Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Danau


__ADS_3

“Tet tet!!”


Suara klakson motor menyadarkan Thea yang sedang berjalan sendirian di trotoar jalan. Ia baru akan berangkat ke resto tempatnya bekerja setelah tadi mengantar Mathew alias Allen pulang ke rumahnya.


Ya, ia terpaksa mengantar Mathew pulang ke rumah Allen karena itu tempat paling aman yang bisa Mathew tinggali. Ia tidak mungkin mengajak Mathew pulang ke apartemennya karena orang-orang yang mengenal Allen akan mengangapnya aneh.


Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa semuanya menjadi sebuah kebetulan yang tidak pernah ia duga.


Motor itu berhenti di depan Thea. Dari postur pengendaranya, ia bisa menebak kalau itu adalah Xavier.


“Kamu akan berangkat kerja?” Tanya Xavier setelah melepas helmnya.


“Entahlah.” Thea mengendikkan bahunya bingung.


Setelah apa yang dialaminya beberapa saat lalu, ia tidak yakin kalau ia akan fokus saat bekerja. Semua penjelasan Mathew terus berputar di kepalanya.


“Bisakah kamu membawaku pergi berjalan-jalan?” Tanya Thea kemudian.


“Wah, belakangan ini kamu sangat suka pergi berjalan-jalan.” Timpal Xavier yang tersenyum miring.


“Jangan meledekku Xavier.” Thea mendelik dengan kesal.


Xavier hanya terkekeh. Ia mengambil helm dan memakaikannya pada Thea. Beberapa saat Thea memandangi wajah Xavier yang ada di hadapannya. Rambut dan wajahnya berkeringat sepertinya laki-laki ini sudah selesai dengan pertandingan gulatnya.


“Kamu sudah menyelesaikan pertandingannya?” Tanya Thea yang penasaran.


“Hem. Hanya dua pukulan dan lawanku langsung KO.” Xavier tersenyum bangga seraya menepuk helm Thea dengan gemas.


“Ck! Ini sungguh tidak adil kalau mereka tahu bahwa yang mereka lawan adalah seorang pangeran dari kerajaan api.” Thea berdecik sebal.


“Saat bertanding, aku tidak menggunakan kekuatanku sebagai pangeran api. Sesekali datanglah untuk melihatnya agar kamu percaya.” Aku Xavier.


Ia berjalan lebih dulu menuju motornya, menungganginya dan menunggu Thea di sana.


Sementara Thea masih memandangi laki-laki itu. Laki-laki yang tampak menikmati hidupnya yang baru di dunia Thea.


“Baiklah. Di pertandingan berikutnya aku akan datang.” Janji Thea. Ia naik ke atas motor dan duduk di belakang Xavier.


“Itu sebuah kehormatan untuk ku.” Xavier tersenyum kecil.


Thea ikut tersenyum dan kuda besi itupun mulai melaju membelah jalanan beraspal.


“Mau pergi ke danau atau sungai?” Tawar Xavier.


“Danau.”


“Baiklah. Berpeganganlah dengan erat.”


Thea segera memeluk Xavier dengan erat dan dalam beberapa saat Xavier menambah kecepatan motornya lebih dan lebih lagi. Thea seperti tidak melihat jalanan yang di lewatinya. Dan hanya beberapa saat saja sampai mereka tiba di sebuah danau di pinggiran kota.


Xavier memarkirkan motornya di jalanan beraspal. Sementara untuk menuju danau itu mereka harus berjalan terlebih dahulu. Ia melepas helmnya juga helm Thea.


“Kamu pernah ke tempat ini?” Thea memperhatikan sekelilingnya yang asing.


“Tidak.” Aku Xavier seraya menaruh helmnya di atas motor.

__ADS_1


Ia membiarkan Thea berjalan di depannya sementara ia di belakang memperhatikan.


“Waahh… Tempat ini sangat indah Xavier. Bagaimana bisa kamu menemukannya?” Thea begitu terpesona dengan pemandangan di depan matanya.


Danau yang jernih dengan pohon pinus di sekelilingnya juga udara yang terasa begitu segar dan memanjakan. Daun-daun muda baru tumbuh dan bunga-bunga bermekaran seolah menambah indah pemandangan di bawah langit senja berwarna jingga.


