Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Nyala api


__ADS_3

“Xavier! Astaga!” Seru Thea seraya menghampiri Xavier.


Ia segera memegangi lengan Xavier. Ia sengaja berdiri di depan Xavier, menjadikan tubuhnya barikade pertahanan untuk menyembunyikan kobaran api di telapak tangan Xavier.


“Apa dia bisa mengeluarkan api? Bagaimana cara dia melakukannya?” Tanya salah seorang remaja yang terlihat antusias saat melihat api yang menyala di atas telapak tangan Xavier.


“Ti-tidak. Dia hanya melakukan trick sulap kecil, tapi aku pikir tidak baik bermain api di sini karena berbahaya. Di sini banyak minuman beralkohol dan pijaran api bisa menyebabkan kebakaran.” Terang Thea yang berusaha tenang walau sebenarnya sangat gugup.


“Benar kan Xavier?” Tanya Thea yang menoleh Jocker mabuk itu. Xavier hanya tersenyum. Entah apa yang ada di benak mabuknya.


“Thea, kamu memadamkan apiku.” Ucapnya saat nyala api itu padam karena Thea menempatkan tangannya di atas telapak tangan Xavier.


Thea tersenyum kecil. Tentu saja, ia bisa merasakan hawa panas dari telapak tangan Xavier dan sensasi terbakar di telapak tangannya. Tapi hanya beberapa saat saja sampai kemudian api itu benar-benar padam.


Entah dari mana asal keberanian Thea untuk menutupkan tangannya di atas telapak tangan Xavier. Mungkin karena ia takut Xavier akan terlalu menarik perhatian orang-orang.


“Bagaimana bisa kamu melakukannya, hem?” Pikiran mabuk Xavier rupanya masih penasaran.


Ia bertanya sambil menempatkan dagunya di bahu Thea, membuat kepala mereka bersisian. Thea sampai terhenyak dengan jantung yang berdebar kencang, saat melihat wajah Xavier yang terlalu dekat dengannya.


Bisa-bisanya manusia serigala ini bertingkah sesantai itu tanpa memperdulikan banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.


“Tanyakan itu nanti.” Suara Thea terdengar lirih namun masih bisa di dengan Xavier.


“Baiklah.” Timpalnya, sekali lalu ia mengalihkan pandangannya ke depan sana. Matanya yang mabuk terlihat memincing. Sedikit terbuka saat melihat orang-orang mengerumuni mereka dan menatap mereka dengan penasaran.


“Kita dimana Thea? Apa kita ada di neraka” Tanya Xavier yang baru sadar. Rasanya seperti ada di dunia lain dan para mahluk tak kasat mata mengerumuni mereka.


“Iyaa, kamu diamlah.” Timpal Thea dengan suara rendah.


“Thea, minta temanmu untuk melakukan lagi sulapnya. Aku akan merekamnya.” Ujar seseorang yang berkostum hulk. Thea tidak terlalu mengenal laki-laki itu.


“Maaf. Itu hanya bisa dilakukan satu kali saja.” Sahut Thea tanpa melepaskan tangan Xavier yang di genggamnya.


“Hahahaha… Rupanya kalian sangat penasaran. Minta Thea untuk melepaskanku maka aku akan mengulanginya.” Xavier yang sedang mabuk begitu mudah mengatakan kalimat itu. Ia bahkan tersenyum penuh kebanggan.


“Astaga Xavieerrr!!!” Batin Thea dengan kesal.


“Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan!” Sorak mereka meminta Thea melepaskan tangannya dari Xavier. Mereka menatap Thea penuh harap.


“Thea, mereka sangat menyukaiku. Boleh aku melakukannya sekali lagi?” Pinta Xavier.


“Tidak.” Jawab Thea singkat.


“Maaf teman-teman, sepertinya kami harus pergi.” Pamit Thea kemudian.


Ia tidak bisa membiarkan Xavier menjadi tontonan teman-temannya. Ia khawatir seseorang mengenal siapa Xavier dan akhirnya melakukan hal yang tidak diinginkan.


“Ayo Xavier!” Ajak Thea seraya menarik tangan Xavier untuk di ajak pergi.


Xavier menurut saja, ia mengikuti langkah kaki Thea yang setengah menyeretnya. Ia bahkan melambaikan tangannya pada orang-orang. Lambaian tangannya tampak elegan seperti yang dilakukan Miss Universe yang ia tonton di televisi.


Keduanya berlalu pergi meninggalkan orang-orang yang mengerumini mereka.

