Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 09


__ADS_3

Gina yang belum menyadari dasar dari Omelan Reyhan, langsung memeriksa apa yang dia pakai, raut wajahnya menggambarkan kalau dia pun sama terkejutnya, karena seingatnya malam tadi ia mengenakan jins dan baju lengan panjang. ''Baju siapa ini, dan siapa yang menggantikan pakaian ku,'' gumam Gina yang terdengar jelas oleh Reyhan.


Reyhan memicingkan matanya, mengingat-ingat kalau tadi malam memang Gina memakai pakaian yang tertutup tapi pakaian itu basah oleh air hujan dan dia sendiri yang meminta Eza, adiknya, menyuruh Bi Minah pembantu mereka untuk menggantikan pakaian Gina.


''Za.....!!!!'' panggil Reyhan dengan berteriak, tidak berselang lama Eza pun datang dengan tergopoh-gopoh karena panggilan kakaknya.


''Apa? kenapa? ada apa kakak memanggil ku begitu?'' tanya Eza dengan panik.


''Semalam saya meminta mu untuk menyuruh Bi Minah ke kamar tamu kan?'' Eza pun mengangguk.


''Lalu?'' lanjut Reyhan yang menggantung ucapannya sengaja menunggu jawaban dari Eza.


''Lalu? lalu apa kak?''


''Kenapa dia memakai pakaian kurang bahan begitu?'' tanya Reyhan dengan wajah yang memerah entah karena gugup atau marah tidak ada bedanya.


''Kurang bahan?'' Eza menoleh ke arah Gina yang masih membungkus dirinya dengan selimut yang sangat tebal itu. ''Coba aku lihat,'' tanpa tau rasa malu atau memang Eza yang begitu polos, dia sudah bersiap akan melihat apa yang di pakai Gina, namun sebelum tangan nya sampai meraih selimut Gina, sebuah benda sudah melayang ke arahnya dan hampir saja mengenai kepalanya.


Braakkkkk...


''Kau ini punya rasa malu tidak!'' lagi-lagi Reyhan mengeluarkan suara tinggi nya.


''Ish, kakak ini sebenernya kenapa sih, aku kan hanya ingin memastikan kalau apa yang kakak bilang itu benar,'' sahut Eza.


''Jangan banyak bicara kamu, kenapa dia bisa memakai pakaian begitu?''

__ADS_1


''Ya mana aku tahu.''


''Panggil Bi Minah, cepat!'' perintah Reyhan pada Eza eza yang langsung pergi untuk memanggil pembantu itu.


Gina yang melihat pertikaian antara kakak dan adik itu hanya diam dengan wajah bingung nya, matanya melirik ke bawah melihat pakaian yang menurutnya masih wajar bagi nya namun tidak untuk Reyhan yang memang merasa jijik melihat wanita berpakaian tak senonoh seperti itu.


''Apanya yang salah, aku hanya memakai tank top dan celana pendek, bukan memakai ********** saja.'' Reyhan yang mendengar gumaman Gina hanya bisa menggeleng dan memutar bola matanya dengan jengah.


Beberapa saat kemudian seorang wanita tua datang dengan Eza yang membuntut di belakang nya. '' Permisi, maaf apa Aden memanggil bibi?'' tanya nya dengan sopan.


''Apa bibi yang menggantikan pakaian dia?'' tanya Reyhan menunjuk ke arah Gina dan wanita tua yang di panggilnya bibi itu mengikuti arah dimana Reyhan menunjuk.


''Benar Den, bibi yang gantikan pakaian non itu,'' sahutnya.


''Ck, kenapa bibi pakaikan dia baju yang seperti itu, bagaimana kalau ada orang lain masuk dan melihat nya yang berpakaian begitu, apa tidak akan terjadi sesuatu nanti nya.''


''Ssssttt, Gin,'' panggil Eza agar ginay melihat ke arahnya.


''Kenapa?'' sahut Gina dengan berbisik.


''Emangnya lu pake baju apa sih, sampe ka Reyhan marah-marah begitu?'' tanya Eza dengan kembali memakai bahasa gaul anak-anak muda sebayanya.


''Emang kenapa?''


