Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Pulang,...


__ADS_3

Bunga mawar putih menjadi bunga yang di pilih Thea untuk ia bawa ke makam ibunya. Ia mendapatkan bunga itu di sebuah toko bunga yang ada di pertengahan jalannya menuju pulang menuju kampung halaman.


Thea menciumi bunga itu, wanginya sangat enak. Setelah puluhan tahun, baru kali ini ia bisa mencium sendiri seperti apa wanginya bunga mawar putih. Biasanya ia hanya mendengar deskripsi wangi itu dari sang penjual bunga.


“Bunga ini tidak memiliki umur yang panjang dan kelopaknya mudah layu. Jadi tidak bisa di simpan terlalu lama.” Ucap sang penjual bunga saat Thea akan membayar.


Toko ini sudah menjadi langganan Thea selama 6 tahun terakhir.


“Aku akan langsung memberikan bunga ini.” Sahut Thea sambil mencium kembali wangi bunga di tangkupannya.


“Dia pasti akan senang menerima bunga pemberian darimu.” Ucap penjual bunga saat memberikan uang kembalian pada Thea.


Thea hanya tersenyum kecil. Tentu saja ia berharap kalau ia bisa melihat wajah bahagia ibunya karena mendapatkan kiriman bunga cantik setiap tahunnya.


“Terima kasih.” Ucap Thea seraya pergi meninggalkan toko bunga.


“Wah, bunganya sangat banyak, Thea.” Ungkap Xavier yang menunggu di atas motornya. Bucket bunga itu sampai menutupi tubuh atas Thea.


“Ya, aku membeli dua kali lipat banyaknya dari bunga yang biasa aku beli.” Aku Thea.


Ia menitipkan bunganya pada Xavier saat ia mengenakan helm. Xavier ikut mencium wangi bunga yang ternyata sangat segar.


“Bagaimana menurutmu?” Tanya Thea pada Xavier.


“Wanginya enak. Apa setiap wanitamenyukai bunga?” Xavier balik bertanya.


“Tentu saja, hampir semua wanita menyukainya. Memberikan bunga kepada seseorang yang dicintai adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk melambangkan cinta kepada seseorang yang sangat kita istimewakan. Dan bunga mawar, salah satu jenis bunga yang digunakan untuk menyampaikan pesan itu.”


Thea segera naik ke atas motor dan duduk di boncengan Xavier. Ia mengambil alih bunga itu dari tangan Xavier.


“Memangnya bunga itu bermacam jenisnya?” Xavier jadi penasaran.


“Iya. Berbeda jenis bunga, berbeda pula arti bunga itu.”


“Okey, aku sudah siap. Jangan melaju terlalu cepat.” Thea memeluk bunga itu dengan erat di sela antara ia dengan Xavier.


“Baiklah.”

__ADS_1


Mesin motor mulai menyala dan Xavier pun melajukan motornya dengan santai. Sesekali ia melihat ke belakang melalui kaca spionnya, beberapa kelopak bunga berjatuhan terkena angin. Rasanya ia tahu alasan Thea memintanya agar tidak terlalu cepat melajukan motornya.


Alhasil ia melajukan motornya dengan pelan. Lagipula, jarak ke kampung halaman Thea sudah tidak terlalu jauh lagi.


Menjelang sore, mereka tiba di sebuah pemukiman. Xavier menghentikan laju motornya dan membiarkan Thea turun lebih dulu baru ia menyusul.


Udara bersih langsung terasa dengan langit yang tidak begitu cerah. Tidak banyak orang yang terlihat karena pemukiman ini daerah yang sepi.


“Ini kampung halamanmu?” Tanya Xavier setelah melepaskan helmnya. Mereka berhenti di depan sebuah rumah tua yang di pandangi Thea dengan sedih.


“Iya, dulu aku dan ayahku tinggal di sini.” Ucap Thea.


Thea masuk ke halaman rumahnya yang hanya berpagarkan kayu yang di susun asal. Beberapa bahkan sudah lapuk dan terlepas. Sebuah rumah tua yang sederhana itu lebih terlihat seperti gubuk tua yang lama di tinggalkan dan tidak terawat.


"Hanya setahun sekali aku ke rumah ini, untuk sekedar beristirahat setelah dari makam ibu dan ayahku."


“Krieeett…” pintu kayu itu berderit saat di buka Thea.


Xavier mengikuti langkah Thea masuk ke dalam rumah bercat putih kusam dengan sebuah bucket bunga kering yang menempel di pintu. Beberapa anak tangga yang sudah lapuk ia lewati dengan mudah.


Saat pintu terbuka, Thea di sambut oleh debu yang berterbangan dan membuat Thea harus menutup hidungnya dengan punggung tangan. Penglihatannya samar, karena tidak ada lampu yang menyala. Dulu, rumah ini memang terisolir. Tidak ada listrik yang terpasang dan hanya mengandalkan cahaya matahari atau lilin di malam hari.


Thea membuka beberapa tirai yang menutupi kaca jendelanya membuat ruangan ini terlihat lebih terang dengan bantuan cahaya matahari sore.


“Itu fotomu?” Tanya Xavier, saat melihat sebuah foto yang terpajang di dinding. Foto Thea kecil bersama seorang laki-laki berperawakan gagah yang menggendongnya.


“Iyaa. Foto itu di ambil saat aku berusia sekitar lima tahun. Tepatnya beberapa hari sebelum ayahku meninggal.”