__ADS_1


“Akh payah!” Ujar hulk yang tadi antusias ingin merekam Xavier. Merekapun mulai bubar setelah Thea benar-benar pergi. Hanya umpatan kekecewaan yang kemudian terdengar.


Dengan langkah cepat Thea membawa Xavier keluar dari kediaman Allen. Ia segera menuju tempat parkir dimana Xavier memarkir motornya.


“THEA!!” Panggil seseorang yang menyusulnya keluar.


Adalah Allen yang berjalan cepat mendatangi Thea.


“Kamu akan pulang? Pestanya bahkan belum mulai.” Tanya Allen dengan kecewa. Padahal ia ingin mengajak Thea menari di lantai dansa.


“Maaf Allen, tapi aku harus pulang. Sepertinya Xavier mabuk berat.”


“Biarkan saja dia bersenang-senang Thea. Kita bisa membawanya ke kamarku untuk istirahat. Kita lanjutkan lagi pestanya.” Allen masih berusaha membujuk.


“Maaf Allen aku tidak bisa.” Tegas Thea.


Allen terlihat kecewa. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan sekarang perhatiannya tertuju pada tangan Thea dan Xavier yang saling menggenggam.


“Apa kalian pacaran?” Tanya Allen dengan wajah tidak suka. Ia juga melirik Xavier yang malah tersenyum dengan tatapannya yang entah.


Thea ikut memandangi tangannya yang saat ini diperhatikan Allen. Ia ingin melepaskannya tapi tidak bisa. Ia takut nyala api itu kembali berpijar.


“Aku harus pergi Allen. Permisi.” Ujar Thea tanpa menjawab pertanyaan Allen.


Thea berlalu begitu saja. Ia menaiki motor Xavier lebih dulu dan membawa laki-laki itu di boncengannya.


“Naiklah Xavier.” Pintanya.


Xavier menurut, Ia berpegangan pada pinggang Thea lalu memeluknya, seperti yang di lakukan Thea saat Ia membonceng Thea dengan kecepatan tinggi. Thea sampai kaget karena Xavier memeluknya. Tapi ini lebih baik, daripada laki-laki ini tidak berpegangan dan jatuh.


Padahal ia baru mau mendekati Thea, namun ia dibenturkan pada kenyataan kalau laki-laki di boncengan Thea mungkin memang pacar gadis itu.


Tanpa menunggu lama, Thea segera melajukan motornya. Membawa serta Xavier yang memeluknya dengan erat. Hawa hangat dari tubuh Xavier cukup bisa meredam udara dingin yang menerpa tubuh Thea.


“Brengsek!” Geram Allen seraya menendang batu yang ada di tanah. Kesal sekali rasanya melihat Thea pergi begitu saja.


*****


Di perjalanan menuju pulang, Xavier semakin mengeratkan pelukannya. Ia terlalu nyaman memeluk Thea yang ada di depannya.


“Xavier, jangan memelukku terlalu erat. Aku tidak bisa bernafas.” Keluh Thea.


Tapi lak-laki itu tidak menanggapi. Ia malah menempatkan kepalanya di punggung Thea dengan nyaman. Thea berusaha menyikut Xavier agar menjauh tapi Xavier acuh saja, ia tertidur lelap di punggun Thea. Akh, menyebalkan sekali.


Membawa Xavier masuk ke dalam apartemen ternyata cukup sulit. Efek alkohol yang diminum Xavier telah membuat laki-laki ini begitu mengantuk. Thea setengah menyeret Xavier untuk menaiki anak tangga, memegangi tubuh Xavier dari samping hingga mereka tiba di apartemen.


“Bug!” Thea menjatuhkan Xavier di atas sofa. Tubuhnya terasa rontok setelah membawa Xavier yang bobotnya lebih berat dari dirinya.


Thea memandangi beberapa saat sosok laki-laki itu. Laki-laki yang memeluknya dengan nyaman sepanjang jalan dan sekarang membuat ia merinding. Matanya yang sudah tertutup dengan wajahnya yang kemerahan namun bibirnya seperti tersimpul senyum.


“Kenapa detak jantungku jadi tidak karuan begini.” Thea mengusap dadanya sendiri yang terasa menghangat. Beberapa waktu ini jantungnya jadi sering berdebar tidak karuan.


Ia juga memperhatikan tangan Xavier yang kemerahan. Seperti nyala api bisa muncul kapan saja di sana. Tapi paling tidak, sekarang mereka sudah ada di rumah.

__ADS_1


Ia mengambil sesuatu dari dalam kulkas. Cooler untuk ia taruh di atas tangan Xavier. Laki-laki itu tampak meringis dingin saat Thea menaruh cooler tersebut di permukaan tangannya sementara matanya tetap tertutup.


