Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Pegulat


__ADS_3

Ini kali pertama Thea menonton pertandingan gulat yang diikuti Xavier. Lawan Xavier kali ini adalah seorang pegulat professional yang memiliki postur tubuh berisi, lebih besar dari Xavier.


"Raawwrr!!!" Laki-laki itu menyeringai garang, pengangkat tangannya menyapa para penonton yang menjadi fans fanatiknya. Sementara Xavier masih di sudut ringnya, di bantu seorang laki-laki untuk bersiap-siap.


Sekali waktu laki-laki itu menatap Xavier dengan ekspresi meledek. Ia sangat yakin kalau ia bisa mengalahkan Xavier hanya dengan beberapa pukulan saja.


“Apa Xavier akan menang?” Tanya Thea pada Asher yang duduk di sampingnya.


“Bukankah beliau belum pernah kalah?” Timpalan jawaban Asher memang selalu menyebalkan.


“Seharusnya aku tidak perlu bertanya.” Gumam Thea dengan kesal.


Asher tidak menimpali walau masih mendengar suara Thea. Ia memperhatikan sekeliling arena pertandingan saat merasakan perasaan tidak nyaman namun entah dari sudut mana.


“Pritt!!!” suara peluit mulai dibunyikan dan dua orang itu saling berhadapan, memberi salam satu sama lain.


Baru Xavier mengangkat kepalanya, tiba-tiba saja lawan Xavier sudah menyerang lebih dulu. Ia benar-benar memanfaatkan peluangnya dalam sepersekian detik.


“Bukankah itu pelanggaran?!” seru Thea karena belum mendengar wasit meniup peluitnya lagi.


Tapi tidak ada yang menjawab. Masing-masing sibuk menyoraki saat lawan Xavier memukulkan beberapa pukulan mematikan pada Xavier. Ia menubruk tubuh Xavier, mengangkatnya dengan satu tangan lalu membanting tubuh Xavier.


"Akh!" Xavier melenguh kesakitan saat merasakan bantingan kuat itu seperti menghancurkan tulang belakang dan punggungnya. Tadi ia memang belum bersiap saat tiba-tiba laki-laki itu menyerangnya.


Dan Thea masih berpikir kalau Xavier sedang berpura-pura atau laki-laki ini memang sengaja mengalah di awal sebelum benar-benar membalas serangan. Seperti yang pernah dikatakan Xavier, ia tidak pernah menunjukkan kekuatan aslinya di hadapan banyak orang.


Benar saja, setelah tubuhnya di banting, Xavier segera bangkit dan balik menyerang laki-laki itu. Xavier hendak mengunci tubuh laki itu lalu berusaha membantingnya. Namun bukannya roboh, laki-laki itu malah berhasil bertahan dan balas mendorong tubuh Xavier.


“BUK! BUK! BUK!!” Beberapa tinjuan di layangkan laki-laki it uke wajah Xavier. Gerakannya sangat cepat, nyaris tidak terlihat pandangan mata.


“Astaga, Xavier! Bertahanlah! Lawanlah!” Seru Thea dari tempatnya. Ia sampai berdiri untuk meneriaki Xavier. Ia menggunakan kedua tangannya untuk di jadikan corong suara.


Xavier yang kelimpungan, samar melihat Thea yang berteriak padanya. Penglihatannya mulai berbayang namun ia bisa merasakan usaha Thea untuk menyemangatinya.

__ADS_1


“BUK!!” Karena tidak fokus, Xavier kembali mendapat satu pukulan keras di kepalanya.


“XAVIER!!!” Teriak Thea.


Tanpa sadar ia segera berlari menghampiri Xavier yang tergeletak di atas ring.


“Xavier! Bangunlah hey! Bangunlah!” Teriak Thea sambil mengguncang-guncang tali ring.


“Thea,…” Ucap Xavier lemah. Entah apa yang terjadi pada dirinya yang tiba-tiba kehilangan kekuatannya untuk melawan laki-laki itu.


“Iya, aku di sini. Bertahanlah Xavier!” Seru Thea dengan wajah cemasnya. Ia melihat dengan jelas luka lebam di pipi, sudut bibir dan tentu saja pelipis Xavier yang terkena pukulan beberapa kali.


“Thea, jangan mendekat!” Asher segera menahan gadis itu saat mengulurkan tangannya pada Xavier. Hampir saja kaki lawan Xavier menginjak tangan Thea yang terulur. Beruntung Asher menariknya tepat waktu.


