
“Pergilah untuk membersihkan tubuhmu dulu. Supaya tidurmu nyaman.” Thea menyodorkan handuk pada Xavier dan laki-laki itu menatap Thea dengan tidak paham.
“Ini untuk mengeringkan tubuhmu nantinya. Tapi keluarlah setelah kamu berpakaian.” Tutur Thea.
“Baiklah.” Xavier mengambil handuk itu dari Thea.
“Okey, aku akan menunjukkan beberapa hal yang ada di kamar mandi. Kemarilah.” Thea berjalan lebih dulu dan Xavier mengikutinya.
“Ini namanya kran. Kalau kamu memutarnya ke kiri atau kanan, benda ini akan membuka aliran air di atas kepalamu.”
Xavier ikut menengadah. Posturnya yang tinggi membuat kepala laki-laki itu hampir berdekatan dengan pancuran shower.
“Ke kanan untuk air panas dan ke kiri untuk air dingin. Untuk menghentikan alirannya, posisi pegangan ini harus di tengah. Paham?” tunjuk Thea pada stop kran.
“Baik.” Xavier mengangguk paham.
“Ini closet. Tempat untuk buang air besar dan air kecil. Setelah memakainya, pastikan kamu menyiramnya dengan menekan tombol ini. Seperti ini,” Thea mencontohkannya. Lagi Xavier mengangguk.
“Dua lubang ini jangan di sentuh karena ini mengandung aliran listrik yang berbahaya. Ini sikat gigimu dan ini sikat gigiku. Ini sabun untuk mencuci badan dan ini shampoo untuk mencuci rambut. Gunakan secukupnya karena busanya sangat banyak.” Thea mencontohkan penggunaan sabun dan shampoo.
“Cobalah.” Pinta Thea.
Beruntung alat-alat di apartemennya hanya sedikit dan sederhana saja sehingga ia tidak perlu menjelaskan terlalu banyak.
Xavier menuruti Thea, namun siapa sangka yang di coba Xavier malah kran.
Dalam hitungan detik air memancar dari shower dan membasahi tubuh Xavier juga Thea.
“Astaga Xavier, aku sudah mandi.” Seru Thea yang terkejut.
“Oh maaf, aku pikir,” Xavier panik sendiri mau menyetop kran tapi malah bolak balik mengalirkan air dingin dan panas. Alhasil tubuh mereka basah kuyup.
__ADS_1
Thea segera mendekat, “Lakukan seperti ini.” Thea segera memutar kran pada posisi nertal dan air pun berhenti mengalir. Sayangnya mereka terlajur basah kuyup.
“Maaf, aku tidak sengaja.” Ujar Xavier dengan rasa bersalahnya.
“Tidak masalah. Setiap orang bisa melakukan kesalahan saat mencoba sesuatu untuk pertama kalinya.” Ucap Thea seraya tersenyum.
Xavier hanya terdiam, menatap Thea yang basah kuyup. Ia menggunakan handuk di tangannya untuk menutup tubuh Thea yang ia kalungkan dari belakang hingga membuat tubuh gadis itu tertarik dan mendekat padanya.
Tanpa sadar jarak mereka cukup dekat. Thea bisa melihat mata Xavier yang berwarna kebiruan itu menatapnya dengan lekat. Perlahan namun pasti, Thea merasakan jantungnya berdebar kencang seirama desiran darah yang semakin cepat mengalir di pembuluh darahnya.
Di dada xavier, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa. Tubuh Thea yang sedikit basah dengan bibirnya yang tersenyum kecil seolah menjadi magnet yang membuat ia tertarik untuk mendekat pada Thea.
Xavier mulai mendekatkan dirinya pada Thea dan gadis itu tidak beranjak dari tempatnya. Tubuh tingginya melengkung seperti terbawa hasrat untuk mengecup bibir tipis Thea yang menarik.
Dalam beberapa saat, Thea merasakan hembusan nafas Xavier yang terasa menerpa wajahnya. Ia memejamkan matanya dan membiarkan Xavier mendekat padanya, semakin dekat dan dekat lagi hingga membuat Thea menahan nafasnya untuk beberapa saat.
“Thea, apa kamu membawa tamu?” Suara ketukan di pintu yang bersamaan dengan suara Emily, terdengar jelas di telinga Thea.
