Terikat Takdir Dengan Serigala

Terikat Takdir Dengan Serigala
Pohon apel


__ADS_3

Sebuah perkelahian tengah terjadi di depan apartemen Thea. Dua orang laki-laki berhadapan dan saling menatap dengan penuh kemarahan. Masing-masing menunjukkan kemampuannya untuk menjatuhkan lawan.


Thea dan Xavier yang baru tiba, seperti masuk ke dalam pusaran waktu yang terhenti. Orang-orang yang berada di jalanan, kendaraan yang melintas, seekor anak kucing yang sedang berlari, bahkan dedaunan yang jatuh berhenti bergerak. Yang bergerak hanya dua orang yang sedang saling beradu kekuatan.


Asher dengan bola api di tangannya, bersiap memberikan serangan pada Allen yang melindungi dirinya dengan perisai air. Ralat, Mathew.


Hanya dengan satu gerakan tangan, Asher melemparkan bola api itu pada Mathew yang berusaha membalas dengan bola air yang sudah ia kumpulkan di tangannya. Suara desiran api itu bertemu dengan bola air dan, “BHAM!!!” kedua kekuatan itu beradu membuat kedua pemiliknya jatuh terpental.


“Trang!” Tiang listrik ikut ringsek saat terhantam serangan membabi buta ini dari dua rival tersebut.


Asher meringis kesakitan sambil memegangi perutnya karena kekuatannya kalah besar dari Mathew yang merupakan pangeran kerajaan air.


Mathew pun terhuyung, namun ia masih bisa bertahan pada kaki-kaki kokoh yang menopang tubuhnya.


Merasa unggul dari lawannya, Mathew yang lebih kuat di antara keduanya, segera mengangkat tangannya untuk ia arahkan pada Asher.


“AKH!” Asher meringis kesakitan saat Mathew berhasil menguasai aliran darah di dalam tubuhnya. Sel-sel darahnya seperti berubah menjadi bijih-bijih besi yang tajam dan melukainya dari dalam.


“Uhuk!” Asher terbatuk, dari mulutnya ia mengeluarkan darah segar.


“Mathew berhenti!” seru Thea yang mengangkat tangannya dan balas mengendalikan cairan di dalam tubuh Mathew.


“Akh!” Mathew kesakitan dan usahanya untuk menyerang Asher terhenti.


“Xavier, kita harus menghentikan mereka!” Seru Thea yang segera mendekat ke arah Mathew yang terdekat darinya.


Xavier segera menuruti. Saat Asher hendak menyerang Mathew, Xavier menyerangnya lebih dulu dan membuat Asher kembali terjungkal karena mendapat serang tiba-tiba dari Xavier.


“BRUK!” Asher terjatuh menghantam pohon pinus yang berada di belakangnya.


Dua orang yang sedang berkelahi itu berhasil di lumpuhkan. Xavier segera menghampiri Asher sementara Thea menghampiri Mathew.


“Kamu baik-baik saja?” Tanya Thea pada Mathew.


“Kenapa yang mulia menghentikanku? Aku hampir menghabisi mahluk dari kerajaan api itu. Mereka yang sudah menyerang klan air di Godland dan membuat kerusakan!” Mathew berusaha bangkit sambil meringis menahan sakit. Ternyata pengendalian Thea cukup membuat sekujur tubuhnya melemah.


“Aku tahu. Tapi kalian tidak bisa bertarung di sini. Kamu tidak melihat kehancuran yang ada di sini?” Tunjuk Thea pada beberapa tempat yang hancur akibat perbuatan dua orang ini.


“Dia yang menyerangku lebih dulu!” Tunjuk Mathew pada Asher.


“Kau yang menghadangku menuju tempat tinggal pangeran api.” Asher balas menunjuk. Ia terduduk di bantu Xavier.


“Maksudmu laki-laki di sampingmu itu pangeran dari kerajaan api?” Mathew menatap Asher tidak percaya.


Asher menyeringai penuh kemenangan. “Tentu saja. Mau mencoba melawannya?” Tantang Asher dengan jumawa.


“Apa maksudmu Asher?! Aku menghentikan kalian karena tidak ingin ada pertarungan di sini.” Bantah Xavier.


“Tapi dia musuh kita pangeran. Kita harus menghabisinya.” Asher bersikeras dengan pilihannya.


“Jangan bodoh! Thea lah yang membantuku terbebas dari kutukanku!” Seru Xavier tidak terima.


“Maksud anda wanita dengan aura jingga itu?” Asher menatap Thea tidak percaya.


“Iya. Thea adalah putri dari ratu kerajaan air.” Aku Xavier. Ia bangkit dari tempatnya setelah membantu Asher terduduk.


“Ta-tapi, kenapa auranya jingga, tidak biru seperti penghuni kerajaan air pada umumnya?” Asher sampai tergagap karena kaget.


“Karena ayahnya adalah seorang manusia.” Terang Xavier seraya menatap Thea.


“Oh jadi benar, ratu kerajaan air adalah seorang pengecut yang melarikan diri dengan manusia?” Ledek Asher.


