Terjebak Perjodohan Kontrak

Terjebak Perjodohan Kontrak
Bab 28 - Cemburu


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini, laki-laki dewasa yang sudah menetapkan hatinya pada seorang gadis belia, sedang di landa kerisauan. Galau? ya mungkin itu yang sering di katakan pada anak-anak jaman sekarang.


Reyhan yang sangat di kenal sebagai penggila kerja, hari ini membuat asisten pribadinya, Aska terheran-heran. Karena pasalnya Reyhan menolak semua tamu yang datang juga menunda semua meeting yang sudah terjadwalkan.


Entahlah ada musibah apa yang Reyhan alami, semua karyawan pun bertanya-tanya. Terlebih lagi Aska yang sebagai salah satu orang yang harus memutar otak karena sikap aneh Reyhan hari ini.


Aska di sibukkan dengan pekerjaan yang semuanya ia handle seorang diri juga harus sibuk karena direktur utama PT Permana. Yang tidak sama sekali berselera makan dan membuat dirinya ikut bertanggung jawab atas kesehatan pewaris perusahaan Permana Company, atas perintah nenek madam Sari.


"Astaga, mending ngurus kebo sekandang dari pada ngerayu pak Reyhan untuk makan," keluh Aska yang sudah kehabisan akal.


Reyhan yang masih di ruangan nya, terus saja bergelut dengan ponselnya, mengetikan pesan pada Gina yang sudah tak terhitung banyaknya pesan, yang ia kirim namun belum juga menerima balasan setelah Gina mengirimkan pesan yang mengatakan ia sedang sibuk.


Merasa tidak bisa lagi diam, Reyhan pun beranjak dari sana berlalu keluar ruangan, bahkan sapaan para pegawai pun tidak sama sekali ia idahkan. Berjalan menatap lurus ke depan dan panggilan Aska juga tidak ia sahuti.


Membawa mobil dengan sedikit arogan, kemana Reyhan yang selalu hati-hati dan teliti? entahlah. Mungkin perasaan nya lah yang kini merasuk ke dalam jiwanya sehingga tidak bisa lagi memikirkan hal lain selain Gina, gadis yang berhasil membuat laki-laki dingin seperti nya kelabakan hanya karena tidak mendapatkan kabar dan balasan atas pesan nya.


Roda berpelek senilai puluhan juta itu berhenti di sebuah rumah sederhana milik Gina, Reyhan keluar dari mobilnya untuk mencari Gina di dalam, namun belum juga ia mengetuk pintu, seorang tetangga yang berada di sebelah rumah sudah memberitahu kalau penghuni rumah sudah keluar sejak pagi tadi.


Reyhan pun meninggalkan pemukiman itu untuk mencari Gina ke tempat lain, "Kampus?" gumam Reyhan dan kemudian tangan nya dengan lincah membelokan stirnya ke arah selatan untuk menuju kampus tempat Gina berkuliah.


Sesampainya ia di sana. Reyhan segera bergegas menuju kumpulan mahasiswa yang berada di anak tangga menuju gedung. Dengan sopan Reyhan menanyakan keberadaan Gina namun mereka tidak mengenal nama Gina. "Fakultas apa, Om?" tanya salasatu dari mereka.


"Eum, ekonomi. Ya ekonomi."


Jawab Reyhan yang sedikit tidak merasa yakin karena memang dirinya tidak terlalu mengetahui apa yang di ambil Gina.


"Oh, Anda bisa tanyakan pada mereka. Mereka juga dari fakultas ekonomi."


Setelah bertanya dan mendapatkan informasi yang ternyata Vlora dari fakultas ekonomi memang tidak datang ke kampus karena hari ini tidak ada kelas. Reyhan berpikir lagi kemana selanjutnya ia mencari keberadaan Vlora.


"Kamu di mana, Gin. Mas khawatir dengan keadaan mu." gumam Reyhan dengan nada putus asa.

__ADS_1


"Ah! Caffe!"


Menarik perseneling dan menginjakkan kakinya pada pedal gas. Reyhan meninggalkan area kampus menuju caffe tempat pertama kali ia berjumpa pada gadis manis itu.


Citt!!


Suara rem berdecit keras, melepaskan seat belt lalu berniat segera keluar dari mobil. Namun matanya tiba-tiba menangkap sebuah seluet pemandangan yang membuat nya mengurungkan niatnya untuk keluar. Matanya menatap tajam dengan di selingi urat-urat leher yang menegang.


