Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Ajakan


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang dari berjalan-jalan, Thea dan Xavier tidak banyak berbicara satu sama lain. Sesekali Thea memandangi wajah Xavier dari spion dan pura-pura membuang muka saat Xavier membalas tatapannya. Ia memperhatikan benar mata Xavier yang biru itu dan mencona menyelaminya.


Setelah mendengar cerita Xavier tadi, Thea tidak lagi melihat kesedihan di matanya. Tatapannya sangat jauh berbeda dengan saat ia pertama kali melihat mata Xavier yang coklat dan sedikit kemerahan. Terlihat jelas aura kemarahan yang keras dan tegas dari laki-laki ini. Mungkin saat ini perasaannya sudah jauh lebih baik.


Saat memasuki area apartemen, Thea segera melerai jarak tubuhnya dengan Xavier. Ia duduk tegak di boncengan Xavier yang sedang memarkirkan motornya.


Thea turun lebih dulu, melepas helm nya tapi malah kesulitan.


Xavier segera paham dengan kesulitan Thea dan membantu gadis itu melepaskannya.


“Ceritaku memang menyebalkan dan terima kasih sudah mendengarkan tanpa mengakimiku.” Ucap Xavier di tengah usahanya melepas Helm Thea.


Untuk beberapa saat mereka berpandangan membuat desiran-desiran kecil mengisi aliran darah keduanya.


“Apa yang harus aku hakimi? Aku bahkan tidak bisa membayangkan sesulit apa kondisimu saat itu.”


“Aku hanya tau, kamu hebat bisa melewati semuanya hingga sekarang.” Timpal Thea seraya tersenyum kecil mengapresiasi usaha Xavier.


Mereka tertegun beberapa saat, saling melempar senyum untuk satu sama lain.


“Kalian baru pulang?” Tanya sebuah suara yang ada di belakang Thea dan Xavier. Keduanya kompak menoleh.


“Allen?” Thea menyernyitkan dahinya kaget. Ia tidak percaya kalau laki-laki populer ini berada di sekitar tempat tinggalnya yang di kenal kumuh.


“Ya. Selamat malam.” Sapanya basa basi. Ia yang semula terduduk di tangga kini berdiri, mempertunjukkan sosoknya yang tinggi menjulang, setara dengan Xavier.


“Ada apa kamu datang ke sini? Ini bukan tempat biasanya kamu berada.” Tanya Thea penasaran.


Laki-laki itu tersenyum kecil lantas menghampiri Thea.


“Aku merasa kalau tempat ini mulai menarik. Dan,...” Allen mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah kertas yang lebih terlihat sebagai sebuah surat undangan berbentuk persegi berwarna jingga dan merah.


“Ada perayaan kecil di rumahku. Sebagai teman kuliahku, aku harap kamu bisa datang. Mungkin saja, kamu bisa lebih mengenal teman-teman kuliahmu dan bisa menemukan teman yang cocok.” Allen menyodorkan kertas itu pada Thea.


Walau ragu, Thea akhirnya menerima surat undangan itu. Ia melihat isi undangan itu sebentar, rupanya akhir pekan ini.


“Karena ini bulan oktober, dress code nya hellowen. Kamu bisa mengajak temanmu kalau dia mau ikut. Hanya tolong katakan, tidak boleh ada kekerasan di sana.” Allen mengintip sedikit Xavier yang berdiri di belakang Thea.

__ADS_1


Thea tidak lantas menjawab. Entah ia akan datang atau tidak.


“Dan Thea, boleh aku meminta nomor ponselmu? Aku ingin memasukkanmu ke group teman kuliah.” Allen memberikan ponselnya pada Thea, meminta gadis itu mengetikkan nomornya sendiri.


“Tenanglah, aku tidak akan mengganggumu.” Ucapnya lagi.


"Aku tidak mengingat nomor ponselku." Sahut Thea dengan dingin.


Allen tersenyum kecil. Ia sudah bisa menduga kalau Thea akan menolak memberikan nomor ponselnya.


Allen mengambil kembali surat undangan itu dari tangan Thea lalu menuliskan nomor teleponnya di sana.


