
Di tengah malam yang sepi, mata Xavier tiba-tiba terbuka saat ia mendengar suara pelan di balik pintu. Telinganya mendadak begitu peka dan sekarang ia bisa mendengar suara sekecil apapun.
Xavier segera bangkit, ia melihat Thea masih terlelap di bawah selimut, hanya kepalanya saja yang terlihat.
Sedikit menguping dari balik pintu, terdengar seseorang seperti sedang berusaha membuka pintu dengan hati-hati. Dengan gerakannya yang cepat, Xavier membuka pintu dan segera keluar. Kurang dari satu detik, Xavier sudah berada di belakang orang tersebut.
Seorang laki-laki langsung menegakkan tubuhnya yang semula membungkuk saat ia sadar seseorang berdiri di belakangnya, dengan energy yang sanga kuat.
“Pangeran,…” ucap laki-laki itu yang tidak lain adalah Asher.
“Sedang apa kamu di sini?” Tanya Xavier seraya bersidekap, menyilangkan tangan di depan dada.
Asher segera berbalik dan mengangguk takzim pada Xavier. Ia bisa melihat sendiri kalau kekuatan Xavier telah kembali seutuhnya.
“Ampun tuanku, hamba di minta untuk membawa tuanku pulang ke kerajaan api.” Terang Asher tanpa berani mengangkat wajahnya.
“Sudah aku bilang Asher, aku tidak akan pulang. Kamu saja yang pulang. Untuk apa kamu sampai datang kemari, ini bukan tempatmu.” Tolak Xavier dengan enggan.
Ia sudah merasa lebih baik di dunia ini. Menata hidupnya sedikit demi sedikt dan mulai beradaptasi dengan kebiasaan manusia di sekitarnya.
“Tapi tuan, kerajaan api saat ini semakin kacau. Banyak api abadi yang mulai padam dan rakyat kita banyak yang bertikai. Setiap harinya, satu per satu dari mereka mati atau diasingkan ke Godland dan permukiman klan api di Godland semakin penuh sementara di langit kita nyaris tidak memiliki prajurit.” Terang Asher dengan penuh sesal.
__ADS_1
Xavier tersenyum miring, puas sekali rasanya mendengar kondisi di kerajaan api saat ini.
“Kamu harus tau, itulah akibatnya kalau kalian seenaknya mengusir dan membuang penghuni kerajaan api. Semakin lama, jumlah kalian akan semakin sedikit dan bersiaplah, mungkin sebentar lagi kerajaan air, tanah dan udara akan menyerang kalian.” Timpal Xavier dengan dingin. Menurutnya ia sudah tidak ada urusan dengan klan itu.
“Kalian mengutuk dan mengusirku, di saat kalian tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Kalian mengunci kekuatanku dan membuatku nyaris menyerah dengan hidup sebagai seekor serigala selama bertahun-tahun.”
“Dan sekarang, kalian memintaku pulang? Hahahaha lucu! Aku bahkan tidak punya kekuatan untuk membantu kalian.” Xavier pura-pura merendah.
“Kami tau, kekuatan anda sudah Kembali tuan. Para tetua di klan api bisa merasakan itu.” Asher segera menimpali, membuat senyum lebar Xavier berubah menjadi senyum sinis.
“Oh ya? Benarkah kalian bisa merasakannya?” Xavier membuka telapak tangannya dan mengarahkannya ke atas. Dalam sekejap nyala api muncul dari telapak tangan Xavier.
“Seperti apa rasanya? Apa seperti mendapatkan kembali harapan untuk hidup lebih lama lagi?” Tanya Xavier setengah meledek.
Helaan nafas lega Asher pun berhenti. Ia menatap Xavier dengan penuh permohonan.
“Aku tidak akan Kembali Asher. Aku tidak akan hidup hanya untuk kalian lagi. Lagi pula, kalian yang pertama membuka celah untuk di perangi maka kalian sendiri yang harus menutupnya. Jangan melibatkanku.” Xavier bersikukuh dengan pendiriannya.
“Tapi tuan, dunia ini juga tidak cocok untuk anda.” Asher dengan usahanya untuk tidak menyerah membujuk xavier pulang.
“Di dunia ini tuan akan menemui sakit. Umur tuan akan bertambah dengan sangat lambat. Dan tuan juga bisa bertemu dengan kematian. Dunia ini tidak cocok untuk anda tuan.” Ia berusaha menyadarkan xavier.
__ADS_1
“Pikirmu aku peduli?” Xavier menyeringai sarkas.
“Kamu lupa, kalau saat kalian mengusir dan mengutukku saat itu pula kalian sudah memuat jiwaku mati?” Lanjutnya dengan tatapan tajam pada Asher.
Ia mengeluarkan secari kertas yang kemudian ia tunjukkan pada Asher.
“Kalian bahkan seolah mengumumkan kematianku melalui tulisan ini.” Tulisan yang Xavier terima dari Thea.
Asher segera mengambil kertas itu dari tangan Xavier. Ia membacanya dengan seksama. Dan melihat kode yang ada di bawah tulisan itu, ia yakin kalau tulisan tersebut berasal dari kerajaan api.
“Dari mana anda mendapatkan ini tuan?” Asher tampak terkejut.
“Kamu tidak perlu tahu aku dapat dari mana tulisan itu. Yang harus kalian tahu, kalian sudah mengumumkan ke seluruh semesta kalau kalian sudah membuangku. Dan sekarang kalian memintaku kembali? Pikirmu aku akan sudi?" Xavier berdecik sinis. Ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap semena-mena para tetua di kerajaan api.
“Saya minta maaf tuan.” Ucap Asher yang kemudian bertekuk lutut di hadapan Xavier.
Xavier tersenyum kecil melihat apa yang Asher lakukan.
“Bukan kau yang seharusnya bersujud di kakiku Asher, melainkan para tetua itu. Dan nikmati saja dulu rasa sesak kehilangan energi di tubuh kalian. Karena aku tidak akan pernah menuruti keinginan kalian.” Tegas Xavier yang kemudian memilih berlalu pergi.
Asher hanya terpekur. Ia sadar kalau yang ia dan para tetua lakukan adalah sebuah kesalahan.
__ADS_1
*****