“Hey, jaga ucapanmu!” Seru Mathew seraya menampar Asher dengan bola api di tangannya.


“SIAL!!” Dengus Asher tidak terima. Ia hampir membalas Mathew namun Xavier menahannya.


“Jaga ucapanmu, karena Thea akan menjadi ratuku.” Ucap Xavier dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


“Apa?!” Seru Mathew dan Asher bersamaan.


Bagaimana mungkin klan air dan api Bersatu?


****


Di apartemen Thea saat ini tiga pria itu berada. Xavier, Asher dan tentu saja Mathew. Thea tengah mengobati Asher yang terluka lebih parah di banding Mathew.


“Apa anda yakin akan mengobati penghuni kerajaan api ini Yang mulia?” Mathew dengan tatapan sinisnya, tidak terima.


“Mana mungkin aku membiarkan begitu saja seseorang yang terluka sementara aku bisa membantunya?” Sahut Thea penuh keyakinan.


Ia mulai memejamkan matanya dan menyentuh area luka di perut Asher.


“Harusnya, kalau dia tahu batas kemampuannya, maka tidak perlu melawanku.” Decik Mathew dengan tidak suka.


Thea mengabaikan begitu saja ucapan Mathew dan lebih fokus mengobati Asher.


Membiarkan Thea mengobati Asher, Xavier menghampiri Mathew. Laki-laki itu langsung waspada khawatir Xavier menyerangnya.


“Jangan khawatir, aku tidak mungkin menyerangmu. Aku hanya ingin bertanya.” Ucap Xavier menenangkan Mathew.


“Apa yang mau kau tanyakan?” Mathew tetap saja waspada pada Xavier.


“Apa benar di Godland terjadi kekacauan?” Xavier bertanya dengan penasaran.


“Ya benar! Klan api membuat kekacauan dengan menyerang klan lain demi menambah kekuatan mereka. Aku dengar api abadi satu per satu mulai padam dan kerajaan api di dera kegelapan. Sedikit demi sedikit kekuatan penghuni kerajaan api mulai melemah sehingga untuk mempertahankan nyawanya mereka turun ke Godland dan menyerang klan lain. Menyebalkan!” Decik Mathew tidak suka.


Ia masih mengingat berapa banyak nyawa yang melayang karena serangan dari penghuni klan api.


Mendengar penuturan Mathew, Xavier tampak berpikir. Ia bisa membayangkan bagaimana ricuhnya keadaan di kerajaan api dan tentu saja Godland.


“Apa kau tidak berniat pulang? Katanya keturunan asli raja yang bisa menyalakan kembali obor-obor api abadi. Tapi rasanya tidak mungkin, kau kan sedang di buru. Mungkin akan lebih baik kalau aku atau tuan putri kami membunuhmu dan menggunakan darahmu untuk persembahan agar kelak kami yang berkuasa.” Ucap sinis Mathew.


Ia mendekat pada Xavier dan mencengkram kerah baju Xavier. Xavier tidak melawan, ia hanya memandangi tangan Mathew yang menggenggam kerah lehernya.


“Ayolah tuan putri, kita bisa memanfaatkan ini!” Tolak Mathew.


“Sejak dulu, yang bisa menghadapi raja kerajaan api hanya ratu kami di kerajaan air. Kalau saja ratu kami tidak pergi ke dunia ini, mungkin kerjaan kami lah yang akan menjadi penguasa di empat kerajaan yang ada di semesta ini.” Lanjut Mathew dengan menggebu-gebu.


“Apa kamu juga berpikir yang sama?” Kali ini Xavier menoleh Thea.


“Kenapa bertanya padaku? Pikirmu orang yang akan menghancurkanmu akan mau menolong kaummu?” sinis Thea, tidak suka dicurigai.


“Akh sial!” Dengus Xavier kesal. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, ia masih belum bisa berpikir jernih bahkan mencurigai Thea.


“Benar tuanku, sebaiknya anda kembali ke kerajaan api. Semua orang menunggu kepulangan tuanku untuk menyalakan kembali obor api abadi.” Bujuk Asher yang mulai bersuara.


“Aku tidak bisa kembali sebelum aku menemukan cara untuk membuktikan kalau aku tidak pernah berniat membunuh ayahku. Itu sebuah kecelakaan.” Xavier bersikukuh dengan pilihannya.


“Lalu apa kamu akan menemukan cara dan buktinya di sini? Atau kamu hanya sedang lari karena sadar sedang di buru?"


"Kau harus tau, siapapun yang berhasil membunuhmu dan meminum darah sucimu maka dia yang akan menjadi penguasa dan raja terkuat.” Ucap Mathew yang menatap tajam Xavier.


“Mathew!” Thea berusaha mengingatkan.


“Saya serius yang mulia. Kenyataannya memang seperti itu!”


“Dia tidak mungkin menemukan cara untuk membuktikan ketidakbersalahannya di dunia ini. Dia hanya sedang berlari dari kenyataan seperti seorang pengecut!” Hasut Mathew.


“JAGA UCAPANMU!” Adalah Asher yang sedang naik pitam.


