
Flash back
Malam itu, suara rintihan terdengar jelas dari Menara kediaman ratu Arletta, ratu klan api. Suaranya yang merintih menahan sakit begitu jelas, terdengar oleh Xavier. Xavier berjalan menuju Menara itu, melewati lorong gelap yang hanya di terangi oleh obor kecil yang berjarak sekitar 3 meter satu sama lain. Lorong itu seperti tidak berujung dan hanya bayangan hitam yang terlihat di depan sana.
Menaiki beberapa anak tangga, membawa Xavier tiba di depan sebuah pintu. Pintu yang terlarang dan tidak pernah boleh untuk di buka. Namun suara rintihan yang semakin jelas membuat Xavier terpaksa membuka pintu itu perlahan. Sepasang mata coklat itu mengintip dari celah pintu dan ia melihat, ratu Arletta tersungkur di lantai dengan bersimbah darah.
Mata Xavier langsung membulat, namun mulutnya bungkam, tidak bisa bersuara.
Cahaya temarang dari nyala lilin memperjelas penglihatan Xavier akan sebilah pisau yang masih meneteskan darah segar di tangan seseorang yang tidak asing baginya yaitu Frederic, sang raja api.
“Xavier, Xavier,… “
Xavier masih mendengar dengan jelas suara Ratu Arletta yang memanggil namanya.
“Jangan khawatir ratuku, anak itupun akan menyusulmu.” Ujar Frederic yang tersenyum penuh kepuasan. Matanya menyalak merah menatap Arletta yang tidak berdaya.
“Ti-Tidak. Jangan lakukan apapun pada anak kita.” Pinta Arletta seraya memegangi jubah kebesaran sang raja yang berwarna merah, seperti darah.
Namun Frederic mengibaskannya, ia bahkan menjauhkan kakinya dari tubuh Arletta yang tidak berdaya.
Melihat kondisi Arletta, Xavier tahu, nafas Arletta sudah berada di ujung tanduk namun Frederic tidak bergeming mendapat permohonan itu. Xavier seperti melihat sosok yang berbeda dari sosok ayah yang selama ini di kenalnya. Matanya menyala merah dan menoleh ke arah pintu. Xavier bisa melihat kobaran keserakahan yang ada di matanya.
“Lihatlah, dia bahkan datang sendiri mengantarkan nyawanya.” Ucap Frederic yang menyeringai lebar melihat wajah penuh keterkejutan sang anak.
“Ja-jangan mendekat Xavier, larilah.” Suara Arletta tersengau-sengau di antara nafasnya yang sesak. Matanya yang kemerahan, menitikkan air mata. Rasa takutnya semakin besar saat membayangkan kalau suaminya mungkin akan melakukan hal yang sama pada putranya.
“Katakan padanya kalau kematian itu tidak sakit. Karena aku membunuhmu dengan penuh perasaan dan kelembutan.” Frederic mengusap kepala Arletta dengan lembut. Untuk beberapa saat ia menatapnya penuh cinta, sampai kemudian,...
“AWH!” Arletta mengaduh saat Frederic menarik rambutnya hingga kepala Arletta menengadah.
__ADS_1
Rupanya Itu kata terakhir yang Xavier dengar dari mulut ibunya karena sedetik kemudian pisau itu terangkat ke udara dan dihunuskan ke jantung ibu Arletta.
“AAARRRGGGGHHHHH” Teriak Xavier dengan keterkejutan dan kemarahannya. Matanya menyalak merah bercampur air mata, tangannya mengepal kuat hingga ujung-ujung jarinya memutih.
Ia segera berlari menghampiri Frederic dan menubruk tubuhnya yang lebih besar dari Xavier.
“Brug!” tubuh Arletta jatuh terkulai di lantai dengan darah yang menggenang, mengelilingi tubuhnya.
Xavier terengah menahan marahnya, ia masih mengingat benar bagaimana wajah kesakitan dan kecemasan itu tergambar di wajah ibunya. Arletta tidak lagi bergerak sedikitpun, melainkan sedikit demi sedikit cahaya di tubuhnya memudar dan menghilang, hanya menyisakan cahaya aura kemerahan yang kemudian masuk ke dalam tubuh Frederic yang melalui ujung tangan yang tadi mengoyak tubuh Arletta.
“BAJINGAN!!!” Seru Xavier. Sekuat tenaga ia menubruk tubuh Frederic yang tengah menghisap aura Arletta.
Tubuh Frederic bergeming karena ia tengah berada di titik terrendah dari kekuatannya. Ya, saat ia menghisap aura Dewa atau Dewi lain, maka tubuhnya seperti cangkang kosong yang menunggu untuk di isi.
