
Hari ini Thea sudah kembali aktif kuliah. Setelah libur musim semi sekitar dua setengah bulan, sekarang Thea harus bergelut kembali dengan aktifitas normalnya yang padat.
Dimulai dari bangun pagi, lalu bersiap untuk pergi bekerja di coffee shop. Ia bekerja di sana hanya sampai pukul sembilan pagi saja. Setelah itu ia pergi ke kampus dan menghabiskan waktu di sana hingga sore hari. Jam lima ia pulang dari kampus dan melanjutkan pekerjaan part time berikutnya di resto sebagai kurir pesan antar.
Tidak ada jeda waktu yang pasti kapan ia bisa mengistirahat tubuhnya yang kelelahan. Beruntung karena usianya masih muda, ia memiliki energi yang banyak dan seperti tidak pernah habis.
Seperti saat ini, para mahasiswa tampak sibuk hilir mudik di area kampus. Mereka bergegas masuk ke dalam kelas saat dosen mereka sudah berada di ruangan. Thea memarkir sepedanya di bawah pohon lalu berlari menuju kelasnya.
Ia melihat jam di tangannya, akh sial ia akan terlambat. Ia berlari secepatnya menuju kelas.
“Tok tok tok!” Suara ketukan di pintu di sambut anggukan oleh dosen wanita mengajar ilmu filsafat.
“Di pertemuan berikutnya, datanglah lebih awal dari saya.” Ucap wanita itu pada Thea.
“Baik.” Thea mengangguk patuh lantas duduk di salah satu kursi yang kosong.
Ia segera mengeluarkan buku catatannya dan beberapa buku yang ia pinjam dari perpustakaan.
“Di beberapa negara, kita akan melihat beragam kepercayaan yang mereka pegang. Bryk dan Schneider (1996) membagi kepercayaan menjadi tiga jenis yaitu, kepercayaan organik (organic trust), kepercayaan kontrak (contractual trust), dan kepercayaan relasional (relational trust).” Suara dosen pengajar mulai mendayu mengisi materi selama satu setengah jam ke depan.
Thea terlarut dalam materi yang di sampaikan.
Sambil menyimak ia iseng menggambar di atas bukunya. Membagi satu halaman itu dengan satu garis vertical dan satu horizontal yang bertemu di tengah dan saling memotong.
__ADS_1
Pada bagian sudut kanan atas, ia menggambar lukisan dataran rendah dengan banyak tanaman dan hewan yang hidup dengan bebas di sana. Ia juga menggambar sebuah goa yang tidak asing di pikirannya. Begitu detail hingga ia hapal berapa jumlah obor yang tertempel di dalam Goa.
Di bagian sudut kanan bawah, Thea menggambar sebuah permukiman dengan air sebagai sumber kehidupan mereka. Rumah-rumah di bangun mengapung di atas air sementara rumah-rumah lainnya di bangun mengelilingi sebuah danau kecil yang digambarkan memiliki air yang jernih.
Di pojok kiri atas dan bawah, ia baru menggambar pohon yang melambai tertiup angin sementara gambar satunya adalah gambar seorang manusia dengan api yang mengelilinginya. Ia menggambarkan dengan detail sosok itu hingga tanpa sadar Thea tenggelam dalam gambar yang di buatnya.
Suara dosen tidak ubahnya seperti siaran radio yang memperkuat imajinasi Thea hingga sosok manusia itu begitu jelas.
“Gambarmu bagus.” Ucap seorang wanita yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Thea.
“Ah,” Thea segera menutup bukunya namun dosen wanita itu segera menahannya. Ia pikir, Thea tidak menyimak materinya, sehingga ia menghampirinya. Tapi saat melilah apa yang dibuat Thea, ia tersenyum senang.
Ia mengambil buku milik Thea lalu memperhatikan benar gambar yang di buat Thea.
Thea mengangguk kecil.
“Dinamisme, itu salah satu bentuk kepercayaan. Kamu hanya menggambarkannya atau kamu memang menganutnya?” Lagi ia bertanya pada Thea.
“Em, saya…” Thea tampak berpikir. Ia melihat orang-orang di sekelilingnya memandanginya. Ada yang menatapnya aneh, menertawakannya dan ada juga yang acuh begitu saja.
Tunggu, ada satu tatapan yang tidak asing bagi Thea. Tatapan dari seorang laki-laki yang duduk di sudut kelas.
“Xavier?” gumamnya.
__ADS_1
Dosen itu ikut menoleh pada laki-laki yang di tatap Thea namun laki-laki itu tampak acuh saja. Tidak balas menatap Thea.
Thea semakin menyipitkan matanya, berusaha melihat sosok itu dengan lebih jelas.
“Dia Julian, mahasiswa semester 6.” Ucap sang Dosen yang mendengar gumaman Thea.
Di saat itu laki-laki itu menoleh dan penglihatan Thea semakin jelas.
“Oh, Maaf. Saya salah lihat.” Aku Thea, saat ia sadar kalau laki-laki yang kini menolehnya bukanlah Xavier. Wajahnya pun berbeda.
Thea menggelengkan kepalanya lalu menekan kedua sudut matanya, untuk menyadarkan dirinya sendiri.
“Pengetahuanmu cukup bagus, tapi jangan hadirkan kepercayaan yang terlalu kuat di pikiranmu hingga kamu salah mengenali seseorang, kecuali kamu sedang jatuh cinta.” Ucap sang Dosen yang berbisik di ujung kalimatnya.
Ia tersenyum kecil menatap Thea. Di pandanginya beberapa saat wajah gadis yang terkejut dengan ucapannya lalu ia mengembalikan buku itu pada Thea dan menaruhnya di atas meja.
“Buku yang kamu baca cukup bagus, carilah referensi lain di perpustakaan kalau kamu tertarik dengan mata kuliahku.” Tandasnya sebelum ia pergi dan kembali ke depan.
Thea hanya tersenyum kelu dengan wajah tegang. Sekali lagi Thea menoleh laki-laki yang bernama Julian itu, ia penasaran apakah ia benar-benar mirip Xavier. Tapi kali ini ia melihat jelas kalau dia laki-laki yang berbeda dan bukan Xavier.
“Astaga, pikiranku sedang kacau.” Gumam Thea seraya mengusap wajahnya sendiri.
*****
__ADS_1