Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Godland yang berbeda


__ADS_3

Godland, menjadi dunia yang berbeda saat empat orang itu tiba di klan air.


Saat perpindahan antar dunia itu berhasil dilakukan, klan pertama yang mereka kunjungi adalah klan air, tempat yang ditinggali kaum Thea.


Thea di buat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Godland milik klan air yang biasanya tenang dan damai sekarang sudah jauh berbeda. Ada banyak sisa nyala api yang menghanguskan tumbuhan di klan ini. Mereka juga menemukan mayat dari anggota klan yang sudah mengering karena auranya di ambil oleh seseorang.


“Bagaimana bisa Godland sehancur ini sekarang?” ucap Thea dengan tidak percaya.


Pohon-pohon besar yang dulu ada di tempat ini sudah menjadi semak belukar yang kering seperti sudah lama mati.


Mathew menyentuh satu pohon besar dan merasakan energi yang mengalir di dalamnya. Ia memejamkan matanya untuk beberapa saat dan tidak lama wajahnya tampak menyesal.


“Sepertinya aura pepohonanpun sudah di ambil oleh penduduk klan air, demi bisa bertahan. Pohon-pohon ini sudah tidak memiliki aura sama sekali.” Terang Mathew.


Mereka memperhatikan seisi hutan yang didominasi pohon kering dan semak belukar yang nyaris tumbang.


“Apa itu artinya di tempat ini sudah tidak ada kehidupan?” Thea dengan kekhawatirannya yang besar.


“Aku tidak yakin. Kita harus segera menuju pemukiman klan air untuk melihatnya secara langsung.” Saran Mathew.


“Baiklah, kita pergi sekarang.” Thea sudah ingin bergegas.


“Tunggu sebentar Thea ….” Xavier menahan Thea agar tidak segera pergi.


“Ada apa?” Langkah Thea pun terhenti.


“Aku merasakan kaumku ada di sekitar sini.” Ucap Xavier dengan mata waspada. Pendengarannya cukup jelas, ada derap kaki yang mendekat. Dan kekuatannya cukup bisa merasakan kekuatan sejenis yang mendekat.


“Siut!!” sebuah anak panah tiba-tiba melesat ke arah Thea dan dalam satu gerakan Xavier segera menangkapnya.


“Kita harus berlindung.” Xavier menarik tangan Thea untuk bersembunyi di balik pohon yang tidak terlalu besar kering.


“Aku akan pergi ke arah sana dan kau ke sana. Kira berjaga-jaga untuk memastikan sampai keadaan sudah aman.” Ujar Mathew memberi perintah pada Asher.


“Baik.” Asher setuju. Ia segera pergi ke arah yang di tunjuk Mathew sementara Mathew pergi ke arah yang berlawanan.


Mereka bersembunyi di tempat masing-masing, mengintai sampai mereka yakin kalau keadaan aman.


“Apa kamu tahu anak panah itu berasal dari klan mana?” Thea menatap Xavier yang ada di hadapannya.


Ia bersandar pada batang pohon sementara Xavier ada di hadapannya, mengintai kondisi di belakang Thea. Kecilnya batang pohon membuat mereka harus berdekatan untuk menyembunyikan tubuh mereka.


“Aku rasa anak panah itu milik klan api. Anak panah yang sama yang dulu sering menyerangku.” Ujar Xavier seraya menatap Thea penuh sesal.

__ADS_1


“Apa mereka masih memburumu? Atau justru memburuku?”


“Entahlah. Mereka bisa memburu siapapun yang bisa mereka rasakan auranya.” Xavier menatap Thea dengan lekat.


“Apa saat ini auraku sangat kuat?” Thea menyentuh tangan Xavier. Tangan yang sedang bertopang pada batang pohon, tepat di samping kepala Thea.


Xavier berhenti mengintai sekitarnya. Ia memperhatikan Thea yang sedang menunggu jawabannya.


“Ya, auramu sangat kuat Thea.” Sahut Xavier seraya menatap Thea dengan lekat. Mata birunya bercahaya seperti tengah menggambarkan perasaan tertentu.


“Jantungku bahkan berdebar sangat kencang. Rasakanlah.” Xavier menarik tangan Thea lalu ia tempatkan di dadanya.


“Dub! Dub! Dub!” Thea bisa merasakan debaran jantung Xavier yang sangat kuat dan cepat.


“Kamu bisa merasakannya?” tanya Xavier.


Thea mengangguk kecil. Ia memang bisa merasakan debaran jantung Xavier, tapi tidak dengan merasakan aura Xavier.


Tidak berselang lama, terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari.


“Ada yang datang.” Ucap Xavier tiba-tiba.


