
“Apa ini makanan?” Tanya Xavier sambil membaui kentang goreng yang ada di atas piring dan baru sedikit Thea makan.
Ia mengangkat piring itu setinggi dadanya lalu kembali mencium wanginya yang enak.
“Apa aku boleh minta?” Tanyanya lagi tanpa menghiraukan tatapan Thea yang masih kebingungan dengan apa yang dilihatnya.
“Hey, ini enak.” Celotehnya lagi saat ia memakan satu potong kentang dan mengunyahnya dengan nikmat.
Ia mengambil satu potong kentang lainnya dan menyuapkannya pada Thea. Namun Thea menepisnya.
“Ya sudah, ini untukku.” Dengan acuh Xavier kembali memakan kentang di tangannya.
“Apa?” Tanyanya dengan mulut penuh makanan. Sejak tadi Thea terus memandanginya dengan bingung.
“Bagaimana kamu bisa datang ke sini?” Thea akhirnya berbicara.
Tidak lantas menjawab, Xavier malah memasang kentang di sisi kiri dan kanan mulutnya lalu menahannya. Ia menoleh Thea dan menyeringai layaknya vampire yang menunjukkan taringnya.
“Xavier, aku tidak sedang bercanda. Aku bertanya bagaimana kamu bisa datang ke sini?” Thea masih dengan rasa penasarannya.
Ia menatap lekat laki-laki yang kini memiliki mata biru. Tidak seperti Xavier yang pertama di lihatnya. Matanya coklat dan sedikit kemerahan seperti ada nyala api di dalamnya.
Kali ini matanya biru dan sexy, sangat menarik untuk terus di tatap. Seperti menyiratkan agar siapapun bersiap untuk terlarut dalam tatapannya.
“Baiklah!” Xavier mengunyah terlebih dahulu kentang goreng di mulutnya lalu menelannya bulat-bulat.
“Mau itu di duniaku ataupun di dunimu, kamu tetap saja suka bertanya.” Omelnya pada Thea.
Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
“Dengan ini.” Xavier menaruh sebuah benda di atas meja.
“Gelangku?” Mata Thea sampai membulat. Ia bahkan tidak sadar kalau gelangnya hilang.
__ADS_1
Ia segera mengambil gelang itu dan memeriksanya baik-baik.
“Kamu menjatuhkannya sebelum kamu pulang ke sini. Dan sepertinya gelang ini memintaku untuk mengantarkannya pada pemiliknya.” Terang Xavier seadanya.
Memang benar, setelah Xavier menyentuh gelang itu, seperti ada sesuatu yang mengisi tenaga di tubuhnya. Tidak lama kemudian, wujudnya berubah dari seekor serigala menjadi seorang manusia. Kekuatannya seperti kembali. Ia bahkan bisa menyalakan api saat berada di wilayah klan air. Ia mampu bergerak dengan sangat cepat kemanapun ia mau.
Ia bahkan bisa membuka pintu yang menghubungkan dunia Thea dengan dunianya.
“Terima kasih Xavier. Ini satu-satunya peninggalan dari mendiang ibuku. Aku tidak tahu apa jadinya kalau gelang ini benar-benar hilang dan tidak Kembali.” Mata Thea berbinar-binar saat benda berharga dari orang tuanya kini kembali ke tangannya.
“Hem. Baguslah kalau kamu senang.”
“Tapi berhati-hatilah Thea, gelang ini sangat suka membuat orang tersesat.” Ujar Xavier dengan kesal.
“Maksudmu?” Thea menatap Xavier tidak paham.
“Dia membawaku tersesat di hutan. Beberapa malam aku mencari keberadaanmu sampai akhirnya aku berusaha mencarimu dengan mengandalkan penciumanku. Beruntung bau darah di lukamu sangat kuat. Tapi tiba-tiba bau darah itu hilang beberapa hari lalu. Jadi terpaksa aku mengelilingi duniamu ini dan mencarimu dengan mengandalkan penciuman bau tubuhmu.” Terang Xavier apa adanya.
“Kamu mencium bau darahku?” Ia mengulang sepenggal kalimat Xavier.
“Hem.” Sahutnya dengan yakin. Satu suapan kentang goreng kembali masuk ke mulutnya.
