
Makam itu ternyata cukup jauh dari rumah Thea. Saat mereka tiba di depan makam itu, senja sudah lebih dulu menghibar berwarna jingga di langit yang seperti tidak berbatas. Suhu udara mulai dan Thea harus merapatkan jaketnya agar tidak kedinginan.
Thea berjongkok di antara dua makam yaitu milik Claire dan Tristan, kedua orang tuanya. Ia membagi dua bucket bunga yang ia bawa. Satu untuk makam Claire dan satu lagi untuk makam Tristan.
“Hay bu, ayah. Apa kalian menungguku?” Tanya Thea yang tersenyum pada dua nisan yang terbuat dari batu itu. Ia mengusap nisan batu sederhana itu bergantian.
Makam kedua orang tua Thea memang paling sederhana di banding makam lainnya. Kondisinya pun tidak terlalu terawat dan banyak di tumbuhi rumput-rumput liar.
“Aku datang bersama seseorang, Xavier. Dia temanku.” Ucap Thea seraya menoleh Xavier yang berada di belakangnya.
Laki-laki itu berdiri tegap menunggu Thea yang sedang berbagi kerinduan dengan kedua orang tuanya. Baru kali ini ia tidak sendirian saat menemui kedua orang tuanya.
Satu per satu rumput liar itu Thea cabuti tanpa melepaskan pandangannya dari dua nisan yang bertuliskan nama kedua orang terkasihnya.
“Aku merindukan kalian dan entah kenapa sudah sangat lama ayah tidak mampir ke mimpiku. Apa ayah tidak merindukanku?” Thea menatap nisan Tristan lebih lama. Sekilas bayangan wajah Tristan yang tenang dan senyumnya yang hangat seperti mengisi pikiran Thea.
“Kalian harus tau, aku hidup dengan sangat baik. Sebentar lagi kuliahku selesai dan sekarang aku punya seorang teman. Biar aku beritahu, dia adalah pangeran dari kerajaan api.” Thea sedikit berbisik di kalimat akhirnya, namun Xavier masih mendengarnya dengan jelas dan membuatnya ikut tersenyum kecil.
“Sepertinya, dongeng ayah tidak bohong kalau ada dunia lain selain dunia yang saat ini aku huni. Cerita ayah juga nyata kalau masing-masing unsur di dunia ini memiliki kekuatan dan kerajaannya sendiri. Maaf karena dulu aku berpikir ayah hanya benar-benar mendongeng untukku. Tapi ternyata, yang ayah ceritakan itu benar. Aku bahkan pergi ke sana beberapa waktu lalu.”
“Kalian tau, aku sempat berpikir kalau aku tidak ingin kembali ke dunia ini. Aku merasa, di sana aku bisa memulai hidup yang baru. Tapi, kalau aku tinggal disana, apa yang bisa aku lakukan kalau aku merindukan kalian?” Thea mencengkram tanah di atas pusara kedua orang tuanya. Bibirnya tersenyum namun bulir air mata nyaris menetes di pipinya.
“Apa dunia kalian juga dunia yang berbeda? Apa di sana lebih menyenangkan dibandingkan di sini?” Thea tercenung. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa dunia kedua orang tuanya hingga mereka tidak pernah ingin Kembali.
“Tapi, kalian harus tau satu hal.” Thea mengusap bulir air mata yang menetes di pipinya. Ia merubah wajah sendunya menjadi senyum. Ia sangat ingat kalau ayahnya tidak suka melihat Thea bersedih.
__ADS_1
“Belakangan ini orang-orang mulai menyukaiku. Mereka bisa menerima keberadaanku. Bahkan banyak di antara mereka yang mulai bicara denganku. Jadi, sekarang aku tidak merasa sendirian lagi. Aku merasa kalau dunia ini mulai menerimaku.” Thea tersenyum lebar.
“Dan ibu, aku minta maaf karena tanpa sengaja aku telah memutuskan gelang peninggalan ibu. Tapi tenanglah, sampai sekarang aku tetap menjaganya dengan baik. Jadi, jangan khawatirkan aku lagi. Aku hidup dengan sangat baik sekarang. Aku bahkan sudah tau rasanya jatuh cinta. Aku menemukan laki-laki yang menatapku seperti saat ayah menatap bayangan ibu dalam pikirannya.” Thea tersenyum kecil. Wajahnya merona kemerahan.
