
Di depan rumah Thea, sudah menunggu seorang wanita tua dengan tongkat kayu di tangannya, untuk menopang tubuhnya yang sudah renta. Kepalanya yang tertutup kerudung hitam, membuat Thea tidak terlalu yakin kalau ia mengenal sosok tersebut.
“Kamu mengenalnya?” Tanya Xavier. Rupanya ia pun merasakan keanehan dari keberadaan wanita itu di depan rumah Thea.
“Aku tidak yakin. Tapi sepertinya wanita itu mengenalku.” Thea tetap melanjutkan langkahnya, ia pun penasaran dengan seseorang yang menunggunya.
“Anda, Thea?” Tanya wanita itu, saat Thea berdiri tepat di hadapannya. Ia tersenyum menunjukkan barisan giginya yang sudah menghitam.
“Benar. Apa anda mengenal saya?” Thea balik bertanya. Wajah yang sudah keriput tampak asing di mata Thea.
“Tentu. Anda putri tuan Tristan. Laki-laki gila yang menikahi wanita yang tidak seharusnya ia nikahi.” Sahut wanita itu. Mata wanita itu tertutup, tapi sepertinya ia sangat mengenal siapa Thea.
“Apa maksud anda? Ayah saya tidak gila!” Tegas Thea tidak terima.
Kalau saja yang berbicara ini bukan seorang nenek renta, mungkin Thea tidak segan untuk berbicara lebih kasar dari ini.
Alih-alih menjawab, wanita itu malah mendekat. Ia meraih tangan Thea dan menggenggamnya dengan erat.
“Kenakan pakaian anda, jangan menarik perhatian banyak orang.” Ucapnya, pelan namun penuh ketegasan. Ia memberikan selembar kain hitam pada Thea namun Thea enggan untuk menerimanya.
“Apa maksud anda? Saya sudah berpakaian.” Thea memperhatikan dirinya sendiri yang masih mengenakan pakaiannya lengkap dengan jaketnya yang tebal.
“Apa anda tidak tahu, kalau penampilan anda sekarang terlalu menarik bagi mata manusia?” Ia meraih lengan Thea lalu merabanya, seperti tengah memeriksa sesuatu.
Merasa yang ia cari tidak ada di sana, ia pun melepaskan tangan Thea.
Thea mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan ucapan wanita ini. Ya, ia akui kalau belakangan ini memang banyak pasang mata yang memperhatikannya. Ia tidak lagi dikucilkan bahkan Allen yang selalu membully-nya karena jijik pada Thea, sekarang malah mengejarnya. Tapi apa hubungannya dengan berpakaian?
“Apa maksud anda nyonya? Saya berpakaian lengkap, silakan anda lihat sendiri.” Karena kesal akhirnya Thea mengucapkan kalimat yang sebenarnya seolah mengejek penglihatan wanita di hadapannya.
__ADS_1
Wanita itu hanya tersenyum seperti tidak merasa bersalah dengan ucapannya apalagi tersinggung dengan kata-kata Thea.
“Harusnya anda tidak melepas gelang itu.” Timpal wanita itu dengan tenang. Kedua tangannya bertumpu pada tongkat yang ia pegang.
Dengan segala rasa penasarannya, akhirnya Thea membawa wanita itu masuk ke rumahnya.
Thea terduduk di kursi yang saling berhadapan dan hanya terhalang meja kecil dengan wanita yang mengaku bernama doroti tersebut.
Thea sudah tidak sabar menunggu wanita ini menjelaskan, siapa dirinya sebenarnya dan bagaimana bisa mengenal Thea. Tapi wanita ini masih menikmati suasana ruangan yang lapuk termakan usia. Walau matanya tidak bisa melihat, ia tetap menengok ke kiri dan kanan seperti tengah memperhatikan seisi ruangan.
Xavier yang ikut tidak sabar menunggu penjelasan Thea, hanya bisa menatap wanita itu dengan penuh rasa penasaran. Entah siapa sebenarnya wanita yang memiliki aura keabuan tersebut. Aura yang dimiliki oleh manusia-manusia pilihan yang memiliki kemampuan supranatural.
