Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Menembus Angin


__ADS_3

Dengan motor sport baru itu Thea dan Xavier menikmati sensasi berkendara yang berbeda dari biasanya. Xavier sengaja memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan yang ramai dan dipadati kendaraan.


Satu per satu kendaraan di lewatinya, sesekali ke kanan dan sesekali berdiam di kiri namun sering kali ia berjalan lurus seperti menembus angin yang berhembus kencang.


Thea berada di boncengan Xavier, memegangi sisi kiri dan kanan tubuh Xavier seraya merunduk di belakang bahu tegap Xavier.


“Xavier, jangan terlalu cepat. Kamu bisa membuatku terbang terbawa angin.” Protes Thea di sela suara angin yang menderu.


Dari dalam helm full face-nya Xavier memperhatikan Thea. Rambutnya sudah beterbangan kesana kemari tertiup angin sementara seluruh kepalanya tertutup helm, hanya sepasang matanya saja yang memincing dan terlihat ketakutan.


“Lebih menyenangkan kita yang mengendaraikan kan Thea, di banding duduk di belakang?” Tanya Xavier dengan senyum meledek. Sepertinya Thea merasakan kegetirannya saat berada di boncengan Thea.


“Jangan bercanda Xavier. Aku pengemudi yang aman dan tidak membahayakan orang lain. Bukan salahku kalau kemudian nyalimu kecil.” Teriak Thea agar di dengar Xavier. Bagaimanapun ia tidak mau di anggap enteng oleh Xavier.


“Oh ya? Kalau begitu, kita buktikan, nyali siapa yang lebih kecil.” Seru Xavier yang mulai memutar lagi handle gas dan menambah kecepatan.


“Xavier! Kamu gilaa!!!” Teriak Thea yang ketakutan.


“Berpeganganlah Thea, kita akan terbang bersama-sama! Wuhuuuu!!!!” Seru Xavier.


Dalam satu hentakan gas, kuda besi itu melaju semakin cepat.


“XAVIEERRR!!!!” Teriak Thea seraya melingkarkan tangannya di tubuh Xavier dan berpegangan dengan erat.


“Ini menyenangkan Thea.” Batin Xavier. Bukan hanya karena ia berhasil menantang adrenalinnya tapi karena tubuh Thea yang terasa menghangatkan dan menenangkan tubuhnya yang bergejolak.


“Ini gila! Ini benar-benar gila! Aku tidak mau mati muda!!!” Cerocos Thea, protes pada sang pengemudi.


Tapi Xavier tidak lantas berhenti, Ia hanya tersenyum kecil dan tetap meneruskan apa yang ia lakukan hingga Thea diam dengan sendirinya dan mulai menikmati sensasi berkendara dengan kecepatan tinggi.


Dengan latar senja yang mulai menghibar, Xavier melambatkan laju motornya. Thea mulai melerai pelukannya di tubuh Xavier lantas menegakkan tubuhnya.


“Waahh, ini sangat indah.” Ujar Thea, mengagumi langit berwarna jingga yang memayunginya.

__ADS_1


Xavier pun menaikkan Visornya agar ia bisa melihat kibaran langit jingga yang indah. Lagi, ia bisa melihat sisi lain dunia Thea yang tidak ada di dunianya.


“Bisakah kita berhenti sebentar? Aku ingin menikmati senja ini.” Pinta Thea.


“Tentu.” Sahut Xavier.


Ia menghentikan laju motornya di tepi jalan yang sedikit curam. Posisinya yang tinggi membuat ia merasa kalau langit ini tidak berujung.


Mereka sama-sama turun lalu terduduk bersisian di tanah yang rata. Keduanya begitu menikmati pemandangan sore yang indah itu. Hembusan angin yang sejuk, menerbangkan helaian rambut Thea dan Xavier, seolah memberi mereka kebebasan untuk menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.


“Hanya di duniamu aku bisa melihat langit berwarna seperti ini.” Puji Xavier yang terkagum-kagum.


Matanya yang kebiruan seperti merefleksikan cahaya jingga yang tertangkap matanya. Kulit wajahnya ikut kekuningan begitupun dengan Thea.


“Oh ya? Apa di Godland tidak ada pemandangan seperti ini?” Thea jadi penasaran.


Xavier menggeleng.