Dari jarak beberapa meter tepatnya di samping bangunan caffe dengan disain minimalis. Reyhan melihat Gina sedang berbincang dengan seorang pria. Tertawa dengan leluasa bagaikan tidak ada beban karena menolak panggilan dari calon suaminya, dan juga tidak penah membalas pesannya.


Menghela nafasnya dengan panjang, memejamkan matanya agar bisa sedikit lebih tenang.


Di tempat Gina dan seorang pria berdiri. Gina yang sejak pagi tadi murung akhirnya bisa tertawa karena tingkah konyol pria itu. "Fan, udah ah. Sakit perut gue," ucap Gina yang lelah tertawa.


"Kan begini lebih cantik. Dari pagi gue liat bibir lu monyong aja. Coba cerita sama gue," ucap seorang pria bernama Irfan, teman kerja Gina.


"Nggak ada kok. Cuma lagi ga mood aja. Tapi makasih ya, karena lu mood gue sedikit lebih tenang."


"Anda siapa?" tanya Irfan dengan mimik muka yang kesal.


Reyhan hanya diam dengan menatap tajam langsung ke matanya.


"Astaga, Om! oh maaf Om!" ucap Irfan lagi yang kemudian baru mengingat Reyhan, namun ia mengenalnya adalah sebagai paman Gina sesuai apa yang di katakan Gina waktu dulu saat memperkenalkan Reyhan padanya.


Reyhan beralih menatap Gina yang juga menatap ke arahnya. "Mas?" lirih Gina.


Reyhan melirik kembali pada Irfan dan Gina pun mengambil inisiatif untuk meminta Irfan agar mengambilkan minum untuk Reyhan. Setelah Irfan pergi. Gina langsung menarik tangan Reyhan menjauh dari sana.


"Mas sedang apa disini?"


"Sedang apa? mas mencari mu, Gin!"

__ADS_1


"Kan Gina sudah katakan, kalau Gina sedang sibuk-"


"Sibuk bercanda dengan laki-laki lain, iya!"


Reyhan menyela ucapan Gina, yang seketika terdiam. Dia dapat melihat raut wajah Reyhan yang menggambarkan kekhawatiran juga rasa cemburu yang menggebu-gebu, karena melihat nya dengan laki-laki lain. Tapi bukan itu yang sebenarnya terjadi.


"Mas pergi dulu. Nanti Gina menyusul ke kantor," ucapnya setelah membisu beberapa saat.


"Kenapa? apa kamu malu karena tengah bersama pria tua seperti ku?!" mulut Gina ternganga mendengar penuturan Reyhan. Bahkan ia tidak sama sekali berpikir sejauh itu.


"Kenapa kamu belum juga mengatakan pada teman-teman mu, kalau mas ini calon suami mu, bukan paman mu, Gin?!"


"Mas Gina mohon. Mata orang-orang sedang tertuju pada kita," lirih Gina.


"Mas tidak peduli!"


Menghela nafasnya dengan panjang Gina pun menarik tangan Reyhan dan mencari keberadaan mobil milik calon suami nya itu. Lalu menuju sebrang jalan tempat Reyhan memarkirkan mobilnya.


Gina meminta Reyhan masuk, barulah Gina juga ikut masuk ke dalamnya. Reyhan menghela nafas begitu berat, karena dirinya memang sedang benar-benar marah. "Bagaimana? apa yang akan kamu katakan pada mas?"


"Mas, aku sedang sibuk. Bukan sibuk tertawa pada laki-laki lain seperti yang Mas tuduhkan tadi. Pikiran Gina sedang kacau maka dari itu Gina pergi untuk kembali bekerja di sini," jelas Gina.


"Kacau? kenapa?"


"Gina nggak bisa bilang."


"Kenapa? aku kan calon suami mu, Dek."


Gina terhenyak mendengar nya, ya benar! kalau Reyhan ini adalah calon suami nya tapi ada suatu hal yang ingin sekali Gina katakan saat ini. Terdiam sejenak dan mengambil nafasnya dalam-dalam setelah itu Gina pun berniat untuk mengutarakan nya.


"Mas?" Reyhan menolehkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa mas yakin dengan hubungan kita? eum maksud ku, apa mas yakin akan menikahi ku?"


__ADS_2