Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Keputusan untuk kembali


__ADS_3

“Anda yakin akan kembali sekarang, Yang mulia?” tanya Mathew saat mendengar Thea memintanya untuk membantu ia agar bisa kembali ke kerajaan air.


“Iya Mathew. Aku rasa, semakin cepat kita kembali, akan semakin baik.” Thea dengan keputusannya yang sudah bulat.


Mathew mengangguk paham. Ia menoleh Asher yang ada di sampingnya dan tengah bermeditasi.


“Penghuni kerajaan air, sebenarnya tidak akan bisa kembali ke kerajaannya. Karena dia sifatnya seperti air. Akan menempati tempatnya yang baru, kecuali ada tempat lain yang memiliki kekuatan lebih rendah.”


“Karena itu, kita memerlukan bantuan dari penghuni kerajaan api, yang bisa berpindah kemanapun dan kapanpun. Namun meskipun begitu, mereka akan menyerap seperempat kekuatan kita saat memasuki labirin merah, pintu masuk Godland. Apa yang mulia bersedia?” Mathew menatap Thea penuh tanya.


“Iya Mathew. Aku dan Xavier sudah memutuskan kalau kami akan kembali ke kerajaan masing-masing. Kamu harus menyelamatkan apa yang bisa kami selamatkan.” Thea dengan keputusannya yang kukuh. Iapun memandangi Xavier yang sama-sama sedang bermeditasi.


“Tapi yang mulia tidak bisa bersama-sama dengan pangeran api saat di sana. Karena mungkin anda akan ikut di buru. Semua klan sedang mencari Xavier karena menginginkan kekuatannya agar bisa memimpin empat kerajaan langit.”


Thea tercenung. Ternyata benar yang dikatakan Xavier semalam. Demi keselamatan Thea, mereka harus berpisah saat tiba di Godland dan naik ke kerajaan masing-masing. Lalu apa mereka bisa bertemu lagi?


“Baik Mathew.” Keputusan itu bulat di ambil Thea. Meski berat hati karena harus berpisah dengan Xavier, namun ia tetap harus pulang.


Mathew mengangguk paham. Sepertinya keputusan Thea sudah bulat. Ia bersyukur masih ada kesempatan untuk menyelamatkan bangsanya.


Nyala api yang mengelilingi tubuh Xavier mulai padam. Xavier dan Asher sama-sama beranjak dari tempatnya dan menghampiri dua orang yang sedang menunggu mereka.


“Kalian sudah siap?” tanya Xavier pada Thea dan Mathew.


“Sudah. Kita akan masuk ke dimensi Godland melalui danau Alakea. Sekitar dua jam perjalanan menuju ke sana.” Terang Mathew.


“Baiklah. Kemarilah Thea, kita akan berangkat.” Xavier mengulurkan tangannya.


Thea pun mendekat, memberikan tangannya pada Xavier.


“Kau juga kemarilah.” Asher menunjuk tempat di sampingnya tanpa ragu.


Mathew patuh untuk mendekat.

__ADS_1


Asher memegang tangan Mathew, “Aku akan membawamu berlari dalam dimensi api. Apapun yang kamu rasakan, jangan melepaskan tanganku.” Ucap Asher pada Mathew.


“Baik.” Mathew mengangguk patuh. Ia pun menoleh Xavier, “Tolong jaga putri kerjaan air dengan baik.” Pintanya pada Xavier.


“Tidak perlu khawatir, pergilah lebih dulu.” Titah Xavier.


Mathew menoleh Thea dan gadis itupun mengangguk mengiyakan.


Dengan berat hati, Mathew pun mendekat pada Asher. Memberikan tangannya pada laki-laki itu dan tidak lama setelah itu, hanya ada cahaya api yang melesat keluar dari unit apartemen Thea.


Thea menghembuskan nafasnya kasar. Rupanya ia harus benar-benar pergi. Ia harus meninggalkan unit apartemen yang ia tinggali selama bertahun-tahun.


“Tunggu Xavier, aku mau berpamitan dulu.” Ucap Thea dengan berat hati.