''Enggak…, gue penasaran aja, coba gue liat,'' bisik Eza lagi, baru saja Gina akan memperlihatkan apa yang saat ini ia kenakan pada Eza, Reyhan sudah menyuruh Eza untuk keluar dari dalam kamar karena tahu apa yang akan di lakukan anak itu di belakangnya.

__ADS_1


''Za, cepat keluar!''


''Astaga, dasar pengganggu,'' Eza pun keluar dengan hati yang kesal karena kakaknya, begitu juga bi Minah yang di suruh keluar oleh Reyhan dan tinggalah mereka berdua saja di kamar yang pintunya di biarkan terbuka itu.


''Bersihkan dirimu, saya sudah meminta bi Minah untuk menyiapkan pakaian yang pantas untuk mu, Nenek sudah menunggu kamu di bawah.'' Reyhan pun pergi dari sana tanpa ingin melihat langsung wajah Gina, menutup pintu dengan sedikit kasar tapi tidak membuat Gina terkejut.


''Pantas saja dia enggak punya pacar, sikapnya kasar begitu siapa juga yang mau dengan nya,'' celotehnya dengan berspekulasi mengenai Reyhan sambil berlalu ke kamar mandi, dengan meninggalkan selimut di bawah lantai begitu cueknya, lalu menghilang di balik pintu kamar mandi yang berbahan kaca itu.


Di meja makan yang luas, hanya ada tiga orang yang duduk di sana dengan berbagai macam hidangan yang sudah di siapkan oleh pembantu rumah mewah itu.


Nenek Madam itulah sebutan untuk beliau, nenek yang berniat menjodohkan cucu sulung nya dengan seorang gadis yang dia temui di sebuah rumah sakit dan mengambil keuntungan dari kesulitan si gadis tersebut.


Nenek memperhatikan dua orang yang duduk di depannya, yaitu kedua cucu lelakinya, Reyhan dan Eza. Kedua cucunya terlihat sedang tidak bersahabat kali ini, entah karena apa, sang nenek pun bingung namun tidak membuat ia ingin tahu persoalan di antara kedua cucu nya.


Sembari tangannya menyendokkan nasi beserta lauk dari piring, sang nenek seraya bertanya, ''kemana Gina?'' namun keduanya hanya diam dengan sesekali saling melirik tajam.


Lama tidak ada jawaban dari Reyhan maupun Eza atas pertanyaan sang Nenek, tapi baru saja Eza akan membuka mulut untuk mengucapkan sesuatu, suara deru langkah membuat mereka seketika menoleh bersamaan ke arah suara itu berasal. Ya Gina melangkah menuju ruang makan dengan pakaian yang sudah di siapkan pembantu yang di perintahkan langsung oleh Reyhan untuk Gina kenakan.


Eza yang terpaku melihat Gina dan Reyhan yang seakan-akan menghindari pandangan dari sosok gadis menyebalkan itu, wajah Reyhan memerah serta bersikap salah tingkah karena mengingat penampilan Gina bangun tidur tadi yang dia lihat.


Dengan wajah tersenyum, Gina melangkah riang ke arah Nenek Sari dan tanpa permisi terlebih dahulu Gina langsung duduk tepat di samping nenek dari Reyhan dan Eza itu.


''Kau telat 10 menit, anak nakal,'' ucap nenek Sari sedikit mengomeli Gina yang ternganga mendengar nya, ya nenek Sari salasatu orang yang sangat menghargai waktu sehingga mengajarkan cucu-cucu nya tentang kedisiplinan dan itu tidak pernah Gina pelajari dari lingkungan sekitar nya.


''Maaf nek, tadi aku bingung menggunakan kamar mandi yang ada di kamar,'' jawab Gina dengan polosnya, Nenek Sari tidak menyahut karena ia memaklumi Gina, nenek hanya mengangguk dan menyuruhnya untuk segera mengambil makanan.

__ADS_1


Satu sendok, dua sendok dan ke tiga kalinya ia menyuap, matanya melirik ke arah tiga orang yang makan tanpa berinteraksi. Dan matanya sedikit memicing melihat Reyhan yang seperti sedang menghindari pandangan juga melihat wajahnya yang sedikit memerah. ''Pak Reyhan?'' panggil Gina pada Reyhan namun semua ikut menoleh.


__ADS_2