“Dia benar, penghuni duniamu bisa mencium bau darahku.” Gumam Thea mengingat ucapan laki-laki bernama Asher yang beberapa waktu lalu menemuinya dan memberinya obat luka.
“Dia? Dia siapa yang kamu maksud?” kunyahannya sampai terhenti. Fokusnya kini beralih seluruhnya pada Thea.
“Beberapa hari lalu ada seorang laki-laki aneh yang mengikutiku. Dia bahkan mengikutiku sampai ke rumah. Dia memaksa memberi obat padaku katanya bau darahku tercium dimana-mana. Awalnya aku tidak percaya, tapi aku lihat tangannya membuat pintu rumahku gosong. Akhirnya, aku menurut saja saat dia memberiku obat. Dan sekarang lukaku sudah benar-benar sembuh. Nama laki-laki itu,”
“Asher.” Timpal Xavier dengan cepat.
“Iya, benar. Namanya Asher. Dia bilang dia pelayanmu. Apa itu benar?” Berbalik Thea yang saat ini begitu penasaran.
Xavier tidak menjawab. Ia masih berpikir, pantas saja ia mencium bau yang tidak asing di sekitar Thea. Rupanya bau itu adalah milik Asher. Saat ini ia semakin yakin kalau kekuatannya sudah kembali dan kemampuannya sebagai seekor serigala, tidaklah hilang.
__ADS_1
“Xavier, apa laki-laki itu benar pelayanmu?” Thea mengulang rasa penasarannya.
Xavier hanya mengangguk.
“Wah, ternyata kamu memiliki orang yang bisa di andalkan. Dia terlihat akrab denganmu dan sepertinya cukup baik.” Celoteh Thea pada Xavier yang masih tampak berpikir.
“Ngomong-ngomong, dari mana kamu bisa mendapatkan baju se keren ini?” Thea jadi penasaran dengan tampilan Xavier. Biasanya Xavier hanya mengenakan celana berbahan kulit binatang dan bertelanjang dada.
Tapi sekarang, laki-laki ini memakai pakaian modern. Celana jeans hitam dengan kaos dalam hitam juga jaket kulit berwarna hitam.
“Aku memintanya.” Sahut Xavier seraya memalingkan wajahnya dari Thea.
“Memintanya?” Thea mengerutkan dahinya tidak percaya dan ekspresi ini yang sedang di hindari Xavier.
“Baju ini mungkin berharga ratusan dollar. Lihat saja, labelnya bahkan belum kamu buang. Kamu yakin kamu memintanya?” Thea mengambil label di baju dan jacket Xavier lalu mengigit dan melepaskannya.
“Ya, tentu saja aku memintanya.” Xavier bersikukuh dengan jawabannya.
“Kalau begitu, beritahu aku bagaimana kamu memintanya?” Thea menatap Xavier dengan penasaran. Ia menopang dagunya dengan tangan, bersiap mendengar jawaban Xavier. Senyuman sudah terkumpul di bibirnya yang tipis.
“Aku masuk ke tempat yang di kelilingi kaca. Aku bilang, aku perlu pakaian. Tapi mereka malah melototiku dan melihat dadaku. Karena mereka diam saja, jadi aku anggap jawaban mereka, ya. Aku ambil beberapa, memakainya, lalu pergi saat seseorang mengangkat alat pemukul untuk memukulku. Aku berlari kencang untuk pergi dari sana.”
“Hahahahaha…. Itu bukan meminta Xavier, itu namanya mencuri. Hahahaha….” Thea tertawa dengan renyah dan Xavier hanya tersenyum menatap Thea yang tertawa dengan puas hingga terpingkal-pingkal.
Wajahnya yang memerah karena tertawa membuat Xavier enggan mengedipkan matanya. Ini pertama kali ia melihat Thea tertawa dan ingin selalu melihatnya lagi dan lagi.
“Kalau meminta, kamu harus mendapatkan persetujuan dulu dari orang-orang itu baru kamu mengambilnya.” Terang Thea setelah berhenti tertawa.
“Beritahu aku dimana tokonya, kita harus membayarnya.” Tandas Thea kemudian yang masih ingin tertawa.
Xavier hanya terdiam saja di tempatnya dan menunggu Thea kembali tertawa. Karena menyenangkan untuk di lihat.
****
__ADS_1