Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Halloween


__ADS_3

Udara dingin dan kabut mulai menyelimuti kerajaan klan api. Suasana yang semula tenang itu mulai bergejolak. Rakyat di klan api mulai gelisah setelah satu per satu api abadi yang menerangi dan menjadi sumber kehidupan mulai api padam. Kabut semakin menghitam bersamaan dengan semakin banyaknya penduduk yang mulai kehilangan kekuatannya. Mereka saling membunuh satu sama lain demi mendapatkan aura baru untuk mengisi kekuatannya.


Satu per satu penghuni langit klan api turun ke Godland. Ada yang di hukum karena membuat kerusakan atau pembunuhan dan tidak sedikit yang terpaksa menetap di Godland karena kekuatannya yang perlahan menghilang. Setelah kekuatannya hilang, mereka berubah menjadi manusia biasa yang bisa mengalami kematian.


Seorang tetua dengan langkah panjangnya berjalan menuju ruang pribadi penasihat kerajaan. Ia berjalan dengan tergesa-gesa dan memasang wajah yang sangat tegang.


“Anda harus menyelesaikan masalah ini penasihat. Kondisi di kerajaan semakin tidak karuan.” Ucap tetua itu pada Rowley.


Lelaki tua yang sedang memejamkan matanya untuk bermeditasi, kini membuka matanya. Terlihat jelas cahaya matanya yang redup karena tenaganya pun mulai berkurang. Diantara para tetua di klan itu, dirinya lah yang mulai kehilangan kekuatannya.


Tidak bisa di pungkiri, setelah kematian raja mereka, kerajaan klan api mulai gelap tanpa cahaya. Satu per satu obor yang menjadi sumber kekuatan mereka padam dan membuat kekuatan mereka sedikit demi sedikit berkurang.


Tubuh ringkih yang berusaha kuat itu lantas beranjak dari tempat duduknya. Ia menghampiri bola kristal yang berada di bawah cahaya matahari yang mulai redup. Warnanya tidak lagi kemerahan, melainkan berubah jingga dan semakin memudar.


Ia menaruh tangannya di atas permukaan bola kristal. Memejamkan matanya beberapa saat dan merasakan energi langit yang semakin lemah.


“Kita seharusnya memanggil pangeran untuk kembali.” Ucap Rowley yang perlahan membuka matanya.


"APA?!" tetua itu tampak terkejut.


“Tidak mungkin kita membuat pangeran kembali. Kita bahkan menutup pintu langit karena mungkin saja pangeran kembali dan akan mengancam keselamatan kita. Terlebih kekuatan pangeran sudah kembali. Dia bisa melakukan apa saja di semesta ini. Mungkin saja ia akan membunuh kita satu per satu untuk membalaskan dendamnya karena kita telah mengutuknya dan mengusir dia dari klan ini.” Ucap tetua itu, tidak setuju.


“Lalu, apa kau memiliki pilihan lain?” Rowley berbalik dan menatap tetua itu dengan tajam.


“Hanya dewa dengan trah raja yang bisa menjaga keseimbangan klan ini. Kecuali,..” Rowley menjeda kalimatnya dan beralih menatap lukisan sang raja yang terpajang di ruangannya.


“Kecuali apa?” Tanya tetua itu pada Rowley.


Rowley berbalik menatap tetua itu. Ia tersenyum kecil pada laki-laki itu.


“Kau tidak perlu tahu. Cukup pastikan saja, saat pangeran pulang, kalian siap bersujud di kakinya.” Ucap Rowley dengan senyuman bijaksana.


Tetua itu hanya terdiam berusaha memahami pemikiran Rowley sang penasihat. Ia mempertimbangkan, mana yang akan lebih sulit, menerima murkanya pangeran atau membiarkan klan api hancur?


"Baiklah, kita akan meminta pangeran untuk pulang." Ucap tetua yang kemudian mengangguk patuh.