“Seseorang memberitahuku.” Aku Xavier, tentu saja, ia tahu danau ini indah dari salah satu serial drama yang di tontonnya.


“Kamu harus berterima kasih padanya karena aku sangat menyukai tempat ini.” Ungkap Thea.


“Tentu.” Sahut Xavier.


Thea berjalan menuju tepi danau. Dimana di sana ada rangkaian papan yang di susun sedemikian rupa untuk tempat duduk dan bersantai di sana.


Thea memilih duduk ditepian. Melepaskan sepatunya dan menyentuhkan ujung kakinya ke permukaan danau yang tenang.


Perlahan danau itu beriak, sama seperti saat ia menyentuh air danau saat camping musim semi beberapa waktu lalu.


Thea berusaha menenangkan dirinya, memejamkan matanya sambil merasakan hembusan angin yang lembut mengusap wajahnya dan menerbangkan helaian rambutnya yang panjang.


Xavier yang memperhatikan Thea dari belakangpun segera mendekat.


“Kamu menyukainya?” Tanya Xavier yang kemudian duduk disamping Thea.


Thea mendongakkan kepalanya, menarik nafas dalam-dalam untuk mengganti udara di paru-parunya.


“Ya. Aku merasa kalau duniaku mulai luas, bahkan mungkin terlalu luas.” Ucap Thea.


Perlahan ia membuka matanya yng semula terpejam dan menoleh Xavier.


Xavier tertegun, ia berusaha memahami ucapan Thea walau tidak sepenuhnya bisa ia pahami.


“Kalau bisa memilih, ya aku akan memilih tanggung jawab yang lebih kecil. Karena aku berpikir kalau hidup ini untuk di nikmati bukan untuk di rutuki.”


“Tapi, kita bisa apa kalau hanya takdir yang bisa memilih kita, bukan kita yang memilih takdir kita sendiri?” timpal Xavier. Ia berusaha tersenyum walau kelu.


Ia menengadahkan tangannya dan tidak lama nyala api keluar dari telapak tangannya.


“Aku tidak pernah menginginkan ini Thea. Mungkin akan lebih baik kalau aku memang hanya seekor serigala yang tidak pernah terpisah dari kawanannya.” Lanjut Xavier.


Ia mengepalkan tangannya dan nyala apipun padam.


“Tapi sayangnya, aku tidak bisa memilih.” Imbuhnya dengan lemah.


“Jadi, kenapa tidak kita nikmati saja jalan yang sudah ditentukan ini?” Xavier memilih turun ke danau dan mengambang di permukaan danau.


“Kamu tidak ingin turun?” Tawar Xavier.


Thea terdiam beberapa saat. Cahaya matahari sore membuat permukaan danau tampak berkilau kekuningan. Ia memikirkan perkataan Xavier barusan bahwa untuk beberapa orang, takdirlah yang memilihnya. Bukan ia yang menentukan takdirnya.


“Ayolah, apa tidak menjemukan hanya memikirkan takdir dan tidak menikmatinya?” Xavier mengulurkan tangannya pada Thea. Rasanya ia bisa memahami perasaan Thea saat ini. Merasa terikat pada sesuatu yang tidak seharusnya mengikatnya.


Tapi kemudian Thea berpikir kalau yang Xxavier katakan itu benar. Ia tidak mungkin hanya merutuki takdir bukan?


Akhirnya Thea ikut turun ke dalam danau. Ia meraih tangan Xavier yang terulur padanya, berpegangan pada lengan kokoh itu

__ADS_1


Keduanya sama-sama mengambang di permukaan air. Xavier mencoba masuk ke dalam air. Menyelam beberapa saat untuk membasahi sekujur tubuhnya. Thea mengikutinya. Ia ikut menyelam dan sedikit berenang menjauh dari Xavier.


Melihat Thea yang mulai mengerakan kaki dan tangannya, berrenang ke arah yang entah, Xavier mengikutinya. Mereka berenang di sekitaran danau dan siapa sangka ternyata ini cukup menyenangkan.


Beberapa ekor ikan menghampiri Thea. Saat Thea membuka telapak tangannya di dalam air, terlihat buih air yang terkumpul membentuk cahaya kebiruan yang menarik perhatian ikan-ikan. Ia tersenyum sendiri saat ternyata apa yang ia lakukan cukup menghiburnya.


