, menatap Xavier dan motor sport berwarna hitam itu bergantian.
“Hem. Ternyata tidak sulit untuk mengendalikannya.” Ucapnya seraya bersandar pada motor besarnya sambil menyilangkan kaki.
Ia terlihat santai saja. Tapi tidak begitu dengan Thea. Ia segera menghampiri Xavier.
“Kamu mencuri ini dari mana?” Thea menatap Xavier penuh selidik.
Kalau di perkirakan, harga motor ini bisa untuk biaya makan Thea selama 3 tahun. Bagaimana Xavier mendapatkan motor ini, tentu sangat mengganggu pikiran Thea.
__ADS_1
“Aku tidak mencurinya. Seseorang membelikannya untukku.” Aku Xavier dengan santai.
“Apa? Jangan berbohong denganku Xavier. Aku tidak mau kalau harus mengganti rugi lagi. Sebaiknya kamu kembalikan lagi motor ini atau kita tidak usah bertemu lagi. Kamu pulang saja ke Godland.” Thea bersidekap kesal.
“Aku benar-benar tidak mencurinya Thea. Aku bahkan sudah membayar semua hutang ku ke toko baju itu. Dan lihatlah, aku sudah memakai baju baru.” Xavier berdiri tegak di hadapan Thea lalu berputar seperti anak kecil yang ingin menunjukkan penampilan barunya.
“Kamu gila! Jawab aku sekali lagi, kamu mencuri ini semua?” Thea mengulang pertanyaannya. Telunjuknya teracung pada Xavier.
Tapi Xavier malah iseng mau menggigit telunjuk Thea dengan gemas dan Thea segera menarik tangannya.
“Aku bersungguh-sungguh. Aku tidak mencuri. Aku mendapatkan semua ini dengan hasil kerja kerasku. Kamu liat ini?” Xavier mencondongkan tubuhnya pada Thea dan menunjukkan luka lebam di sudut pelipisnya.
“Hem, seorang manusia berhasil memukulku. Maka kubikin dia patah tulang.” Aku Xavier dengan santai. Ia juga menggunakan lidahnya untuk menjilat luka di sudut bibirnya yang masih terasa perih.
“Kamu bergulat?” Tanya Thea yang baru tersadar. Semalaman Xavier menonton acara gulat, ia sangat yakin kalau Xavier ikut pertandingan adu kekuatan otot itu.
“Iya! Hadiahnya sangat banyak Thea. Dan ini, hadiah untukmu. Mereka bilang, ini seperti telepati. Kita bisa berbicara satu sama lain walaupun jarak kita jauh.” Xavier menyodorkan sebuah ponsel pada Thea. Ponsel yang sejenis hanya berbeda warna saja. Thea merah dan Xavier hitam.
“Astaga Xavier, kamu benar-benar gila. Kamu tidak sampai membunuh lawanmu kan?” Bukannya senang Thea malah panik.
__ADS_1
Xavier tersenyum kecil lantas mengambil tangan Thea dan membenamkan ponsel itu di tangan Thea.
“Aku masih bisa mengatur kekuatanku. Aku memenuhi permintaanmu untuk tidak terlalu menunjukkan kemampuanku. Aku hanya menganggap ini latihan, makanya aku membiarkan mereka sedikit melukaiku.” Terang Xavier tanpa beban.
Thea hanya ternganga di tempatnya. Sementara Xavier sudah mengambil helm yang ia gantung di belakang dan memasangkannya di kepala Thea.
“Ini cocok, tidak kekecilan.” Ucapnya seperti menyindir helm yang Thea pinjamkan padanya.
Untuk beberapa saat Thea terdiam, membiarkan Xavier melakukan apa yang dia inginkan. Laki-laki itu menatap Thea dengan lekat seraya tersenyum dengan manis.
“Sesekali, biarkan aku yang melakukan hal kecil untukmu. Jangan selalu membuatku merasa berhutang.” Ujarnya dengan suara pelan.
“Degh!”
Jantung Thea seperti tersengat jutaan volt listrik. Ia berdegub sangat kencang dan tanpa terasa wajahnya memerah begitu saja. Xavier menepuk sisi kiri dan kanan helm di pipi Thea lantas tersenyum, seolah tidak paham arti perubahan ekspresi Thea.
“Xavier, berhenti. Atau akan akan terkena serangan jantung.” Batin Thea.
****
__ADS_1