Ia sedikit menoleh Xavier dan jantungnya berdegub dengan sangat kencang. Ingatan saat Xavier menciumnya pun kembali terbayang di benaknya. Rasanya ia mulai menemukan seperti apa indahnya dunia ini.
“Baiklah, aku pergi dulu. Kalian baik-baiklah di sana dan akupun akan baik-baik di sini. Aku menyayangi kalian ayah, ibu.” Thea menancapkan satu batang bunga mawar di masing-masing pusara sebagai bentuk pamitan pada kedua orang tuanya.
“Bye… Aku menyayangi kalian.” Ucapnya seraya beranjak dari tempatnya. Ia mengirimkan kecupan jarak jauhnya pada sepasang makam itu. Rasanya melegakan bisa bercerita banyak hal pada kedua orang tuanya.
****
“Jadi kamu suka berbicara dengan nisan kedua orang tuamu?” Tanya Xavier yang berjalan di samping Thea.
Saat ini mereka dalam perjalanan pulang menuju rumah Thea.
Xavier menatap Thea yang tersenyum kecil. Dari wajahnya wanita itu memang terlihat begitu tenang dan bahagia.
“Apa semenyenangkan itu?” Xavier cukup penasaran.
“Ya, sangat menyenangkan. Sesekali cobalah bercerita, tentang apapun itu. Mungkin tentang seperti apa bentuk semut di kerajaanmu hingga tentang seperti apa kehidupan yang selama ini kamu lewati. Aku ingin mendengar banyak hal tentangmu Xavier.” Ucap Thea seraya menoleh Xavier yang berjalan di sampingnya.
Laki-laki itu menghembuskan nafasnya kasar, udara yang keluar dari mulutnya terlihat jelas di waktu senja menjelang malam seperti ini. Terlebih udaranya cukup dingin. Ia mengeluarkan tangannya dari dalam saku jacket dan mengepal-ngepalkan tangannya yang mulai merasakan dingin udara malam.
“Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan tapi aku tidak pernah tahu harus memulainya dari mana.” Ucap Xavier.
__ADS_1
Thea tersenyum kecil pada Xavier, tentu ia mengerti perasaan semacam itu karena ia pun sering merasakannya.
"Cobalah sedikit demi sedikit. Perlahan kamu akan menemukan cara sendiri untuk mengungkapkan perasaanmu."
"Hem, aku akan mencobanya."
Sekali waktu, tanpa sengaja, punggung tangan Thea dan Xavier bersentuhan. Wajah Thea langsung merona saat merasakan ada desiran halus yang mengaliri aliran darahnya. Sementara Xavier berusaha menahan senyumnya dengan menggigit bibirnya sendiri. Dengan segenap keberanian ia mentautkan jarinya dengan jemari Thea.
Thea tidak menolak, lantas ia membiarkan Xavier menggenggam tangannya dengan erat.
“Walaupun anginnnya cukup kencang, di tempat ini tetap terasa hangat.” Ucap Xavier yang merapatkan tubuhnya ke samping Thea.
“Apa kamu masih kedinginan?” tanyanya, setengah berbisik.
Thea menoleh sejenak, lantas terangguk.
“Akh, aku tidak bisa membiarkan pacarku kedinginan.” Xavier beralasan untuk merangkul tubuh Thea agar mendekat padanya.
“Alasanmu sangat di buat-buat.” Ledek Thea.
“Terima kasih karena kamu tidak menolak alasanku.” Timpal Xavier yang balas menatap Thea yang sedang memandanginya.
“Usahamu harus aku apresiasi bukan?”
“Ya, itu yang aku sukai darimu. Kamu mengapresiasi setiap hal kecil yang aku lakukan.” Xavier semakin mengeratkan dekapannya sembari mengelus lengan Thea. Rasanya sangat hangat, entah karena perasaan hangat dari sikap xavier atau mungkin rasa hangat dari telapak tangan sang pangeran api.
__ADS_1
****