Thea mengambil foto itu dan ia pandangi dengan lekat lalu mengusapnya perlahan. Bibirnya tersenyum saat mengingat beberapa kenangan manis yang tersimpan di benaknya.


“Ini satu-satunya foto yang aku punya dan aku sengaja tidak mengambilnya, agar aku selalu merasa kalau tempat ini selalu menjadi rumah kami.” Ungkap Thea dengan penuh perasaan.


Tanpa Thea sadari, Xavier mengambil fotonya dari belakang dan mengejutkannya dengan cahaya lampu blitz. Foto dengan pigura kaca yang sudah kotor itu tampak kontras dengan pantulan wajah Thea yang samar di permukaannya.


“Kamu benar, sekarang aku bisa mempotretnya. Dulu aku tidak punya ponsel seperti ini.” Thea mengikuti Xavier untuk mengambil ulang foto ia dan sang ayah. Beruntung Xavier memberinya ponsel pintar yang bisa ia gunakan untuk mempotret banyak hal di rumah ini.


“Kamu pergi dari rumah ini sejak kamu kecil?” Tanya Xavier yang penasaran.

__ADS_1


Ia membuka kain penutup putih yang menutupi kursi kayu di rumah ini lalu duduk di sana.


“Iya. Beberapa hari sebelum ayahku meninggal, dia jatuh sakit. Dia sering mengigau memanggil nama ibuku, Claire. Dia juga sering berteriak di tengah malam dan membuat orang-orang di sekitar rumahku menganggap ayahku gila.” Thea berjalan ke banyak sudut dengan perlahan, seperti berusaha mengingat kenangan terakhir ia bersama sang ayah. Bagaimana ketegangan dan rasa ketakutan setiap malam yang Thea rasakan, seperti hadir Kembali.


"Kami di paksa pergi dari tempat ini karena menurut mereka ayahku gila. Tapi satu hari sebelum kami pergi, ayahku meninggal." Kenang Thea dengan wajahnya yang sedih.


"Aku hanya memiliki sedikit kenangan dengan ayahku dan setengah kenangan itu adalah kenangan menyedihkan dan menakutkan."


“Dia selalu berpesan, agar aku tidak pernah melepaskan gelang ini, tapi sekarang aku malah terpisah dengan gelang ini.” Thea memandangi gelang peninggalan ibunya yang beberapa waktu terlepas.


“Tapi entah mengapa, aku malah seperti merasa terbebas dari sesuatu.” Thea terpekur di tempatnya, memegangi gelang itu dengan erat. Entah terbuat dari apa gelang ini yang jelas ia merasa memiliki ikatan yang kuat.


“Gelang itu juga yang membawaku ke duniamu, Thea. Dia seperti menarikku ke tempat ini dan memberiku energi yang luar biasa hingga aku bisa terlepas dari kutukanku.” Xavier berdiri di samping Thea dan ikut memandangi gelang itu.


“Bukankah dulu gelang ini membuatmu kesakitan?” Thea menatap Xavier yang ada di sampingnya.


“Iyaa. Saat gelang ini masih melingkar di tanganmu, melihatnya saja membuat tubuhku sakit. Tapi sekarang, dia seperti memberiku kekuatan dan ketenangan di waktu yang bersamaan.” Ucap Xavier dengan yakin.


Mata Xavier yang biru tampak berkilauan saat menatap batu biru di tengah gelang itu. Hembusan angin terasa kuat masuk ke dalam rumah, menerbangkan benda-benda kecil dan tipis namun semakin lama angin itu terasa semakin kencang sementara Xavier semakin terpaku menatap gelang itu.


“Xavier!” panggil Thea. Thea menggenggam kembali gelang di tangannya dan saat itu juga Xavier seperti tersadar.


“Apa yang terjadi?” tanya Thea. Saat ini binar kebiruan di mata Xavier sudah menghilang.


“Entahlah Thea. Untuk beberapa saat jantungku seperti berhenti berdetak karena menatap gelang milikmu.” Xavier memejamkan matanya dan mengatur nafasnya yang tadi sempat terhenti.


“Kalau begitu, berhentilah memandangi gelang ini. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu.” Thea segera memasukkan gelang itu ke dalam sakunya.


“Baiklah.” Xavier mengangguk patuh.


“Kita mungkin akan bermalam di sini malam ini. Jadi kita harus merapikannya.” Thea mencari lilin untuk menerangi ruangan yang tidak terlalu luas ini. Saat menemukan satu lilin, Xavier membantu Thea untuk menyalakannya.


“Tapi sayangnya, rumah ini hanya memiliki satu kamar. Aku harap kamu tidak keberatan untuk berbagi tempat tidur denganku.” Ucap Thea. Walau wajahnya merona malu, namun ia harus mengatakannya.


“Tidak masalah, aku bisa tidur di kursi ini.” Xavier menoleh kursi yang tadi didudukinya.


“Baiklah. Sekarang, ayo kita pergi ke makam ibuku.” Ajak Thea.

__ADS_1


Xavier terangguk kecil, ia mengekor saja mengikuti langkah kaki Thea. Beberapa orang memperhatikan Thea dan Xavier. Mereka saling berbisik saat melihat keduanya keluar dari rumah Thea. Sepertinya keberadaan Xavier dan Thea cukup menarik perhatian mereka.


*****


__ADS_2