Rowley tersenyum lega. Sungguh ia sangat lega karena akhirnya para tetua bisa menerima kembali pangeran.


*****


Suara dentuman musik memeriahkan pesta halloween di kediaman Allen. Banyak teman kampusnya yang sudah datang dan ikut berpesta. Mereka tersebar di setiap sudut kediaman Allen dan menikmati jalannya acara. Ada yang asyik membuat permainan di dekat kolam renang, ada yang asyik menari di lantai dansa ada juga yang sibuk bercumbu dengan pasangannya.

__ADS_1


Di pintu masuk, terlihat Thea yang baru datang dengan mengenakan kostum Harley Quin. Sementara di sampingnya ada Xavier yang memakai kostum  Jocker. Mereka tampak serasi dengan kostum couple yang di kenakannya.


Mata Thea mulai berpedar, melihat ke sekeliling tempat pesta yang ramai. Tapi tidak ada yang ia kenal, terlebih mereka mengenakan riasan khas halloween.


“Selamat datang Thea...” sambut seorang laki-laki dengan kostum vampire, berciri khas jubah warna hitam dan merah..


Ia menyeringai, menujukkan taringnya yang tajam. Sudah pasti itu Allen, sang tuan rumah,  yang terlihat keren dengan kostum yang di pakainya.


“Terima kasih sudah bersedia datang.” Lanjutnya. Ia tidak menyangka Thea akan hadir ke pestanya. Ia memandangi Thea dengan sudut matanya yang tajam lalu tersenyum menggoda. Penampilan Thea memang sangat menarik. Ia seperti melihat sisi lain dari seorang Thea yang dulu di kenalnya, cupu.


“Hem, terima kasih. Pestanya sangat menarik, sayangnya aku tidak mengenal banyak orang di tempat ini.” Timpal Thea.


“Tidak masalah. Mari Harley Quin, biar aku kenalkan pada beberapa orang di sini.” Tawar Allen seraya menunjukkan arah dengan tangan terbuka.


“Anda tidak keberatan bukan, tuan Jocker?” Lanjutnya pada Xavier.


“Tentu tidak. Pergilah, nikmati pesta kalian. Aku akan berkeliling di sekitar sini.” Timpal Xavier saat Thea menolehnya. Seperti gadis ini sedang meminta izin padanya.


Akhirnya Thea mengiyakan. Ia berjalan lebih dulu dan di susul oleh Allen. Sementara Xavier, ia memilih berkeliling tempat pesta, menikmati beragam jenis makanan dan minuman yang tersaji. Sangat asing di mulutnya namun sangat enak.


“Kostum itu, cocok untukmu Thea.” Puji Allen di sela langkah mereka yang bersisian.


“Terima kasih.” Thea mengangguk sopan mendapat pujian tersebut.


“Beberapa kali aku datang ke pesta. Hanya saja tempatku tidak pernah di lantai dansa, melainkan di depan wastafel bersama piring dan gelas juga kuali kotor dan sisa makanan.” Aku Thea apa adanya.


“Wow, kamu benar-benar mengagumkan. Rupanya kamu pekerja keras.” Entah pujian atau ledekan yang disampaikan Allen saat ini dan tidak terlalu Thea pikirkan.


Langkah mereka terhenti saat tiba di hadapan sekelompok mahasiswa yang sedang bercanda tawa. Ada Lucas dengan kedua temannya juga Rebeca dan teman-teman cantiknya yang berpakaian seksi.


"Hey, kamu dari mana saja?" Tanya Rebeca yang mengenakan kostum Malficet untuk membungkus tubuhnya.


Ia beranjak dari tempatnya dan menghampiri Allen. Ia mendekat pada Allen, mengusap wajah dan dada Allen lalu semakin dekat hendak mencium bibir seksi laki-laki itu.


Siapa sangka, Allen malah memalingkan wajahnya.


"Kamu membuatku tersinggung." Ucap Rebeca yang menatap Allen kecewa lantas melirik Thea dengan sinis.