Thea ikut mengintip dari balik pohon dan tidak lama ia melihat dua orang berlari dengan kesusahan. Satu orang wanita tua dengan wanita muda di sampingnya.


“Itu Eve dan Luella.” Ucap Thea yang mengenali dua orang tersebut.


“Tunggu!” seru Xavier yang tetap menahan tangan Thea agar tidak beranjak.


“Aku harus menolong mereka Xavier.” Thea berusaha melepaskan tangan Xavier yang memeganginya.


“Iya, tapi tidak sekarang.” Seru Xavier.


“Lalu kapan? Menunggu sampai mereka terluka?” tanya Thea.


“Siut!!” sebuah anak panah kembali meluncur dan kali ini tepat mengenai punggung Eve.


"Akh!" Eve melenguh kesakitan.


Thea terhenyak kaget melihat Eve yang kemudian jatuh terkulai.


“Eve! Bertahanlah!” seru Luella yang segera memegangi wanita tua itu.


Tanpa di duga, Thea tiba-tiba mendorong tubuh Xavier menjauh dan segera berlari menghampiri Luella dan Eve.

__ADS_1


“Thea?” Seru Luella dengan tidak percaya.


“Ya, ini aku. Ayo kita bawa Eve berlindung di tempat yang aman.” Cepat-cepat Thea meraih tangan Eve sementara anak panah masih mencap di punggungnya.


“Iya, tolong kami Thea.” Pinta Luella dengan putus asa. Penampilannya sudah berantakan dengan keringat bercucuran dan wajah yang pucat. Seperti tenaganya hampir habis.


“Ikutah denganku. Anda masih kuat berjalan Eve?” tanya Thea yang mencemaskan Wanita Tua si sampingnya.


Eve mengangguk kecil, dengan sisa tenaganya ia mencoba bertahan.


Baru beberapa langkah di ambil ketiganya, tiba-tiba saja anak panah berikutnya menyerang mereka.


“AWAS!!!” seru Xavier, Mathew dan Asher bersamaan.


Beberapa senti saja anak panah itu hampir mengenai Thea namun tiba-tiba sebuah perisai air membentang, melindungi Thea. Tiga orang itu berada di dalam perisai air. Perisai air yang muncul dan tercipta di waktu yang tepat.


“Anda yang melakukannya Eve?” tanya Luella yang menatap Eve penuh tanya.


“Bukan aku, tapi gadis ini.” Ucap Eve seraya menoleh Thea yang sedang memejamkan matanya.


Ya, Thealah yang melakukannya. Entah kekuatan dari mana sehingga tiba-tiba perisai itu muncul untuk melindungi dirinya dan dua orang yang ada disampingnya. Beberapa anak panah berjatuhan, tidak bisa menembus perisai itu.


“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Eve yang memandangi Thea dengan penuh kekaguman dan penasaran.


Ia bisa merasakan, anak panah yang menancap di punggungnya pun lepas dengan sendirinya dan lukanya perlahan menutup.


Tidak hanya Eve dan Luella tetap tiga orang lainnya yang sedang memperhatikan Thea pun di buat terpana melihat apa yang terjadi. Bisa mereka lihat kalau perisai itu semakin lama semakin luas dan menebal.


"Eve lihat itu?" seru Luella saat melihat satu per satu tumbuhan yang ada di dalam perisai itu seperti kembali hidup dan memiliki nyawa. Semua itu dilakukan oleh Thea.


“Anda melakukannya dengan baik yang Mulia.” Ujar Mathew di tempatnya. Ia menyadari benar, inilah kekuatan Thea yang sebenarnya. Kekuatan seorang dewi air yang selama ini terkunci di dalam tubuhnya.


Setelah merasakan semuanya aman, perisai itupun memudar dengan sendirinya. Xavier segera mendekat menghampiri Thea.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Xavier yang dibuat khawatir.


“Iya, aku baik-baik saja. Sekarang aku bahkan bisa merasakan aura kalian.” Ucap Thea yang terengah mengatur nafasnya.


Dengan mata telanjang ia bisa melihat berbagai macam warna aura yang ada di tubuh Luella, Eve, Xavier, Mathew bahkan Asher.


Ia mengangkat tangannya lalu ia perhatikan lekat-kelat. Cahaya biru berkumpul di telapak tangannya. Cahaya inilah yang tadi tiba-tiba muncul saat ia merasakan anak panah yang melesat ke arahnya.


“Kamu melakukannya dengan baik Thea.” Ucap Xavier.

__ADS_1


Thea hanya tersenyum, sambil merasakan tenaganya yang seperti bertambah berkali lipat.


****


__ADS_2