
Keenam orang itu saat ini berlindung di tempat yang aman. Di sebuah gubuk di tepi sungai. Mereka sedang mendengarkan cerita dari Eve yang menceritakan kondisi Godland, terutama suku air beberapa lama ini.
“Penduduk klan air hampir punah seluruhnya. Setelah teratak kami di serang, kami tidak memiliki lagi tempat tinggal. Kami berpencar, menyelamatkan diri masing-masing dengan cara bersembunyi di hutan.” Terang Eve dengan wajah sendunya.
“Aku dan Luella, hampir mati saat seorang laki-laki tua datang dari klan api dan hendak mengambil kekuatan kami.” Wanita itu menunjukkan bekas luka terbakar di tangannya.
“Apa benar-benar klan api yang menyerang kalian?” Xavier ingin meyakinkan.
“Pikirmu aku berbohong?! Mereka jelas mengatakan kalau hanya klan api yang seharusnya berkuasa di Godland ini.” Eve menatap Xavier dengan tidak suka. Baginya, laki-laki ini adalah bagian dari klan api yang sudah menghancurkan klannya.
Xavier tidak bisa berkata-kata. Ia tidak bisa membayangkan, separah apa kehancuran yang di buat oleh klan api.
“Semua klan di serangnya. Di buat porak poranda. Tetua dari klan tanah bahkan sudah tiada. Hanya satu klan yang tidak bisa di sentuhnya yaitu klan udara.” Lanjut Eve dengan tatapan nanar.
Xavier menoleh Asher yang duduk di kejauhan. Ia perlu waktu untuk bicara dengan penasihatnya.
Sementara membiarkan Eve bercerita pada Thea dan Mathew, Xavier mengajak Asher untuk berbicara empat mata.
“Apa menurutmu kita harus kembali ke kerajaan api sekarang?” tanya Xavier pada laki-laki tegap di sampingnya.
“Benar tuanku. Anda harus segera menyalakan obor api abadi agar kekuatan penghuni klan api dan kerajaan api bisa kembali.” Terang Asher dengan yakin.
“Apa menurutmu dengan begitu mereka akan berhenti membuat kerusakan? Jiwa mereka sudah terlanjur dikuasai keserakahan. Aku takut, jika aku mengembalikan kekuatan mereka, mereka akan semakin menggila dan membuat kerusakan.” Ujar Xavier penuh rasa khawatir.
Asher ikut tercenung beberapa saat. Ia ikut memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.
“Mungkin ada baiknya kalau kita kembali ke kerajaan api dan membicarakan ini dengan para tetua.” Saran Asher kemudian.
Xavier tidak lantas menimpali. Ia hanya memandangi Thea dari kejauhan. Memikirkan apa ia bisa berpisah dengan gadis itu?
Entahlah.
Di tempatnya, saat ini Mathew sedang menceritakan siapa Thea sebenarnya. Mulai dari bagaimana Thea bisa masuk ke Godland dan bagaimana bisa Thea melindungi Eve dan Luella beberapa saat lalu.
“Bagaimana bisa yang mulia tidak memeritahu hamba, siapa yang mulia sebenarnya.” Ucap Eve yang langsung bersujud di hadapan Thea.
Ia menyesal karena sebelumnya ia berniat mengambil kekuatan Thea. Ia masih mengingat persis bagaimana usahanya untuk menarik aura Thea, namun malah auranya yang tertarik oleh tubuh Thea.
Sekarang ia paham, mengapa siasat yang hendak dilakukannya malah berbalik menyerangnya.
“Bangunlah Eve, Luella. Jangan bersujud di kakiku.” Thea meminta wanita tua itu untuk bangkit.
“Hamba benar-benar menyesal dengan apa yang terjadi sebelumnya yang mulia. Andai hamba tau siapa yang mulia sebenarnya, hamba tidak akan membiarkan yang mulia pergi.” Ucap Eve dengan bersungguh-sungguh.
Thea hanya tersenyum kecil. “Bukan salahmu Eve.” Ia membantu wanita itu untuk bangkit dan berdiri lalu mendudukannya di tempat semula.
“Kalau saja aku tidak bertemu dengan Dorotti, akupun tidak akan tahu siapa diriku sebenarnya.” Terang Thea.