“Hem, lakukanlah.” Xavier melepaskan genggaman tangannya, membiarkan Thea menyentuh sekeliling unit apartemennya yang tidak terlalu luas.


Ia pun memandangi fotonya dengan sang ayah yang tersimpan di samping tempat tidurnya. Sambil duduk di tempian ranjang, ia memandangi foto dirinya dengan sang ayah.


Ia terdiam beberapa saat, mengingat senyum Tristan yang samar diingatannya.


“Jangan bersedih Thea. Setelah urusan kita di kerajaan masing-masing selesai, kamu akan selalu punya pilihan untuk kembali ke tempat ini.” Ucap Xavier menyemangati.


Thea tersenyum kelu. Ia menaruh foto di tangannya. Ia pandangi dari kejauhan seraya berharap, kelak ia bisa kembali ke tempat ini.


Setelah meyakinkan dirinya sendiri, akhirnya Thea menghampiri Xavier kembali.


“Aku sudah siap,” ucapnya tanpa ragu.


“Tentu!”


Siapa sangka, Xavier menarik pinggang Thea dengan satu tangannya yang kokoh membuat jarak mereka sangat dekat. Mata Thea membulat sempurna, mendapat tarikan yang tiba-tiba dan intens dari Xavier.


Mata biru itu menatap Thea dengan hangat. “Jangan melepaskan pegangan tanganku, karena aku akan membawamu berlari.” Kalimat yang sama seperti yang diucapkan Asher dan entah mengapa membuat hati Thea gemetar.

__ADS_1


Thea baru sadar, di samping berat meninggalkan dunianya saat ini iapun merasa ketakutan kalau kemudian mereka akan berpisah untuk waktu yang lama.


“Aku tidak akan pergi kemanapun.” Ucap Thea. Ia melingkarkan tangannya di leher Xavier dan tiba-tiba saja,


“Cup!” ia mengecup bibir Xavier singkat. Anggap saja ini sebagai salam perpisahan mereka.


Namun tidak begitu dengan Xavier. Laki-laki itu balas mengecup Thea namun lebih dalam dan dalam lagi.


Ia seperti tengah menyesap saliva di mulut Thea, melummat habis bibir Thea dengan penuh gairah. Xavier pun merasakan hal yang sama, rasa takut akan perpisahan.


Setelah satu pagutan panjang, keduanya terengah nyaris kehabisan nafas. Mereka sama-sama tertunduk merasakan sisa gairah yang coba mereka tekan.


“Kamu sudah siap?” tanya Xavier kemudian.


“Bukankah tidak ada kesempatan untukku mengatakan tidak?” timpal Thea.


Xavier hanya tersenyum dan dalam beberapa saat, ia menjentikkan jarinya, perjalanan menuju Godland pun di mulai.


Di tepi danau Alakea saat ini keempat orang itu berada. Mereka saling berpegangan tangan dan bersiap untuk terjun ke dalam air.


Asher yang sudah tahu bagaimana caranya untuk pulang mulai melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Ia memejamkan matanya beberapa saat seperti memanggil kekuatan yang membuat danau itu terbelah. Semakin lama semakin lebar dan dalam.


“Kita akan melompat.” Ujar Asher memberi aba-aba.


“Kami akan mengikutimu.” Timpal Mathew, sementara Xavier dan Thea mengangguk sepakat.


Asher melompat lebih dulu, di susul oleh Mathew lalu Thea dan Xavier. Mereka berenang, menuju cahaya kemerahan yang ada di dasar danau. Cahaya itu seperti lingkaran, pintu masuk yang harus mereka tuju.


Satu per satu dari mereka masuk ke dalam lingkaran api itu. Mereka merasakan hawa panas yang sangat untuk beberapa saat. Mereka terus melanjutkan perjalanannya, masuk ke lorong yang lebih gelap dan hitam.


Tapi kemudian di ujung sana ada cahaya yang bisa mereka lihat. Cahaya kebiruan menuju pintu utama Godland. Tempat pertama yang akan mereka singgahi yaitu klan tanah.


****

__ADS_1


__ADS_2