“Usia anda sudah 25 tahun, bukan?” Tanya Doroti yang kini menatap Thea.
“Iya. Bagaimana anda tahu usia saya dan tentang gelang saya?” Thea semakin penasaran dengan sosok wanita yang kini tersenyum kecil di hadapannya. Seolah mengejek rasa penasaran Thea.
“Wangi angin sore ini, sama persis dengan wangi angin sore 25 tahun lalu. Basah dan akan segera turun hujan.” Ucap wanita itu. Baru beberapa saat kalimat itu di ucapkan, terdengar suara titik hujan yang turun di genting. Wangi tanah yang basah tersiram hujanpun mulai tercium. Thea dan Xavier kompak menoleh keluar jendela yang kotor itu dan benar saja, hujan turun tanpa pernah di duga.
Thea dan Xavier saling bertatapan beberapa saat. Ucapan wanita ini benar-benar menjadi kenyataan.
“Anda ada saat saya terlahir?” Thea semakin penasaran. Mungkin wanita ini mengetahui banyak hal tentang dirinya.
Wanita itu tersenyum kecil. “Saya pikir, seorang anak perempuan yang lahir dari pasangan manusia dan mahluk kayangan, tidak akan hidup lebih dari 10 tahun.” Ucap wanita itu dengan tenang.
“APA MAKSUD ANDA?!” Suara Thea segera meninggi. Ia sampai beranjak dari tempatnya tapi kemudian Xavier menahan tangannya dan memintanya untuk kembali duduk.
“Tuan Tristan, memiliki seorang anak yang tidak seharusnya dilahirkan oleh dewi air. Apalagi ia tumbuh sampai sedewasa ini.”
“Maksudmu, ibuku dewi air?” Thea segera memotong kalimat Doroti. Ia perlu jawaban yang cepat.
__ADS_1
“Ya. Ibu anda adalah seorang dewi di kerajaan air. Dia datang ke dunia ini karena jatuh cinta pada manusia seperti tuan Tristan.” Ucap Doroti dengan tenang.
“Jangan bercanda nyonya Doroti. Walaupun itu dongeng yang sering ayahku ceritakan tapi tidak berarti itu benar.”
“Bagaimana kalau saya melihatnya sendiri?” Doroti balik bertanya.
“Maksud anda? Anda juga dari kerajaan air?” Thea semakin mencondongkan tubuhnya pada Doroti.
Bukan jawaban yang diberikan wanita itu. Melainkan, ia membuka kerudung yang menutupi kepalanya dan tampaklah sosoknya yang tua rentan. Perlahan, ia membuka matanya yang sedari tadi terpejam dan tampaklah bola mata kebiruan yang sama persis dengan yang Xavier miliki.
Thea dan Xavier sampai terhenyak melihat wujud asli wanita ini. Bersamaan dengan matanya yang terbuka, derai hujanpun seperti terhenti. Air hujan yang berjatuhan kini menggantung di udara.
Nyala lilin yang semula meliuk terkena anginpun kini terdiam.
“Apa yang anda lakukan?” Tanya Thea.
“Anda masih bisa bergerak bukan? Padahal hujan sekalipun berhenti turun saat mata saya terbuka.” Ujar wanita itu pada Thea.
Thea menyandarkan tubuhnya lemah. Nalarnya masih belum sampai pada sebuah kesimpulan dari penjelasan wanita di hadapannya.
“Apa anda salah satu dewi dari klan air?” Itu kesimpulan yang berhasil di Tarik Xavier.
“Saya hanya seorang pelayan dari klan air. Yang terjebak di dunia ini setelah Dewi Clara meninggal.” Aku wanita itu yang kembali memejamkan matanya.
Di saat itu, hujanpun kembali menetes dan nyala aii kembali meliuk terkena hembusan angin. Rupanya wanita ini mengatakan yang sebenarnya.
****
Yang masih nunggu part selanjutnya, silakan like dan komen. Novel ini terlalu hening, hehehe....
__ADS_1