"Hubungi aku jika kaamu berubah pikiran." Ucap Allen yang memberikan kembali surat undanan itu pada Thea.


Thea menerima surat undangan itu dan menatap Allen dengan penuh selidik. Ia merasa mungkin saja Allen memiliki siasat di balik undangannya. Dan Thea bukan seseorang yang mudah untuk terpancing.


"Baiklah, aku pergi dulu. Kamu masih ada waktu satu hari untuk memutuskan akan datang atau tidak. Sampai jumpa." Pamit Allen yang berlalu pergi setelah meninggalkan sebuah senyuman untuk Thea.


******


"Kamu akan datang?" Xavier masih memperhatikan wajah Thea yang terlihat tersenyum kecil. Tidak biasanya ia melihat Thea tersenyum seperti ini.


"Entahlah. Hanya saja ini terasa aneh. Sekarang mereka mengundangku ke acara mereka padahal dulu mereka melihat aku duduk di barisan kursi yang sama dengan mereka saja, mereka akan langsung mengusirku." Thea tercenung beberapa saat mengingat kejadian menyebalkan yang ia alami dulu lantas menaruh undangan itu di atas meja.


Ia beralih menuju dapur untuk mengambil air minum.


Xavier balas mengambil undangan itu lalu membaca jelas isinya seraya membaringkan tubuhnya di atas sofa, dengan lengan kirinya yang ia jadikan bantalan sementara kakinya tersilang di ujung sofa.


"Mungkin mereka baru sadar kalau kamu orang yang menarik." Ujar Xavier dengan enteng.


"Hahahaha... Jangan bercanda Xavier. Sejak dulu penampilanku seperti ini, tidak ada yang berbeda sama sekali." Thea menggelengkan kepalanya tidak percaya lantas meneguk minuman yang sudah ia siapkan di dalam gelas.


Seraya menyilangkan tangan di depan dada, Xavier memperhatikan Thea dari tempatnya.


"Thea, apa itu pacar?" Tanya Xavier tiba-tiba.


"Uhuk!" Thea sampai terbatuk mendengar pertanyaan Xavier yang random itu.

__ADS_1


Xavier segera bangkit dan bergerak cepat menghampiri Thea.


Lagi Thea terhenyak melihat kedatangan Xavier yang tiba-tiba ada di hadapannya dan mengambil gelas di tangan Thea.


"Apa aku mengagetkanmu?" Tanyanya dengan polos.


Thea melap bibirnya yang basah dan Xavier mengikutinya.


"Masih ada yang basah di sini." Ia mengusap pipi Thea dengan santainya.


"Aku bisa melakukannya sendiri." Thea segera memalingkan wajahnya dari Xavier lalu melap wajahnya dengan tisue dapur.


"Ya, kamu memang selalu bisa melakukan segala sesuatunya sendiri." Xavier tersenyum kagum di depan Thea dan memandangi gadis yang wajahnya bersemu kemerahan.


"Apa?" Tanya Thea yang salah tingkah.


"Aku menunggu penjelasanmu. Biasanya kamu akan menjawab semua pertanyaanku dengan sederhana." Xavier menunggu jawaban Thea seraya bersidekap, menyilangkan tangannya di depan dada. Tatapannya fokus pada Thea.


"Pertanyaan yang mana?" Thea pura-pura lupa.


"Apa itu pacar?" Lagi Xavier mengulang pertanyaannya.


"Oh,.. Pacar itu,.." Thea menggaruh kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada Xavier yang benar-benar menunggu jawabannya.


"Itu, sebuah hubungan teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Dua orang itu saling menyayangi dan saling memberi perhatian juga saling peduli."


"Kurang lebih seperti itu." Thea menjelaskan sesuai yang ada di kamus.


Xavier mengangguk paham.


"Baiklah." sahutnya seraya tersenyum kecil.


Ia pergi dari hadapan Thea dan kembali membaringkan tubuhnya di sofa. Bibirya tersenyum kecil sementara Thea masih berdiri di tempatnya dengan jantung yang berdebar kencang.


"Akh sial!" batin Thea.


****

__ADS_1


__ADS_2