Frederic jatuh tersungkur dan aura milik Arletta berputar di seisi ruangan itu.
“BRENGSEK!” Frederic tidak terima. Ia segera bangkit dengan tubuhnya yang belum terlalu bertenaga. Berpegangan pada dinding lalu setelah berdiri tegak ia menghampiri Xavier untuk menghajarnya.
“ARGH!” Frederic mengerang kesakitan saat pedang yang di todongkan Xavier ternyata menembus perutnya.
Dua laki-laki itu saling bertatapan. Xavier dengan kemarahan dan Frederic dengan keterkejutannya. Frederic menyentuh perutnya yang berdarah. Ia mengangkat tangannya dan memandangi telapak tangannya yang berlumuran darah.
Saat tenaganya kembali, Frederic mengangkat tangannya untuk memukulkan tinjunya pada Xavier. Namun Xavier mengambil gerakan lebih cepat dengan menebaskan pedang itu dari perut ke arah bahu Frederic dan melewati jantungnya, hingga tubuh laki-laki itu terbagi dua.
“BRUG!” Tubuh Frederic ambruk sementara Xavier masih terpekur di tempatnya seraya terengah. Tanpa sadar, ia telah menebas sang ayah hingga meninggal.
Perlahan, tubuh Frederic pun terurai, menjadi kilauan cahaya yang mengelilingi Xavier. Berbagai bayangan masa lalu tentang ia dan kedua orang tuanya mengisi pikiran Xavier dan membuat laki-laki itu ambruk terjatuh dengan bertumpu pada kedua lututnya yang lemah.
“AAAARRRRGGGHHHHH!!!!!” Teriak Xavier seraya merentangkan tangannya dan menengadah menantang langit malam yang bergemuruh. Ia marah pada keadaan yang membuat ia harus kehilangan kedua orang tuanya di waktu yang bersamaan.
__ADS_1
Tidak berselang lama, aura Frederic pun terlihat mendekat padanya Xavier , bersamaan dengan aura Arletta. Tubuh Xavier mendadak lemah dan ia tidak bisa menggerahkkan tubuhnya.
Sedikit demi sedikit aura dari kedua orang tuanya masuk ke tubuh Xavier dan Xavier hanya bisa terdiam tanpa bisa melawan.
Dari tempatnya, Xavier mendengar suara ribuan langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Suara terompet tanda berperangpun berbunyi.
“PANGERAN MEMBUNUH RAJA! PANGERAN MEMBUNUH RAJA!” seru seseorang yang menjadi komando.
Di saat yang bersamaan para tetua datang ke menara kediaman ratu.
“Ikat dia!” Seru Rowley sang penasihat. Ia masih sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya. Di ruangan itu hanya tersisa Xavier dan dua buah baju yang semula di kenakan raja dan ratu klan api. Tapi sekarang mereka menghilang, meninggalkan darah yang membasahi lantai berbatu tersebut.
Beberapa orang menghampiri Xavier dan mengikat laki-laki itu dengan segera. Xavier yang sedang berada di titik terlemahnya, tidak bisa melakukan perlawanan. Ia jatuh terkulai dalam ikatan tali klan api.
“Dia sangat berbahaya. Kita harus mengunci kekuatannya.” Ucap salah seorang tetua.
“Tapi, kita tidak bisa memperlakukan pangeran kita seperti ini. Beliau satu-satunya penerus di klan api ini.” Timpal Rowley sang penasihat.
“Lalu, apa anda bisa menjamin kalau pangeran tidak akan mengacau di klan api? Bagaimana kalau dia menghancurkan klan ini? Terlebih, aura kedua orang tuanya telah masuk ke dalam tubuhnya. Dia bisa menghancurkan semua klan yang ada di semesta ini.” Ujar tetua lainnya.
Rowley tampak berpikir. Ia tidak mungkin membiarkan Xavier menghancurkan klan api begitu saja. Ia sebenarnya menyayangkan hal ini tapi ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti saran para tetua.
“Kita kunci saja kekuatannya di tubuh binatang dan mengusirnya dari klan ini tapi jangan pernah ada yang berusaha membunuhnya. Saya rasa itu lebih baik.” Ucap tetua lainnya.
“Panggil Wizard kemari, dia harus melakukan tugasnya.” Ucap Rowley pada akhirnya.
“Baik.” Seorang pelayan mengangguk patuh. Ia memanggilkan penyihir laki-laki yang ada di klan api.
Dengan sebuah ritual, mereka mulai menjatuhkan kutukan pada Xavier. Ia di kunci di dalam tubuh seekor serigala agar kekuatannya tidak mengancam orang lain. Hingga akhirnya Xavier di asingkan di tempat bernama Godland.
__ADS_1
***