Thea sendiri, ai duduk di kursi dekat Xavier lalu mengompres telapak tangannya dengan ice bag. Kulit tepalak tangannya kemerahan dan beberapa bagian melepuh. Rupanya Thea benar-benar memadamkan api dengan telapak tangannya.


Thea jadi memandangi Xavier yang tertidur. Ia teringat pada suatu artikel yang di bacanya. Jika seorang mahluk berdiam di tempat yang salah, maka ia akan membuat kerusakan. Atau sebaliknya, kekuatannya akan hilang dan ia akan berubah sesuai lingkungan yang di tempatinya.


Definisi air akan memiliki bentuk sesuai dengan tempatnya. Lalu apakah pangeran api seperti Xavierpun akan seperti itu?


Entahlah.


Melihat cooler yang mulai mencair, Thea kembali beranjak untuk menggantinya. Ia mengambil cooler itu dari tangan Xavier, tapi tiba-tiba saja tangan Xavier menangkap pergelangan tangannya.


“Jangan pergi.” Gumam Xavier yang masih bisa Thea dengar.


Laki-laki itu menghentakkan tangannya dan membuat Thea jatuh menubruk tubuhnya yang terbaring. Ia berada tepat di atas dada Xavier.


Mata Xavier perlahan terbuka, membuat netra kebiruan itu menatap lekat sepasang mata Thea yang membulat terkejut.


“Kamu sangat baik Thea.” Ucap Xavier dengan tatapan sendu yang ia tujukan pada Thea.


“Kamu membuatku tidak merasa sendirian lagi.” Lanjutnya dengan penuh kesungguhan.


Entah Xavier masih mabuk atau sudah membaik, tapi ucapannya terdengar sangat tulus.


“Apa aku boleh selamanya di sini?” Suaranya terdengar lirih. Seperti laki-laki ini bisa membaca pikiran Thea beberapa saat lalu.


Thea tidak bisa menjawab. Entah dunia ini tempat yang tepat atau tidak bagi Xavier, ia pun tidak tahu.


“Tidak ada yang mengusirmu Xavier. Aku hanya memintamu untuk tidak menunjukkan kekuatanmu di depan orang banyak. Bisakah?” Hanya itu yang menjadi jawaban Thea.


Xavier tersenyum kecil. Tangannya menyentuh wajah Thea yang tertutupi make up karakter Harley Quinn.


“Apa kamu pernah takut padaku? Aku mungkin bisa mencelakakanmu.” Sedikit demi sedikit Xavier mengusap wajah Thea dari make up itu. Ia lebih suka melihat wajah Thea yang polos dan sedikit kemerahan saat mereka bertemu pandang.


“Tidak, aku tidak takut.” Jawab Thea dengan yakin.


“Keadaan mungkin akan membawaku dalam kondisi terancam. Tapi kamu tidak pernah menyakitiku. Jadi untuk apa aku takut.” Lanjut Thea dengan sejujurnya.


Xavier tersenyum. Dengan tangannya yang masih kemerahan, ia menelusur garis leher Thea membuat Thea merasakan sensasi meremang yang tidak biasa.


“Kamu sangat peduli padaku dan akupun sedang belajar untuk peduli padamu. Bisakah kita menjadi pacar saja?” Tanyanya dengan menggemaskan. Ia menatap Thea dengan sungguh membuat wajah Thea langsung merona seketika.


“Apa harus menjadi pacar untuk lebih saling memperdulikan?”


“Tidak. Hanya saja aku ingin menjadi kekasihmu dan mengakui kalau aku memiliki perasaan yang istimewa terhadapmu. Bukankah itu berarti bisa membuat kita menjadi pacar untuk satu sama lain?” Tanya xavier lagi.


Thea hanya tersenyum kecil. Harus ia akui kalau ia pun memiliki perasaan yang sama untuk Xavier.


Melihat Thea yang hanya tersenyum dan tidak menolak, sepertinya permintaan Xavier bersambut.


Ia mengangkat kepalanya lebih tinggi. Mengcengkram leher Thea lebih kuat namun lembut. Lantas ia mendekatkan wajahnya pada Thea lalu mengecup bibir ber-lipstick merah terang itu.


Tidak hanya satu kecupan, melainkan beberapa kecupan hingga mereka saling berpagutan. Mewujudkan gairah yang mengaliri aliran darahnya dan membuat jantungnya berdebar sangat kencang.

__ADS_1


“I love you,…” Bisik Xavier di sela pagutan dan terjeda sebelum ia kembali mellum.at bibir Thea dengan sungguh.


****


__ADS_2