Thea segera membuka matanya saat hidung Xavier nyaris bersinggungan dengan hidungnya.
Dengan gugup, Thea menghampiri pintu dan membiarkan Xavier sendirian di kamar mandi. Di balik pintu ia mengatur nafasnya beberapa kali sampai kemudian ia merasa siap untuk bertemu dengan Emily.
“Selamat malam nyonya Emily.” Sapa Thea saat ia membuka pintu.
“Selamat malam Thea. Tadi aku melihatmu datang bersama seseorang. Apakah benar?” tanya Emily yang mencoba mengintip ke dalam ruangan Thea tapi tidak melihat siapapun.
“Oh iya nyonya. Ada temanku yang datang ke sini.” Aku Thea apa adanya.
“Baiklah, tidak masalah. Aku hanya takut ada orang asing yang mengganggumu.” Emily menunjukkan kecemasannya sebagai orang tua. Bagaimana pun ia belum pernah melihat Thea membawa orang lain masuk ke apartemennya, terlebih itu seorang laki-laki.
“Terima kasih atas perhatiannya nyonya Emily. Saya bisa mengatasinya.” Sahut Thea dengan tenang.
__ADS_1
“Tentu, kamu harus bisa mengatasinya. Jangan sampai dia membuatmu mandi tengah malam seperti ini.” Sahut Emily yang tersenyum kecil seraya menunjuk tubuh Thea yang sedikit basah.
“Oh, astagaa…” Cetus Thea yang tersipu malu.
“Selamat malam Thea, mimpi yang indah.” Pamit wanita sepuh itu seraya berlalu.
“Selamat malam nyonya Emily…” timpal Thea yang segera menutup pintunya. Ia sangat malu pada wanita itu. Dan lihat saja, air yang membasahi bajunya, membuat tubuh Thea jadi tercetak jelas. Ini memalukan, ya sangat memalukan.
Setelah menutup pintu, Thea segera kembali menuju tempat tidurnya. Ia berjalan mengendap-endap dan ternyata pintu kamar mandi sudah tertutup rapat. Suara air mengalir dengan deras. Rupanya Xavier sedang mandi.
Thea segera mengambil kaos oblongnya yang kebesaran juga celana olahraga yang biasa ia gunakan untuk tidur. Ia menyiapkannya untuk Xavier. Ia juga mengganti bajunya yang basah di depan lemari yang terbuka. Thea sengaja melakukannya agar pintu lemari itu menutupi tubuhnya dari penglihatan orang lain.
Setelah berpakaian, Thea menutup lagi pintu lemari. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin dan terlihat jelas pipinya yang merona. Ia juga menggigit bibirnya yang terasa berdenyut tanpa alasan.
“Jangan begini Thea, ini memalukan.” Tandas Thea meningatkan dirinya sendiri.
Ia segera beranjak untuk menaruh baju ganti Xavier di atas sofa. Juga sebuah selimut tipis untuk Xavier.
Setelah yakin semuanya siap, Thea segera berbaring di kasur dan menyelimuti tubuhnya hingga batas kepala. Ia berbalik membelakangi sudut luas apartemennya dan memilih menatap jendela besar yang tertutup tirai tipis.
Tidak berselang lama, terdengar handle pintu kamar mandi terbuka. Di susul dengan deritan kecil dari engsel pintu. Xavier keluar dari kamar mandi dengan hanya setengah tubuh jangkungnya yang tertutupi handuk.
Thea bisa melihat Xavier yang berjalan ke arahnya dari pantulan kaca yang samar. Takut-takut ia memejamkan mata dan berpura-pura tidur.
Tetapi langkah Xavier terhenti saat ia melihat baju yang sudah siap di atas sofa. Ia urung membangunkan Thea dan memilih mengambil baju itu untuk ia pakai di dalam kamar mandi.
Akhirnya Thea bisa menghembuskan nafasnya lega. Tubuhnya terasa gerah namun ia tetap memakai selimut demi menyembunyikan wajahnya dari Xavier.
Perlahan namun pasti, Thea mulai tertidur. Hanya suara komentator gulat yang terdengar samar mengisi pendengarannya.
Dan Xavier?
__ADS_1
Akh sudahlah, Thea sedang tidak ingin memikirkannya.
****