Melihat hal menyenangkan yang di lakukan Thea, Xavier mengikutinya. Ia membuka telapak tangannya dan tidak lama nyala api muncul di sana dengan perisai tipis untuk melindunginya agar tidak padam.


Keduanya tersenyum senang. Ikan-ikan mengelilingi mereka seperti ikut menari dalam satu lingkaran air dan api.


Saat nafas Thea terasa mulai sesak, Thea segera mengepalkan tangannya. Ia muncul ke permukaan danau untuk mengambil udara dan diikuti oleh Xavier. Jarak mereka hanya beberapa senti saja satu sama lain.


“Kamu menyukainya?” tanya Xavier.


“Iya. Kamu benar, walau harus menjalani takdir yang tidak aku pilih, tapi kita masih bisa menikmati beberapa hal yang ada di dalamnya.” Ungkap Thea.


“Benar,… Kita hanya bisa mencari peluang untuk menikmati semuanya tanpa harus merasa tertekan. Bukankah kita tetap punya pilihan untuk bahagia atau menderita dengan takdir yang memilih kita?” Hibur Xavier.


Thea mengangguk setuju. Tanpa sadar, arus danau telah membawa Thea mendekat pada Xavier. Jarak mereka begitu dekat hingga Xavier bisa melihat cahaya senja yang membias di wajah polos Thea.


“Apa kamu kedinginan?” Tanya Xavier saat melihat wajah Thea yang sedikit pucat. Ia menatapnya dengan lekat.


“Udara dingin cukup membuatku merinding.” Thea memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangan.


“Kita naik ke atas.” Ajak Xavier yang menarik tangan Thea.


Thea mengikuti saja saat Xavier membawanya menepi. Dengan kedua tangannya Xavier mengangkat tubuh Thea ke atas. Untuk beberapa saat Thea memperhatikan wajah Xavier yang begitu dekat dengan wajahnya lalu tubuhnya. Entah mengapa rasanya mendebarkan


“Terima kasih.” Ucapnya saat Thea sudah sampai di daratan.


Xavier melompat ke atas dan duduk di samping Thea.


“Kita harus lebih sering main ke sini.” Ungkap Thea seraya memeluk tubuhnya yang kedinginan.


“Kamu bisa datang ke sini kapanpun. Cukup beritahu aku.” Ucapnya. Xavier mengambil jaketnya yang tadi ia lepas sebelum berenang. Ia menyelimutkan jaketnya di bahu Thea.


Thea mengangguk lantas menoleh. Untuk beberapa saat keduanya saling berpandangan. Entah dorongan dari mana yang membuat jarak keduanya kini semakin dekat dan dekat lagi hingga hanya berjarak beberapa senti saja.


Siapa sangka, Xavier mengecup bibir Thea beberapa saat dan Thea tidak menolaknya.


Merasa tidak ada penolakan dari Thea, Xavier menangkup satu sisi wajah Thea dan mengusapnya dengan lembut. Thea tampak menikmati usapan lembut Xavier yang terasa begitu menenangkannya. Tatapan Xavier terasa begitu hangat untuknya.


Tanpa menunggu lama, Xavier mendekatkan wajahnya pada Thea dan kembali mengecup Thea. Thea membalasnya, membuat kecupan itu menjadi pagutan kuat yang dipenuhi gairah. Kedua tangan Thea berada di leher Xavier sementara tangan Xavier mengusap lembut punggung Thea, membuat bulu kuduknya meremang.


Keduanya menikmati saat decapan itu di sertai pertukaran saliva yang mengandung gairah. Semuanya baru terhenti saat Thea terpaksa melepaskan pagutannya karena nyaris kehabisan nafas.


Thea terengah-engah dan Xavier berusaha menenangkannya. Ia menempatkan dahinya di dahi Thea membuat ia bisa merasakan hembusan nafas Thea yang hangat menerpa wajahnya.


“Aku ingin selalu seperti ini Thea. Bersamamu.” Ungkap Xavier yang tetap memejamkan matanya, menikmati desiran halus yang menjalar di sekujur tubuhnya.


“Maka tetaplah di sini,…” timpal Thea dengan perasaan yang sama.


Dan senja itu menjadi saksi keduanya untuk mengikat janji agar selalu bersama.


****

__ADS_1



__ADS_2