
“Aku dengar, kamu akan kembali ke kerajaan air.” Tanya Xavier pagi itu.
Baru sekarang ia di perbolehkan masuk oleh Thea, tentunya tanpa mengajak dua laki-laki lain yang ia tinggalkan di hotel terdekat.
“Iya, Mathew memintaku untuk pulang ke kerajaan air. Tapi entah aku akan benar-benar melakukannya atau tidak.”
Thea yang sedang membereskan kamarnya jadi terdiam. Ia memandangi foto sang ayah yang ada di dekat kasurnya lalu ia ambil dan ia pandangi dengan lekat. Di usapnya foto lawas yang sudah mulai pudar itu. Ia masih ragu, apa ia bisa benar-benar masuk ke dunia yang dulu ibunya tinggali.
“Aku merasa kalau aku hanya manusia biasa dan mungkin tidak bisa melakukan apa-apa di sana.” Ungkap Thea dengan khawatir.
Ia takut kalau penghuni kerajaan air terlalu berekspektasi tinggi terhadapnya yang sebenarnya tidak bisa melakukan apapun.
“Apa yang kamu takutkan, kamu takut kekuatanmu tidak bekerja di sana?” Xavier duduk di sandaran kursi memandangi Thea yang tampak gelisah.
Thea tidak menimpali, ia memilih menaruh foto itu kembali di tempatnya.
“Aku takut kalau kekuatan ini hanya sementara dan saat benar-benar diperlukan, aku malah tidak bisa menggunakan kekuatanku.” Ungkap Thea.
__ADS_1
Xavier memandangi gadis yang tampak gelisah itu. Ia cukup memahami kekhawatiran Thea. Sepertinya Thea belum mengetahui benar sebesar apa kekuatannya.
“Thea, tidakkah kamu berpikir kalau kalian, kaum manusia itu lebih istimewa dari kami?” Tanya Xavier tiba-tiba, membuat Thea mengerutkan dahinya tidak paham.
“Maksudmu?” Tanyanya.
Berganti Xavier yang mengambil foto kecil Thea bersama sang ayah lalu memandanginya.
“Manusia bukan pengendali udara, tapi mereka tau cara memanfaatkan angin yang berhembus untuk mengendalikan sebuah perahu di tengah badai lautan.”
“Manusia bukan pengendali api, tapi mereka bisa memanfaatkan api untuk banyak hal berguna tanpa menyakiti mereka.”
“Manusia bukan pengendali air tapi mereka tahu cara bertahan hidup dengan menggunakan air yang disediakan alam, mengolahnya menjadi beragam minuman yang tidak bisa dilakukan oleh kaum klan air. Mereka hanya menggunakannya sebagai senjata saja bukan?” Xavier menatap lekat wajah Thea yang antusias menyimak kalimatnya.
“Dan manusia pun bukan pengendali tanah tapi mereka bisa menumbuhkan banyak hal dari berbagai jenis tanah yang ada di sekitar mereka. Seperti nyonya Emily, dia mampu menumbuhkan sebatang pohon apel yang besar di tanah yang sangat asam dengan memberinya Dolomit agar pohon apel itu bisa tumbuh subur dan berbuah.”
“Kemampuan pengendalian kami hanya dijadikan senjata untuk melawan musuh atau menahan serang dari lawan. Sementara kalian menjadikannya sebagai sumber kehidupan.” Tutur Xavier panjang lebar.
__ADS_1
“Ayahmu memberikan bekal yang besar sebagai seorang manusia dan ibumu memberikan kekuatan yang hebat untukmu. Lalu, apa yang kamu takutkan?” Tanya Xavier yang menatap Thea dengan hangat. Ia tidak mau melihat Thea merasa tidak mampu.
“Tapi aku tidak punya pengalaman untuk berperang Xavier. Bagaimana bisa aku melindungi kaumku dengan kemampuanku yang seperti ini?” Thea balik bertanya. Gurat putus asa masih terlihat di wajahnya. Ia memandangi tangannya yang sering kali berubah dingin tanpa alasan.
“Apa melindungi harus selalu dengan berperang?” Xavier menatap Thea penuh tanya dan gadis itu menggeleng.
“Lalu apa yang kamu takutkan?”
“Lagi pula, kalau kamu akan pulang, maka kamu tidak akan sendirian. Aku akan membersamaimu.” Tegas Xavier.
“Apa kamu pun akan kembali ke kerajaan api?” Thea yang semula terdudukpun kini berdiri. Ia tahu benar keengganan Xavier untuk pulang.
“Kaumku membuat kerusakan. Walau aku membenci istilah pulang itu, tapi aku tidak punya pilihan lain selain kembali ke sana dan memperbaiki hal yang masih bisa ku perbaiki.” Sahut Xavier dengan tenang.
Thea tersenyum kecil mendengar jawaban Xavier. Ternyata laki-laki ini masih memiliki kepedulian pada dunianya. Ia tidak mau kaumnya menyakiti kaum lain dan membuat kerusakan.
“Hem, kamu benar. Walaupun sedikit, mungkin saja kepulangan kita bisa membantu kaum kita.” Timpal Thea yang terangguk setuju.
__ADS_1
Xavier terangguk yakin. Kini ia merasa kalau ia tidak akan sendiri melewati hal yang menyakitkan itu. Thea telah membuatnya bersiap untuk melakukan banyak hal yang mungkin bisa ia lakukan di sana.
****