"Klan air di kenal dengan mataharinya yang tidak pernah terik. Suasananya selalu tenang, sepi dan jarang ada kebisingan. Suara tetesan air menjadi satu-satunya musik penghibur.”


“Klan udara, wilayah mereka selalu di tutupi kabut yang gelap. Mata dari penduduk klan udara selalu lebih tajam di banding klan lainnya karena mereka mahir melihat di dalam gelap. Dan klan api, merupakan wilayah hingar yang tidak pernah sepi. Emosi penduduknya jauh lebih meledak-ledak di banding klan lain. Mereka suka berteriak satu sama lain dan kekerasan menjadi ciri khas dari klan itu.”


"Menurutmu, apa yang bisa aku nikmati dari tempat seperti itu?" Tanya Xavier yang kemudian menoleh Thea.


"Entahlah, mungkin malamnya yang indah?" Thea mengedikkan bahunya tidak mengerti.


Xavier tersenyum kecil, mengingat Godland secara utuh.


“Benar, suasana malam di Godland pernah sangat indah. Namun hal itu hanya terjadi saat mereka dalam keseimbangan yang tetap." Ujar Xavier yang menghembuskan nafasnya kasar.


"Maksudmu?" Thea menatap laki-laki itu penuh atensi.


"Ya, Godland, hanya bisa seimbang saat keempat klan itu bersatu."

__ADS_1


"Sejak raja tertinggi meninggal, setiap klan hidup masing-masing. Mereka bersaing antara satu klan dengan klan lainnya demi memperebutkan tahta tertinggi di kekuasaan langit. Godland sekarang, tidak sebaik dulu. Ia penuh dengan penghuni-penghuni yang bersiasat antar satu sama lain.” Terang Xavier yang terlihat sendu.


Satu sisi hatinya merindukan rumah untuk pulang namun sisi hatinya yang lain sangat membenci klan yang sudah mengutuk dan mengusirnya, memperlakukan ia seperti binatang hina.


Thea terangguk paham. Ia melihat dengan jelas seperti apa kehidupan di Godland. Bukan tanpa peradaban tapi lebih pada mereka membangun kekuatan masing-masing agar bisa bertahan saat mereka di serang oleh klan lainnya. Ironis memang, dengan keadaan seperti ini, ketenangan hidup d Godland akan sulit di raih.


Membicarakan Godland, Thea jadi teringat pada secarik kertas yang ada di sela buku yang ia pinjam. Ia masih sangat penasaran dan ingin bertanya pada Xavier.


“Xavier,” Panggil Thea seraya memandangi laki-laki yang masih menikmati menatap senja itu.


“Hem,” Xavier balas menoleh Thea. Ia menatap Thea yang tampak ragu untuk berbicara.


“Katakanlah, kamu tidak perlu ragu.” Xavier mencoba memberi jalan.


Thea tersenyum kelu. Ia tak lantas berbicara melainkan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ya, buku bersampul merah yang ia pinjam dari perpustakaan.


Ia membuka lembaran buku itu lalu mengeluarkan secarik kertas dan memandanginya dengan perasaan tidak menentu.


“Apa pernah ada orang lain selain aku yang masuk ke Godland?” Tanya Thea dengan hati-hati. Ia ingin mengetahuinya tapi entah mengapa perasaannya malah tidak nyaman. Ia seperti tidak siap kalau tahu sesuatu yang mungkin tidak bisa di terima nalarnya.


Xavier melirik kertas di tangan Thea, lalu tersenyum sinis.


“Rupanya, ada yang membawa kabar itu sampai ke sini.” Ucap Xavier dingin.


“Maksudmu?” Thea semakin tidak mengerti.


“Kertas di tanganmu, itulah kenyataan sebenarnya yang pernah terjadi di Godland.” Terang Xavier.


“Apa? Maksudmu ini benar-benar cerita tentangmu?” Thea sampai berbalik menghadap Xavier karena saking kagetnya.


Xavier mengambil potongan kertas yang sebenarnya terbuat dari kulit binatang dan di tulis dengan sihir. Sihir kuat yang ada di klan api lalu mereka sebarkan ke penjuru langit dan tentu saja Godland.


Cerita tentang, Xavier yang terkutuk.

__ADS_1


__ADS_2