
“Ini test awal kalian sebelum ujian semester yang sebenarnya. Silakan bagikan soalnya.” Ucap seorang dosen yang sedang mengisi kelas siang ini.
Para siswa mulai membagikan kertas ujian di tengah kekesalan mereka. Ada yang kesal karena belum belajar ada juga yang mengupat sang dosen yang hobby mengadakan ujian dadakan.
Sekali waktu dosen laki-laki itu menatap Thea yang sedang menuliskan namanya di lembar jawaban. Ia menghampiri Thea dan berdiri di samping Thea.
“Thea, saya suka dengan jurnal yang kamu buat sebelum libur musim semi kemarin. Pastikan ujian kali ini nilaimu bagus, agar bisa mendapatkan beasiswa tahun pelajaran ini secara penuh.” Ucap laki-laki itu.
“Baik, terima kasih.” Sahut Thea yang mengangguk sopan.
Selama ini, Thea bisa berkuliah di Universitas bergengsi ini berkat beasiswa yang ia dapatkan. Setiap semesternya ia harus meraih nilai di atas 3,7 agar beasiswanya bisa turun seluruhnya. Perjuangan yang sulit memang tapi akan lebih menyulitkan kalau Thea tidak bisa bersekolah dan mendapatkan gelar. Ia ingin bekerja di perusahaan besar sebelum bisa mewujudkan cita-citanya untuk memiliki usaha sendiri.
Dosen laki-laki itu kembali ke mejanya dan memberitahu kalau ujian segera di mulai.
“Waktu kalian enam puluh menit. Kecepatan mengumpulkan jawaban juga menjadi point penilaian.” Ucapnya seraya melepas jam tangannya lalu menaruhnya di sudut kanan meja kerjanya.
Ujian di mulai dan masing-masing mahasiwa mulai fokus dengan soal dan lembar jawabannya. Setiap soal yang di kerjakan berbentuk essay dengan standar jawaban minimal tiga puluh kata. Ya, seperti inilah belajar di jurusan ilmu komunikasi. Segala macam jawaban harus di jelaskan dengan mendetail.
Selesai kelas, Thea pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan beberapa buku dan meminjam buku baru. Ia masih berada di rak buku ilmu filsafat dan membaca satu buku yang sudah lama di carinya.
__ADS_1
Beyond Good and Evil yang ditulis oleh philosopher Friedrich Nietzsche dan di terbitkan tahun 1886 menjadi buku primadona yang dicari banyak mahasiswa belakangan ini. Namun, sejak masuk semester baru, rak tempat penyimpanan buku ini selalu kosong seperti orang-orang selalu jauh lebih dulu meminjamnya di banding Thea. Baru kali ini celahnya terisi buku bersampul merah tersebut.
Thea segera mengambilnya. Ia mulai membuka-buka buku tersebut dan membacanya sambil berdiri. Tulisan seorang philosopher memang perlu dicermati benar agar bisa di pahami secara menyeluruh.
Membuka halaman berikutnya, tiba-tiba saja selembar kertas jatuh dari sela buku. Thea segera memungut kertas itu dan membukanya. Ada sebuah gambar di sana, dimana sesosok mahluk yang di gambarkan dipenuhi api di sekujur tubuhnya menghunuskan pedang pada seseorang yang sudah bertekuk lutut di hadapannya.
Thea tercenung beberapa saat, entah siapa orang terakhir yang meminjam buku ini dan mengapa menyelipkan gambar ini di sana.
Di balik kertas ini, Thea melihat sebuah tulisan.
“Pangeran terkutuk itu telah menusuk dada kiri sang raja dan membuat sang raja menghilang dalam sekejap mata.” Begitu isi tulisan yang di baca Thea.
Entah mengapa, melihat tulisan itu Thea jadi teringat pada ucapan Eve beberapa waktu lalu. Samar-samar ia mendengar kalau Xavier adalah seorang pangeran yang di kutuk. Apa mungkin ada seseorang yang mengalami hal yang sama dengan dirinya masuk ke Godland tanpa ia sengaja dan mengetahui rahasia itu?
Seperti mengikuti petunjuk, Thea mencoba menjawab rasa penasarannta dengan menemui petugas perpustakaan. Ia ingin mengecek siapa yang terakhir kali meminjam buku ini. Baginya terlalu aneh kalau seseorang menyimpan catatan semacam ini di buku yang bebas di pinjam oleh mahasiswa manapun.
“Untuk apa kamu ingin mengetahuinya?” Tanya petugas perpustakaan yang merupakan seorang wanita.
Wanita berkacamata tebal dengan tubuhnya yang tambun itu menatap Thea dengan sinis.
__ADS_1
“Saya harus menyampaikan sesuatu.” Ucap Thea apa adanya.
Wanita itu tidak ambil pusing, ia segera mengecek di computer data peminjam terakhir buku tersebut.
“Di catatan perpustakaan tidak ada peminjam buku ini selama 10 tahun terakhir.” Ucapnya.
“Oh ya? Tapi saya mencarinya sebelum musim semi kemarin, buku ini tidak ada di tempatnya. Jadi saya pikir seseorang meminjamnya. Apa anda bisa mengeceknya lagi?” Pinta Thea dengan sungguh.
“Kamu tidak mempercayaiku?” sinis wanita itu dengan tidak suka.
“Mohon maaf, saya tidak bermaksud seperti itu. Tapi bisakah anda lihat, siapa yang terakhir kali meminjamnya? Tidak masalah sekalipun itu 10 atau 15 tahu ke belakang.” Thea dengan penuh harap.
“Computer ini hanya mencatat peminjaman dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun. Dan dalam 10 tahun ini, tidak ada yang meminjam buku tersebut. Maaf, saya tidak bisa membantu.” Ucap wanita itu dengan tegas.
Thea menghembuskan nafasnya kasar. Apa boleh buat, sepertinya ia harus menyerah.
“Baiklah. Terima kasih.” Ucap Thea.
*****
__ADS_1