"Untuk apa kamu membawa gadis kampung ini ke sini?" Tanyanya. Rebeca sengaja berpidah ke samping Allen, berdiri di antara Thea dan Allen lalu menyenggol gadis itu agar bergeser menjauh.


Thea mengerlingkan matanya dengan kesal saat ia sadar kalau wanita ini sedang merasa terusik karena Thea merebut posisinya di samping Allen. Thea sadar, rupanya tidak semua orang berbalik menyukainya. Buktinya, Rebeca masih tetap menunjukkan sikap tidak sukanya pada Thea.

__ADS_1


"Namanya Thea. Mulai sekarang dia akan berteman dengan kita." Terang Allen berusaha memberi penjelasan pada teman-temannya.


"WUUHHH!!! Selamat bergabung Thea, senang bisa menjadi temanmu." Lucas bertepuk tangan di udara dan mendapat balasan dari teman-temannya yang ikut bertepuk tangan.


Thea hanya tersenyum kecil, sementara Rebeca mengerlingkan matanya kesal. Kalau saja ia tidak takut Allen akan tergoda oleh Thea, mungkin ia akan lebih memilih pergi daripada berada di satu tempat yang sama dengan Thea.


"Kamu mau minum?" Tawar Lucas pada Thea. Ia menyodorkan segelas whisky yang sedang mereka nikmati.


"Tidak terima kasih. Aku tidak minum alcohol." tolak Thea dengan tegas.


"Waahh, rupanya kamu wanita langka. Mungkin di kampus kita hanya kamu yang belum pernah meneguk minuman enak ini." Entah pujian atau ledekan yang di maksudkan Lucas, namun Thea tidak merasa terganggu sedikitpun.


"Kamu terlalu berisik Lucas." Protes Allen seraya mengangkat tangannya, memberi tanda pada pelayan untuk mendekat dan membawakan minuman.


Seorang pelayan laki-laki mendekat dan Allen mengambil segelas jus untuk Thea.


"Ini tanpa alkohol." Ucap Allen sembari memberikan minuman itu pada Thea.


"Terima kasih." Dengan sennag hati menerima minuman itu.


"Sering-seringlah bergabung dengan Thea, agar kita semakin mengenal satu sama lain." Ujar Lucas yang mendapat tatapan sinis dari Allen.


"Hahahaha... Baiklah, aku hanya becanda." Ucap Lucas lagi. Ia sadar kalau Allen sepertinya memiliki rasa ketertarikan pada Thea.


"Mereka hanya bercanda." Allen berusaha mencairkan suasana yang canggung ini.


"Tidak masalah. Aku mulai terbiasa mengerti maksud pembicaraan kalian." Timpal Thea sekali lalu meneguk jus di tangannya, untuk membasahi tenggorokannya.


Allen tersenyum senang, sepertinya Thea mulai terbuka pada ia dan teman-temannya.


Sebuah deringan telepon menjeda obrolan mereka. Allen segera mengecek ponselnya dan sepertinya seseorang yang penting menghubunginya hingga membuat matanya membola.


"Nikmati pestanya. Aku permisi dulu." Pamit Allen tiba-tiba.


Thea hanya mengangguk dan membiarkan Allen pergi.


Suara ramai mulai terdengar di kejauhan dan mengundang perhatian banyak pasang mata.


"Astaga apa dia mabuk? Lihat, dia bisa sulap dengan mengeluarkan api dari telapak tangannya." Ujar salah satu teman Rebeca yang berdiri di hadapan Thea.


Thea segera menoleh ke arah yang di maksud oleh wanita itu. Matanya langsung membulat saat ia sadar kalau yang sedang menjadi pusat perhatian saat ini adalah Xavier.

__ADS_1


"Astaga, Xavier!" Cepat-cepat Thea menaruh minumannya di atas baki. Ia tidak bisa membiarkan Xavier mempertunjukkan kemampuannya. Bagaimana kalau orang-orang mencurigainya?


******


__ADS_2