“Doroti?” Eve mentautkan alisnya tidak percaya saat mendengar nama itu.
__ADS_1
“Ya, Doroti. Mendiang pelayan ibuku.” Sahut Thea meyakinkan.
“Aku mengenal wanita itu. Dia adalah pengasuh dewi Clara sejak dewi Clara lahir.” Ucap Eve dengan penuh keyakinan. Sudah ratusan tahun ia tidak bertemu dengan wanita itu dan sekarang mereka benar-benar tidak akan bertemu lagi.
Thea terangguk paham. Rupanya cerita Doroti saat itu bukan isapan jempol belaka. Andai saja Doroti mau bertahan, mungkin saat ini ia pun akan berada di klan air dan bertemu dengan bangsanya. Sayang, semua kejadian itu tidak bisa di ulang.
“Thea, bisa bicara sebentar?” suara Xavier tiba-tiba membuyarkan pikiran Thea tentang Doroti.
“Tentu.” Sahut Thea yang segera beranjak dari tempatnya dan menghampiri Xavier.
Untuk beberapa saat, mereka meninggalkan orang-orang itu. Berjalan berdua di sekitaran hutan untuk mencari tempat yang nyaman agar bisa berbicara dengan tenang.
“Aku akan pergi.” Ucap Xavier saat mereka duduk di sebuah batu besar.
“Aku harus kembali ke kerajaanku.” Lanjut Xavier seraya menatap Thea dengan lekat.
“Kenapa tiba-tiba?” Thea tampak terkejut. Ia pikir mereka akan terus bersama untuk menyelesaikan masalah di Godland satu per satu.
Xavier tidak lantas menjawab. Ia meraih tangan Thea untuk kemudian ia genggam dengan erat.
“Aku minta maaf, atas kerusakan yang dilakukan oleh kaumku. Aku juga minta maaf karena mereka sudah banyak membunuh kaummu.” Ucap Xavier penuh sesal. Ia bahkan tidak berani menatap Thea saat mengatakan hal tersebut. Ia hanya memandangi tangan Thea yang ia genggam dengan erat.
“Kenapa kamu harus meminta maaf Xavier? Tindakan mereka bukan tanggung jawabmu.” Thea mengeratkan genggaman tangannya pada Xavier.
Laki-laki itu hanya tersenyum kecil. Memalukan sebenarnya mendengar kalimat itu dari Thea.
“Mereka adalah kaumku. Kaum yang aku tinggalkan dan aku biarkan terpuruk karena kelemahanku. Aku juga yang membuat mereka akhirnya melakukan banyak kerusakan di Godland ini.” Xavier masih tetap menundukkan kepalanya sekali lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
“Andai waktu itu aku tidak terpuruk. Aku berusaha membuktikan kalau aku tidak bersalah dan tidak berniat membunuh ayahku, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi.”
“Aku terlalu marah Thea. Aku terlalu kecewa karena mereka tidak mempercayaiku.” Xavier terpekur dengan kemarahan yang berkumpul di dadanya. Kilas balik kejadian beberapa tahun lalu seperti kembali menghantuinya.
Thea tidak lantas menimpali. Ia lebih memilih memeluk Xavier dengan erat, sangat erat.
“Kemarahanmu sangat wajar Xavier. Dan aku bangga karena akhirnya kamu mau kembali pada mereka.” Bisik Thea seraya mengusap punggung Xavier. Ia tahu persis bahwa tidak mudah kembali pada orang-orang yang dulu membuangnya dan berniat menyelamatkan mereka.
“Tidakkah kamu merasa kalau mereka sangat beruntung karena mereka akan mendapatkan kesempatan kedua atas pertolonganmu?”
Thea melerai pelukannya sejenak lalu menangkup kedua sisi wajah Xavier untuk ia tatap.
Xavier tersenyum kelu mendengar ucapan Thea.
“Saat berada di kerajaan api, berjanjilah kalau kamu tidak akan membiarkan dirimu dipojokkan atau direndahkan lagi. Kamu bukan pembunuh Xavier dan tunjukkan itu pada mereka.” Ujar Thea dengan meyakinkan.
Xavier tidak menimpali, melainkan hanya memeluk Thea dengan erat.
“Akan hamba penuhi titah yang mulia.” Bisiknya di telinga Thea.
Thea tersenyum kecil mendengar bisikan Xavier.