“KAU BRENGSEK!” Thea mengibaskan tangan Asher yang memegangi tangannya.


Ia segera mengangkat tangannya dan tidak lama waktupun berhenti. Kumpulan bola air berkumpul di tangan Thea dan hendak ia lemparkan ke lawan Xavier. Namun tiba-tiba saja laki-laki itupun mengangkat tangannya dan mengumpulkan udara yang ada di sekitarnya menjadi bola yang siap ia lemparkan pada Thea.


“THEA!! DIA BUKAN MANUSIA BIASA!!!” Seru Asher yang terhenyak kaget.


Laki-laki itu mengangkat tangannya ke udara dan tidak lama ada kilatan petir yang berputar di sekitar kepalan tangannya.


“Dia pemburu dari klan udara.” Ucap Asher saat melihat kemampuannya.


Berbeda dengan Xavier, Asher memang tidak bisa melihat aura orang lain seperti kekampuan yang dimiliki Xavier. Hanya Thea yang bisa ia lihat auranya karena ia pernah menyentuh darah Thea.


“Bagaimana bisa ada klan udara di sini?” Tanya Thea pada Asher.


“Entahlah. Kamu menyingkirlah, biar aku yang menghadapinya.” Ucap Asher.


Namun bukan Thea namanya kalau ia menurut begitu saja.


“Aku bisa melakukannya sendiri.” Ucap Thea dengan kesal. Ia merenggangkan kedua kakinya selebar bahu lalu mengulurkan tangannya pada laki-laki itu.

__ADS_1


Tepat saat laki-laki itu hendak menghantam Xavier dengan bola petirnya, Thea segera mengendalikan darah yang ada di tubuh laki-laki itu.


Hembusan angin kencang mengelilingi Thea, saat ia mengeluarkan semua kekuatannya. Matanya menyala kebiruan masih dengan usahanya mengendalikan laki-laki itu.


“AARRGGHH!!!” Laki-laki itu mengerang kesakitan namun Thea tetap tidak menghentikan apa yang sudah ia mulai.


Sementara Thea melawan laki-laki itu, Asher segera menghampiri Xavier dan menarik tubuhnya ke tempat yang lebih aman.


Laki-laki itu tidak tinggal diam. Ia mengerahkan semua kekuatannya untuk balik menyerang Thea, dan,


“BUG!” Thea terpental menghantam dinding saat pertahananya rubuh.


“Yang mulia!!” Seru Mathew yang baru datang. Ia segera mengarahkan tangannya pada laki-laki itu dan balas menyerang laki-laki tersebut demi melindungi Thea.


“Rupanya kalian semua di sini. Aku tidak perlu susah payah mencari kalian satu persatu. Aku bisa menghabisi kalian saat ini juga.” Ucap laki-laki  yang sudah dikuasai amarah.


“Akh!”


Thea yang masih kesakitan berusaha untuk bangkit. Ia kembali berdiri tegak lalu memejamkan matanya. Tidak lama, semua molekul air seperti berputar mengelilinginya. Cahaya kebiruan keluar dari tubuhnya dan molekul air itu berkumpul membentuk sebuah pedang besar.


Entah darimana asal kekuatan yang di miliki Thea. Yang jelas saat Mathew berusaha menyerang laki-laki itu dan gagal, Thea segera megangkat pedangnya dan melayangkannya ke arah dada laki-laki tersebut.


Karena lengah, pedang itu berhasil menancap di dada kiri mahluk klan udara.


“AAARGGHHHH!!!!” teriak laki-laki itu memekakan telinga.


Petir berputar di sekelilingnya namun tidak bisa menyelamatkan laki-laki itu.


Mahluk klan udara itu roboh bersamaan dengan hilangnya sedikit demi sedikit petir yang mengelilinginya. Perlahan namun pasti, tubuh laki-laki itu memudar, membentuk kilatan petir kecil-kecil yang kemudian menghilang begitu saja.


Thea menarik kembali pedang yang menusuk dada laki-laki itu dan kembali ke tangannya lalu menghilang.


“Akh!” ia terhuyung saat sadar kalau kekuatannya sudah habis.

__ADS_1


“Yang mulia!!!” seru Mathew yang segera menghampiri Thea sebelum gadis itu jatuh.


****


__ADS_2