Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Sarapan pagi


__ADS_3

“Kamu kenapa?” Tanya Thea pada Xavier.


Sejak tadi Xavier terus berdiam diri di jendela sambil melihat ke sekeliling apartemen seperti tengah mengintai sesuatu.


Thea masih memandangi laki-laki yang waspada itu sambil menikmati sarapannya.


“Jendela ini bisa di kunci kan?” Kali ini Xavier berpindah ke atas tempat tidur Thea dan memeriksa jendela sebelah ranjang Thea.


“Bisa. Hanya saja aku lebih suka membukanya, karena udara di ruangan ini sering pengap. Mungkin karena tidak terlalu luas. Apa ada yang salah?” Thea menghampiri Xavier dengan sandwich di tangannya.


Ia ikut memperhatikan jendela kamarnya.


Bukannya menjawab Xavier malah menggigit roti Thea dan mengunyahnya dengan nikmat.


“Enak.” Pujinya dengan senyum terkembang. Noda mayonnaise masih tersisa di sudut bibirnya.


“Masakanku memang enak. Hanya saja aku jarang memasak. Jadi nikmatilah selagi aku memasak dan jangan hanya mengurus jendela saja.” Dengan ujung jarinya Thea mengusap mayonnaise di bibir Xavier.


Dengan cepat Xavier meraih tangan Thea dan menjilat ujung jari itu. Seperti tidak rela sisa makanannya di lap Thea.


“Astaga, kamu seperti anak kecil.” Decik Thea yang segera berbalik. Ia mengigit kembali sandwichnya dengan salah tingkah. Lihat saja bibirnya yang tersenyum, bersamaan dengan saat ia mengigit sandwichnya.


“Aku serius, mulai sekarang kamu harus menguncinya. Atau kita pindah saja ke tempat yang lebih aman?!” tawar Xavier yang mengekori Thea. Ia duduk di kursi makan yang menunggu Thea menjawab permintaannya.


“Tidak! Aku tidak bisa pergi tanpa alasan yang jelas. Lagi pula tempat ini sangat nyaman. Pemiliknya, nyonya Emily, sangat baik padaku. Bahkan dia yang menawariku tinggal di sini, di saat dulu aku susah payah mencari tempat tinggal. Jadi, kalau kamu mau pindah, pindahlah sendiri.” Tolak Thea dengan yakin.


Xavier hanya memandangi Thea beberapa saat, sepertinya akan sangat sulit untuk mengajak Thea pergi dari sini.


"Ya sudahlah. Tapi mulai sekarang kamu harus mengunci jendela dan pintu. Jangan membiarkannya terbuka begitu saja." Pinta Xavier yang bernada serius.

__ADS_1


“Memangnya, apa yang sebenarnya kamu waspadai? Kedatangan Allen?” Thea mengulang pertanyaannya yang belum di jawab Xavier.


“Eem, tidak! Aku hanya takut ada binatang kecil masuk ke apartemen ini.” Timpal Xavier sekenanya. Ia belum tahu harus menjelaskannya seperti apa dan memilih mulai menikmati sandwich buatan Thea dengan lahap. Pikirnya, untuk sementara lebih baik ia tidak menceritakan tentang kedatangan Asher semalam.


“Kamu sangat aneh. Di apartemen ini tinggal seekor serigala, mana mungkin ada binatang kecil yang berani masuk ke sini?” Thea tersenyum kecil di ujung kalimatnya.


“Aku sudah bukan serigala lagi Thea. Kutukanku sudah terlepas.” Timpal Xavier tidak suka.


“Oh ya? Tapi cara makanmu masih seperti seekor serigala.” Ledek Thea.


“Bagaimana bisa?” Xavier menatap Thea penuh tanya.


“Cara makanmu sangat berantakan Xavier. Mulutmu di penuhi mayonnaise, seperti anak kecil yang baru belajar makan.”


“Lalu harus bagaimana caraku makan, agar terlihat benar?” Xavier terlihat frustasi mendengar ujaran Thea.


“Makanlah dengan mulut tertutup.” Thea mengigit sandwichnya lalu mengunyahnya dengan tenang.


“Baik aku jelaskan.” Timpal Thea setelah menelan makanannya.


“Yang dimaksud dengan makan dengan mulut tertutup adalah, ketika mengunyah mulut tidak mengeluarkan suara atau mengecap. Hal itu dianggap tidak sopan, mengganggu, bahkan cenderung jadi hal yang dianggap dapat mengurangi nafsu makan orang lain yang mendengarnya.”


“Selain itu, makan dengan mulut tertutup juga dapat mengurangi risiko tersedak karena dorongan udara yang masuk lewat mulut saat makan. Pastikan kamu sudah mengunyah dan menelan seluruh makanan terlebih dahulu sebelum mulai menyuap makanan lainnya. Bisa dimengerti?” terang Thea.


“Baik, aku coba.” Xavier mengangguk paham.


Ia mengambil sandwichnya lalu mengigitnya seperempat bagian. Ia mengunyahnya perlahan tapi lelehan mayonnaise tetap terlihat di sudut bibirnya.


“Hahaha… Pakai ini untuk melap bibirmu. Lakukan tengan tenang seperti ini.” Thea memberikan contoh cara melap bibir pada Xavier.

__ADS_1


Laki-laki itu mengikuti Thea walau usahanya terlihat begitu kaku. Tapi paling tidak, ia sudah berusaha.


“Bagus. Makanlah lagi dengan perlahan dan coba nikmati. Makan itu tidak hanya untuk menambah tenaga kita tapi juga bisa membuat kita bahagia.” Terang Thea.


Xavier kembali mengangguk paham dan mulai menikmati makanannya.


“Thea, apa kita tidak pergi bekerja? Ini sudah sangat siang.” Xavier memperhatikan matahari yang sudah semakin tinggi sementara Thea masih tampak bersantai saja.


“Tidak, hari ini aku sudah izin tidak masuk kerja.”


“Lalu apa rencanamu hari ini? Langsung ke kampus?” Xavier penasaran.


“Tidak, aku hari ini libur. Jadi aku berencana untuk pulang.”


“Kemana? Bukannya tempatmu di sini?” Xavier mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


Thea menoleh kalender yang tertempel di dinding. Melihat barisan angka hitam dan merah di penghujung minggu.


“Aku akan pulang ke kampung halamanku. Hari ini tepat 25 tahun peringatan kematian ibuku.” Terang Thea yang tersenyum kelu. Ia segera mengambil segelas air dan meneguknya untuk meloloskan rasa yang mengganjal di tenggorokannya.


Melihat ekspresi Thea yang terlihat sedih, Xavier tidak lagi menimpali. Ia mendekatkan tissue pada Thea dan membuat gadis itu tersenyum semu.


“Aku tidak membutuhkannya Xavier. Aku sudah sangat menerima kepergian orang tuaku.” Ucap Thea dengan berlapang dada.


Jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk pinggiran gelas sambil mengingat kalau ia sudah sangat lama tidak pulag ke kampung halamannya. Entah seperti apa kondisi di sana sekarang ini.


“Baguslah. Kamu tidak cocok untuk bersedih terlalu lama.”  Timpal Xavier yang embali asyik dengan makananya.


Thea terangguk kecil, lantas meneguk habis air di gelasnya tanpa melepaskan pandangannya dari Xavier. Laki-laki ini memang cukup mengibur dan menemaninya.

__ADS_1


*****


__ADS_2