__ADS_1
“Berjanjilah kamu akan baik-baik saja Thea. Jangan pernah takut untuk menggunakan kekuatanmu.”
Thea terangguk kecil mendengar ucapan Xavier. Ia melepas pelukannya dari Xavier dan memandangi wajah yang akan ia rindukan.
Xavier merogoh sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah bola kristal kecil yang menyala kemerahan berada di atas telapak tangannya.
“Apa ini Xavier, ini sangat indah.” Mata Thea sampai membulat melihat kemilau bola kristal di tangan Xavier.
“Ini adalah kristal kehidupanku. Selama aku hidup, bola ini akan menyala seperti ini. Dan aku ingin, kamu menjaganya Thea. Menjaganya untukku.” Xavier menaruh boleh kristal itu di atas telapak tangan Thea. Membiarkanya menyala bersamaan dengan kabut yang muncul dari tepalak tangan Thea. Mungkin karena energi air dan api yang bertemu.
“Kamu tidak akan pergi selamanya, kenapa kamu memberikan ini padaku?” Thea mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
Xavier tersenyum mendengar pertanyaan Thea.
“Hem, aku memang tidak akan pergi untuk selamanya. Aku hanya tidak tahu, kapan kita bisa bertemu lagi. Selama itu, bisakah kamu menjaganya untukku?” Xavier menatap Thea penuh harap. Ia melipat jemari Thea lalu menggenggam tangan Thea yang mengepal.
Thea tersenyum kecil. Ia mengusap wajah Xavier dengan lembut lalu mendekatkan wajahnya pada Xavier.
“Aku pasti akan menjaga kristal kekasihku, sebaik aku menjaga diriku sendiri.” Ucapnya dengan penuh keyakinan.
Thea menatap lekat wajah laki-laki yang ada dihadapannya. Ia memperhatikan setiap hal yang ada di wajah Xavier yang kelak akan ia rindukan.
Matanya yang kebiruan seperti membuat Thea tenggelam. Alisnya yang tebal dan membingkai wajah Xavier dengan penuh kharismatik. Hidungnya yang bangir, serta bibirnya yang berisi dengan senyumnya yang menawan. Juga garis rahangnya yang tegas dan di tumbuhi rambut halus.
Thea mengusap rahang itu dengan ibu jarinya, menyambung hingga ke bibirnya. Xavier begitu menikmati sentuhan lembut Thea hingga tanpa menunggu lama, ia putuskan untuk menarik tengkuk Thea mendekat lantas mengecup bibir ranum milik kekasihnya.
Ia menyesap kuat-kuat sepasang bibir yang mulai membalas kecupannya. Ia memagutnya dengan penuh perasaan, menyesap semakin kuat hingga terasa hisapan kuat dari keduanya.
Tangan Xavier bergriliya mengusap punggung Thea lalu beralih ke leher dan ia kecupi bagian itu dengan penuh perasaan.
“Xavier ….” Desah Thea yang terengah seraya meremmas rambut Xavier.
Xavier semakin semangat untuk mengecupi telinga Thea, menghembuskan nafasnya di sana membuat bulu kuduk Thea meremang sempurna.
“Xavier ….” Lagi, Thea menyebut nama kekasihnya dengan penuh gairah.
“Apa kamu menginginkanku Thea?” bisik Xavier yang terengah di telinga Thea. Nafasnya hangat menderu.
Thea menelan salivanya kasar-kasar, menerima gairah yang bergejolak di tubuhnya.
“Ya, aku menginginkanmu.” Desahnya tidak tertahan.
Apa yang mereka mulai mereka lanjutkan. Memagut satu sama lain, mengusap dengan lembut area sensual yang membuat Thea menggelinjang geli. Tapi kemudian ia berhenti.
“Maafkan aku, aku tidak mungkin melakukannya di sini.” Bisik Xavier yang memeluk Thea dengan erat.
Gairahnya sudah di ubun-ubun namun untuk saat ini ia harus menahannya.
“Tentu. Kita lakukan di tempat yang lebih layak dari ini.” Timpal Thea seraya terkekeh.
__ADS_1
Xavier ikut tersenyum. Ia lanjutkan semuanya dengan memeluk Thea sebelum mereka berpisah untuk waktu yang entah berapa lama.
****