“DIAM!” Gertak Xavier yang ikut bingung dengan kondisinya. Harus ia akui, mungkin ucapan Mathew ada benarnya juga. Ia hanya sedang berlari seperti pengecut, seperti serigala yang selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menghindari serangan.


Suasana di dalam apartemen kemudian hening. Thea bisa melihat kegundahan yang terlihat di wajah Xavier.


“Thea! Thea!” Panggil seseorang di pintu apartemen, yang berhasil mengalihkan pikirannya. Thea mengenali suara itu sebagai suara Emily.

__ADS_1


“Kalian bersembunyilah. Aku tidak mau ada masalah di sini.” Ucap Thea dengan segera. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa jika Emily bertanya mengapa banyak pria di dalam unit apartemennya.


Ketiga laki-laki itu menurut. Dalam sekejap mata mereka menghilang dan bersembunyi di satu tempat yang sama, yaitu kamar mandi.


“Sial! Kenapa aku harus bersama kalian?” Dengus Mathew dengan kesal.


“Diamlah, atau aku akan melenyapkanmu bersamaan dengan air toilet!” Ancam Xavier. Ia sudah malas untuk berdebat.


Akhirnya Mathew hanya bisa diam, menakutkan juga ia yang sendirian, bersama dua orang dari kerajaan api. Kemungkinan ia yang akan kalah dan babak belur.


“Selamat malam nyonya Emily,…” sapa Thea saat ia membuka pintu.


“Selamat malam Thea. Maaf mengganggu waktumu.”


“Apa kamu mendengar suara petir beberapa saat lalu?” Tanya wanita tua itu yang tampak bingung dan ketakutan.


“Tidak nyonya. Memangnya ada apa?” Thea mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


“Pohon apel milikku tiba-tiba mati seperti tersambar petir. Tapi aku tidak merasa mendengar suara petir. Apa mungkin tadi ada petir saat aku tertidur?” Lanjut Wanita itu.


Thea tersenyum bingung dengan pertanyaan Emily. Ia bisa menduga kalau pohon apel itu pasti terbakar oleh Asher saat ia menyerang Mathew.


“Saya tidak yakin nyonya. Tapi nanti saya coba lihat pohon apelnya.” Thea terpaksa berbohong.


“Astaga, sayang sekali. Padahal pohon apel itu sudah berumur lebih dari 7 tahun. Buahnya pun sangat banyak.” Gumam Emily dengan wajah sedihnya.


“Saya turut menyesal nyonya.” Ungkap Thea dengan sesungguhnya.


“Baiklah Thea, selamat malam. Mungkin tahun ini kita tidak akan makan apel manis lagi.” Pamit Emily dengan wajah sedih.


“Selamat malam nyonya Emily,…” Thea ikut menyesalkan.


Setelah Emily pergi, Thea segera menutup pintu unit apartemennya.


“Kalian, keluarlah!” Panggil Thea dengan kesal.


Ketiga pria itupun keluar dengan wajahnya yang terlihat merasa bersalah. Mereka jelas mendengar perbincangan Thea dengan wanita tua bernama Emily itu.


“Kalian sudah mendengar bukan, kalau pohon apel nyonya Emily terbakar? Apa yang bisa kalian lakukan sekarang untuk mempertanggung jawabkannya?” Thea menatap Asher dan Mathew bergantian.


“Dia harus menggantinya! Karena dia yang membakar pohon apel itu.” Mathew menunjuk Asher.


“Tidak, kau yang harus menggantinya! Aku hanya membalas seranganmu yang tiba-tiba itu!” tolak Asher dengan enggan. Ia juga tidak tahu bagaimana cara ia menghidupkan kembali pohon apel itu.


“Apa kita beli pohon apel yang baru?” saran Xavier.


“TIDAK MUNGKIN!” Seru ketiga orang itu bersamaan. Mereka tampak berpikir dengan serius.


"Aku hanya memberi saran." Xavier berucap kesal.


“Apa kita bisa menghidupkannya kembali?” Tanya Thea pada Mathew.


“Kemungkinan bisa tapi itu bukan tanggung jawab kita.” Tolak Mathew dengan sikapnya yang acuh.


“Ayolah Mathew, ini perintah.” Ucap Thea sedikit garang.


“Astaga, ini sangat menyebalkan.” Walau tidak mau, akhirnya Mathew tetap pergi. Ia tidak mungkin menolak permintaan Thea.


“Dan kalian berdua, pergilah. Aku sedang ingin sendiri.” Kali ini Xavier dan Asher yang di minta pergi.


“Apa aku boleh kembali?” Tanya xavier yang menunjuk hidungnya sendiri.


“Tidak untuk sekarang.” Thea menunjuk pintu sebagai permintaan agar kedua orang itu segera pergi.


Kedua laki-laki itupun menurut, menyusul Mathew keluar dari apartemen. Sementara Thea, setelah apartemennya kosong, ia memilih untuk duduk di atas tempat tidurnya. Ia mencoba bermeditasi untuk memulihkan tenaganya yang seperti terkuras karena mengobati Asher. Ia perlu waktu untuk menyehatkan fisik dan psikisnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2